Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Vitamin D Diam-diam Perbaiki Kesehatan Usus, Jarang Disadari!

5 Cara Vitamin D Diam-diam Perbaiki Kesehatan Usus, Jarang Disadari!
ilustrasi sistem pencernaan (magnific.com/stockking)
  • Vitamin D dikaitkan dengan komposisi dan keragaman mikrobioma usus, tetapi bukti klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan manfaat suplementasi secara langsung.
  • Vitamin D mendukung lapisan pelindung usus melalui protein tight junction serta membantu menyeimbangkan respons imun dan mekanisme antiinflamasi di saluran pencernaan.
  • Kadar vitamin D rendah berkaitan dengan kondisi radang usus dan hasil kesehatan yang kurang baik, namun vitamin D bukan pengganti pengobatan medis atau konsumsi berlebihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Vitamin D selama ini memang lebih sering dikenal karena perannya dalam menjaga kesehatan tulang. Padahal, vitamin yang bisa kamu dapatkan dari paparan sinar matahari ini juga punya hubungan cukup dekat dengan kesehatan usus, lho. Mulai dari membantu menjaga lapisan usus sampai ikut mengatur respons imun, perannya ternyata cukup luas.

Bahkan, kadar vitamin D dalam tubuh juga dikaitkan dengan kondisi mikrobioma usus yang menjadi rumah bagi triliunan mikroorganisme. Lalu, apa saja cara vitamin D mendukung kesehatan usus yang mungkin selama ini jarang kamu sadari? Berikut penjelasannya.

  1. 1. Membantu menjaga keseimbangan bakteri usus

    ilustrasi sistem pencernaan
    ilustrasi sistem pencernaan (magnific.com/magnific)

    Perlu diketahui, di dalam ususmu hidup triliunan mikroorganisme yang berperan dalam proses pencernaan, penyerapan nutrisi, sampai fungsi sistem imun. Kumpulan mikroorganisme ini dikenal sebagai mikrobioma usus dan kondisinya perlu tetap seimbang agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Vitamin D ternyata diduga ikut berperan dalam memengaruhi komposisi serta keragaman bakteri di dalam usus. Menurut penelitian dalam Journal of Research in Medical Sciences, status vitamin D berkaitan dengan perubahan komposisi mikrobioma dan keragaman bakteri usus.

    Menariknya, beberapa penelitian menemukan bahwa kadar vitamin D yang lebih tinggi berkaitan dengan mikrobioma yang lebih beragam. Keragaman mikrobioma sendiri sering dianggap sebagai salah satu tanda yang berkaitan dengan kesehatan usus. Meski begitu, hubungan ini belum bisa diartikan bahwa semakin banyak vitamin D yang kamu konsumsi pasti langsung membuat bakteri usus menjadi lebih sehat. Menurut penelitian dalam Gut Microbes, masih dibutuhkan lebih banyak uji klinis pada manusia untuk memastikan apakah suplementasi vitamin D benar-benar dapat memperbaiki keseimbangan mikrobioma secara langsung.

  2. 2. Membantu memperkuat lapisan pelindung usus

    ilustrasi makan
    ilustrasi makan (magnific.com/magnific)

    Ususmu bukan sekadar tempat makanan dicerna, lho. Di sana terdapat lapisan yang berfungsi seperti pagar pembatas, yaitu membiarkan nutrisi masuk ke aliran darah sekaligus membantu menahan zat berbahaya supaya gak melewati dinding usus. Vitamin D ikut mendukung fungsi lapisan tersebut melalui pengaruhnya terhadap protein yang disebut tight junction. Protein ini membantu merekatkan sel-sel usus sehingga lapisan pelindungnya tetap rapat.

    Menurut penelitian dalam Acta Histochemica et Cytochemica, reseptor vitamin D atau vitamin D receptor (VDR) banyak ditemukan pada sel-sel usus dan berperan dalam menjaga fungsi lapisan usus. Ketika kadar vitamin D rendah, kondisi tersebut dikaitkan dengan meningkatnya permeabilitas usus atau keadaan ketika lapisan usus menjadi lebih mudah ditembus. Gangguan pada lapisan pelindung ini juga berkaitan dengan peradangan di saluran pencernaan. Karena itu, mencukupi kebutuhan vitamin D bisa menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga fungsi pelindung usus tetap optimal.

  3. 3. Membantu mengatur respons imun di usus

    ilustrasi virus
    ilustrasi virus (vecteezy.com/Bakemon)

    Tahukah kamu kalau usus juga menjadi salah satu area penting bagi sistem kekebalan tubuh? Sistem imun diketahui terus berhadapan dengan berbagai bakteri, zat dari makanan, dan mikroorganisme lain yang masuk melalui saluran pencernaan. Vitamin D ikut berperan dalam mengatur aktivitas sistem imun tersebut agar responsnya tetap seimbang. Jadi, fungsinya bukan sekadar membantu tubuh menghadapi ancaman, tapi juga membantu mencegah respons imun yang terlalu berlebihan.

    Menurut penelitian dalam International Journal of Molecular Sciences, vitamin D dapat memengaruhi respons imun di lingkungan usus dan membantu mendukung mekanisme antiinflamasi. Hal ini menjadi perhatian khusus dalam kondisi yang melibatkan peradangan usus secara terus-menerus, termasuk penyakit radang usus atau inflammatory bowel disease (IBD). Meski demikian, vitamin D bukanlah pengobatan tunggal untuk kondisi tersebut. Perannya lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang ikut mendukung keseimbangan fungsi imun di saluran pencernaan.

  4. 4. Mendukung pertahanan alami terhadap bakteri berbahaya

    ilustrasi ikan salmon
    ilustrasi ikan salmon (unsplash.com/Caroline Attwood)

    Selain mengatur sistem imun, vitamin D juga membantu tubuh dalam menjalankan pertahanan alami terhadap mikroorganisme yang berpotensi merugikan. Salah satu caranya adalah dengan mendukung produksi peptida antimikroba, termasuk cathelicidin. Zat tersebut membantu tubuh mengendalikan pertumbuhan bakteri dan menjadi bagian dari sistem pertahanan alami di saluran pencernaan. Dengan begitu, vitamin D turut berkontribusi dalam membantu menciptakan lingkungan usus yang lebih terkendali.

    Menurut penelitian dalam Acta Histochemica et Cytochemica, vitamin D melalui VDR dapat memengaruhi berbagai mekanisme yang berhubungan dengan pertahanan tubuh dan interaksi antara inang dengan mikrobioma. Mekanisme ini menunjukkan bahwa vitamin D punya hubungan yang cukup kompleks dengan bakteri di dalam usus. Jadi, manfaatnya bukan hanya memengaruhi jumlah bakteri baik dan buruk, tapi juga bagaimana tubuh mengatur hubungan dengan mikroorganisme tersebut. Meski terdengar menjanjikan, penelitian mengenai hubungan vitamin D, mikrobioma, dan pertahanan usus masih terus berkembang.

  5. 5. Kekurangan vitamin D berkaitan dengan masalah kesehatan pencernaan

    ilustrasi sistem pencernaan
    ilustrasi sistem pencernaan (magnific.com/benzoix)

    Hal lain yang cukup menarik adalah hubungan antara kadar vitamin D yang rendah dengan sejumlah kondisi pada saluran pencernaan. Penyakit radang usus seperti Crohn’s disease dan kolitis ulseratif, misalnya, diketahui dapat berkaitan dengan rendahnya kadar vitamin D. Menurut penelitian dalam Journal of Research in Medical Sciences, kadar vitamin D yang lebih rendah ditemukan berkaitan dengan aktivitas penyakit dan hasil kesehatan yang kurang baik pada orang dengan IBD (penyakit radang usus). Namun, hubungan tersebut gak otomatis berarti kekurangan vitamin D menjadi penyebab utama penyakitnya, ya.

    Penelitian juga menunjukkan bahwa memperbaiki kekurangan vitamin D mungkin dapat membantu mendukung pengelolaan kondisi tertentu. Meski begitu, vitamin D tetap gak bisa dianggap sebagai pengganti pengobatan medis untuk penyakit pencernaan. Kalau kamu ingin menjaga kadar vitamin D, beberapa pilihan yang bisa dilakukan antara lain mendapatkan paparan sinar matahari, mengonsumsi makanan seperti ikan berlemak, produk susu yang difortifikasi, dan kuning telur, serta menggunakan suplemen jika memang diperlukan. Menurut National Institutes of Health, kebutuhan vitamin D bisa berbeda-beda tergantung usia, kondisi kesehatan, kadar vitamin D awal, dan faktor lainnya, sehingga penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhanmu.

    Pada akhirnya, kesehatan usus ternyata dipengaruhi oleh lebih banyak hal daripada sekadar makanan yang dikonsumsi. Vitamin D juga punya peran dalam menjaga lapisan usus, mengatur sistem imun, mendukung pertahanan antimikroba, dan berinteraksi dengan mikrobioma.

    Namun, bukan berarti kamu perlu mengonsumsi vitamin D sebanyak-banyaknya demi mendapatkan usus yang sehat, lho. Hal yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan vitamin D tercukupi sambil tetap menjaga pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More