Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ketakutan Berlebihan saat di Keramaian?Waspada Agorafobia

Ketakutan Berlebihan saat di Keramaian?Waspada Agorafobia
pixabay.com/Graehawk

Rasa cemas dan panik adalah perasaan normal yang dialami diri manusia saat menghadapi situasi tertentu, misalnya saat akan ujian, wawancara kerja, kondisi jalanan gelap saat tengah malam, dan sebagainya.

Namun, bagaimana jika merasa panik atau takut berlebihan saat berada di keramaian atau tempat umum? Ini merupakan agorafobia. Seseorang dengan fobia ini akan menghindari tempat yang dipenuhi banyak orang. Apakah kamu satu di antara orang-orang dengan fobia ini?

Kira-kira, apa penyebab agorafobia? Langsung saja simak ulasannya berikut ini.

1. Seseorang dengan agorafobia akan menghindari tempat umum

pexels.com/Andrea Piacquadio
pexels.com/Andrea Piacquadio

Dilansir Mayo Clinic, agorafobia merupakan fobia yang membuat penderitanya merasa panik dan ketakutan secara berlebihan saat berada di keramaian. Ini akan membuat mereka menghindari tempat-tempat ramai yang membuatnya takut karena merasa dirinya tidak aman di sana.

Biasanya, orang-orang dengan agorafobia selalu butuh teman untuk menemaninya ke tempat-tempat yang ramai, atau dia akan lebih memilih untuk tinggal di rumah saja.

2. Perlakuan kurang mengenakkan di lingkungan sosial bisa jadi salah satu penyebabnya

pexels.com/Kat Jayne
pexels.com/Kat Jayne

Meskipun belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang sampai mengalami agorafobia, tetapi faktor lingkungan disebut-sebut bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Dilansir Healthline, beberapa faktor yang menyebabkan terbentuknya agorafobia meliputi penyalahgunaan obat-obatan, depresi, adanya fobia sosial lain, pernah mengalami pelecehan seksual, dan riwayat keluarga dengan agorafobia.

3. Masa remaja hingga dewasa awal adalah usia seseorang biasanya mengalami agorafobia

pexels.com/Elijah O'Donnell
pexels.com/Elijah O'Donnell

Mengutip keterangan dari sebuah ulasan dalam jurnal StatPearls tahun 2020, menurut informasi dari panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), jumlah kasus agorafobia diperkirakan sekitar 1,7 persen dari populasi umum. Sebagian besar agorafobia terjadi pada usia sebelum 35 tahun. 

Masa remaja akhir hingga awal remaja akan terjadi peningkatan risiko terkena gangguan mental agorafobia, dengan rata-rata keseluruhan usia yaitu 17 tahun. 

Tingkat prevalensi kasus agorafobia lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki, yakni 0,9 persen pada perempuan dan 0,8 persen pada laki-laki. 

4. Gejala yang patut diwaspadai

unsplash.com/Kevin Lee
unsplash.com/Kevin Lee

Selain memberikan dampak secara psikologis, agorafobia juga akan berdampak pada kondisi fisik penderita. Gejala yang dirasakan meliputi takut pergi ke luar rumah untuk waktu yang lama, tidak berani berada di keramaian seorang diri, kehilangan kendali di tempat umum, sulit menemukan jalan keluar dari keramaian, dan kecemasan.

Selain gejala di atas tadi, gejala fisiknya antara lain:

  • Jantung berdebar kencang
  • Sesak napas
  • Gemetar
  • Berkeringat
  • Panas dingin
  • Mual
  • Kesemutan

5. Diagnosis agorafobia

unsplash.com/Cristina Gottardi
unsplash.com/Cristina Gottardi

Ketika merasakan gejala seperti yang disebutkan di atas, sebaiknya langsung konsultasikan dengan pakar kesehatan mental yang kompeten dalam bidangnya. Keluarga atau teman dapat membantu memberikan keterangan kepada pakar kesehatan mental supaya dapat membantu penderita agorafobia mendapatkan penanganan yang tepat. 

Dilansir Medical News Today, kriteria diagnostik untuk agorafobia dalam DSM-5 mencakup kecemasan atau ketakutan yang berlebihan dalam dua situasi, yang ditandai dengan sulitnya melarikan diri dari suatu tempat umum. Misalnya di angkutan umum, ruang terbuka, ruang tertutup, dan antrean. 

6. Tips untuk mengurangi risiko terjadinya agorafobia

pexels.com/Artem Beliaikin
pexels.com/Artem Beliaikin

Karena bisa memengaruhi aktivitas sehari-hari, ada beberapa langkah mendiri untuk mengurangi risiko terjadinya atau kambuhnya agorafobia. Yaitu dengan cara belajar mengelola emosi dengan baik, tetap santai dan jangan terlalu stres, mencoba menghadapi situasi yang ditakuti, menghindari alkohol dan narkoba, berolahraga, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan tentunya istirahat yang cukup, seperti dikutip dari Medical News Today.

Jika kamu mengalami gejala-gejala yang disebutkan di poin tiga, jangan sungkan untuk berkonsultasi kepada pakar kesehatan mental agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Pasalnya, jika agorafobia dibiarkan terlalu lama, hidup akan dipenuhi ketakutan, ada risiko isolasi sosial, hidup tidak produktif, sehingga dapat menurunkan kualitas hidup. Jangan biarkan ini terjadi!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Apakah Wasir Dapat Menyebabkan Disfungsi Ereksi?

07 Apr 2026, 23:14 WIBHealth