Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Kesalahan Mencukur Rambut Kemaluan, Umum Dilakukan
ilustrasi rambut kemaluan, bulu kemaluan, folikel rambut (IDN Times/NRF)
  • Teknik mencukur yang tidak tepat dapat menyebabkan iritasi, luka, hingga infeksi kulit.

  • Banyak kesalahan berasal dari kebersihan alat dan persiapan kulit yang kurang optimal.

  • Area genital lebih sensitif, sehingga membutuhkan pendekatan berbeda dibanding area tubuh lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perawatan rambut kemaluan telah menjadi bagian dari rutinitas kebersihan bagi banyak orang, baik karena alasan kenyamanan, estetika, maupun budaya. Namun, praktik ini ternyata menyimpan risiko jika dilakukan tanpa teknik yang tepat.

Kulit di area genital memiliki karakteristik yang berbeda—lebih tipis, lembap, dan rentan terhadap gesekan serta infeksi. Karena itu, kesalahan kecil saat mencukur dampaknya bisa lebih besar dibanding area tubuh lain. Memahami kesalahan umum ini menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang sebenarnya bisa dicegah.

1. Lupa atau malas untuk mengguntingnya terlebih dahulu

Banyak orang langsung mencukur tanpa mencuci area genital terlebih dahulu. Padahal, kulit di area ini secara alami mengandung bakteri dan keringat yang dapat meningkatkan risiko infeksi jika terjadi luka kecil akibat mencukur.

Mencukur pada kulit yang tidak bersih dapat mempermudah masuknya bakteri ke dalam folikel rambut yang terbuka. Ini dapat memicu kondisi seperti folikulitis, yaitu peradangan pada folikel rambut.

Praktik grooming yang tidak higienis berkaitan dengan peningkatan kejadian cedera dan infeksi di area genital. Membersihkan kulit dengan air hangat dan sabun lembut sebelum mencukur membantu mengurangi risiko tersebut secara signifikan.

2. Menggunakan pisau cukur tumpul atau kotor

ilustrasi pisau cukur yang sudah tumpul dan kotor (vecteezy.com/Abyrizal Helmy)

Pisau cukur yang sudah tumpul butuh tekanan lebih besar untuk memotong rambut, yang meningkatkan risiko iritasi dan luka. Selain itu, alat yang tidak bersih dapat menjadi sumber bakteri.

Alat personal care seperti pisau cukur dapat menjadi media pertumbuhan mikroorganisme jika tidak dibersihkan dan dikeringkan dengan benar.

Ketika digunakan di area sensitif, risiko ini menjadi lebih tinggi. Luka kecil yang tidak terlihat dapat menjadi pintu masuk bakteri, menyebabkan infeksi atau iritasi berkepanjangan.

3. Mencukur dalam kondisi kulit kering

Mencukur tanpa pelumas (seperti shaving gel atau sabun) meningkatkan gesekan antara pisau dan kulit. Ini dapat menyebabkan iritasi, kemerahan, bahkan luka mikro.

Menurut penelitian, penggunaan pelumas saat mencukur membantu mengurangi friksi dan melindungi lapisan kulit (stratum corneum).

Kulit yang lembap juga membuat rambut lebih lunak, sehingga lebih mudah dipotong tanpa tekanan berlebih. Mencukur dalam kondisi kering justru memperbesar risiko razor burn (iritasi kulit setelah bercukur yang ditandai kemerahan, rasa panas/terbakar, gatal, dan kadang benjolan kecil akibat gesekan, pisau tumpul, atau bercukur melawan arah rambut).

4. Mencukur berlawanan arah pertumbuhan rambut

ilustrasi membersihkan alat cukur di bawah air mengalir (pexels.com/Castorly Stock)

Mencukur melawan arah tumbuh rambut sering dilakukan untuk hasil yang lebih halus. Namun, teknik ini meningkatkan risiko rambut tumbuh ke dalam (ingrown hair).

Ingrown hair terjadi ketika rambut yang dipotong tumbuh kembali ke dalam kulit, menyebabkan benjolan kecil, kemerahan, dan kadang infeksi. Kondisi ini umum terjadi di area dengan rambut kasar dan keriting, seperti rambut kemaluan.

Mencukur searah pertumbuhan rambut mungkin tidak menghasilkan permukaan sehalus, tetapi lebih aman untuk kesehatan kulit.

5. Tidak mengganti atau berbagi alat cukur

Menggunakan pisau cukur yang sama terlalu lama atau berbagi dengan orang lain meningkatkan risiko penularan infeksi.

Berbagi alat yang dapat melukai kulit, seperti pisau cukur, dapat meningkatkan risiko penularan infeksi, termasuk infeksi kulit dan bahkan penyakit tertentu melalui kontak darah.

Dalam konteks grooming area genital, praktik ini menjadi lebih berisiko karena kulit lebih sensitif dan rentan terhadap luka mikro.

6. Tidak merawat kulit setelah mencukur

ilustrasi pelembap atau soothing agent (pexels.com/SHVETS production)

Banyak orang mengabaikan perawatan setelah mencukur, padahal ini adalah fase penting untuk mencegah iritasi dan infeksi.

Setelah mencukur, kulit berada dalam kondisi lebih sensitif karena lapisan pelindungnya terganggu. Pemakaian pelembap atau soothing agent membantu mempercepat pemulihan kulit dan mengurangi inflamasi.

Tanpa perawatan ini, kulit lebih rentan terhadap iritasi, gatal, dan infeksi sekunder.

7. Terlalu sering mencukur

Frekuensi mencukur yang terlalu sering tidak memberi waktu bagi kulit untuk pulih. Ini dapat menyebabkan iritasi kronis dan kerusakan kulit.

Grooming genital yang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera kulit, termasuk luka dan iritasi berulang. Memberi jeda waktu antara sesi mencukur memungkinkan kulit memperbaiki diri dan mengurangi risiko komplikasi.

8. Mengabaikan tanda iritasi dan infeksi

ilustrasi area intim perempuan (freepik.com/Racool_studio)

Kemerahan, nyeri, atau munculnya benjolan kecil sering dianggap sepele. Padahal, ini bisa menjadi tanda awal infeksi atau iritasi serius.

Infeksi kulit yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, terutama di area lembap seperti genital. Mengabaikan gejala awal dapat memperpanjang proses penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi.

Mencukur rambut kemaluan merupakan praktik yang butuh perhatian terhadap teknik dan higienitas. Kesalahan kecil—seperti menggunakan pisau tumpul atau mencukur tanpa persiapan—dapat berdampak pada kesehatan kulit secara keseluruhan. Pendekatan yang lebih hati-hati, mulai dari persiapan hingga perawatan setelah mencukur, dapat membantu mencegah iritasi dan infeksi.

Referensi

American Academy of Dermatology. “Hair Removal: Shaving Tips.” Diakses April 2026.

Matthew D. Truesdale et al., “Prevalence of Pubic Hair Grooming–Related Injuries and Identification of High-Risk Individuals in the United States,” JAMA Dermatology 153, no. 11 (August 16, 2017): 1114, https://doi.org/10.1001/jamadermatol.2017.2815.

S. E. Stewart et al., “Microbiological Risk Assessment for Personal Care Products,” International Journal of Cosmetic Science 38, no. 6 (May 3, 2016): 634–45, https://doi.org/10.1111/ics.12338.

Lydia Costello et al., “Development of a Novel in Vitro Strategy to Understand the Impact of Shaving on Skin Health: Combining Tape Strip Exfoliation and Human Skin Equivalent Technology,” Frontiers in Medicine 10 (November 2, 2023): 1236790, https://doi.org/10.3389/fmed.2023.1236790.

Mayo Clinic. “Ingrown Hair.” Diakses April 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Personal Hygiene.” Diakses April 2026.

Marie Lodén, “Effect of Moisturizers on Epidermal Barrier Function,” Clinics in Dermatology 30, no. 3 (April 14, 2012): 286–96, https://doi.org/10.1016/j.clindermatol.2011.08.015.

National Health Service. “Skin Infections.” Diakses April 2026.

Editorial Team