Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Kondisi Ibu Hamil yang Tidak Disarankan Dokter Puasa, Kenapa ya?

7 Kondisi Ibu Hamil yang Tidak Disarankan Dokter Puasa, Kenapa ya?
ilustrasi ibu hamil (freepik.com/jcomp)
Intinya Sih
  • Tidak semua kehamilan aman untuk berpuasa; kondisi medis tertentu meningkatkan risiko bagi ibu dan janin.

  • Dehidrasi, gangguan gula darah, dan gangguan pertumbuhan janin adalah pertimbangan utama dokter.

  • Konsultasi medis sebelum Ramadan sangat penting untuk menentukan keamanan puasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Boleh atau tidaknya ibu hamil berpuasa selama bulan Ramadan sebenarnya tergantung kondisi ibu hamil.

Bisa jadi, beberapa ibu hamil mampu menjalani ibadah puasa dengan lancar tanpa hambatan apa pun. Namun, bagi sebagian lainnya, puasa bisa berdampak buruk bagi kondisi mereka sehingga ibu hamil tidak disarankan berpuasa oleh dokternya. 

Tidak ada kehamilan yang sama persis pada setiap perempuan. Jadi, sebelum ikut puasa, ibu hamil perlu konsultasi ke dokter kandungan untuk memastikan apakah puasa aman untuk mereka dan calon bayi. 

Aman tidaknya puasa pada ibu hamil bisa bergantung pada faktor-faktor tertentu, seperti trimester kehamilan atau adanya kondisi medis tertentu. Seperti beberapa kondisi ibu hamil di bawah ini, yang kemungkinan besar disarankan untuk tidak puasa oleh dokter atau bidannya.

1. Hiperemesis gravidarum

Mual muntah ringan umum terjadi pada trimester pertama. Namun, hiperemesis gravidarum adalah kondisi lebih berat, yang ditandai muntah berulang, penurunan berat badan, dan dehidrasi.

Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan gangguan elektrolit dan memerlukan terapi cairan intravena dalam kasus tertentu. Jika ibu tidak mampu mempertahankan cairan dan nutrisi, puasa justru memperparah dehidrasi.

Dalam situasi ini, dokter umumnya menyarankan tidak berpuasa sampai kondisi stabil karena prioritas utamanya adalah hidrasi dan kecukupan nutrisi.

2. Diabetes gestasional dan diabetes prakehamilan

Ilustrasi ibu hamil dan suaminya.
ilustrasi ibu hamil (freepik.com/tirachardz)

Perempuan hamil yang memiliki diabetes butuh kontrol gula darah ketat. Puasa meningkatkan risiko hipoglikemia (gula darah terlalu rendah) maupun hiperglikemia (terlalu tinggi), terutama jika ibu hamil menggunakan insulin.

Hipoglikemia selama kehamilan dapat membahayakan ibu dan janin. Penelitian juga menunjukkan bahwa fluktuasi glukosa ekstrem dapat memengaruhi pertumbuhan janin.

Karena risiko ini, perempuan hamil dengan diabetes gestasional atau diabetes tipe 1 dan 2 umumnya tidak dianjurkan berpuasa tanpa pengawasan medis ketat.

3. Anemia sedang hingga berat

Anemia defisiensi besi cukup umum pada perempuan. Jika kadar hemoglobin rendah secara signifikan, suplai oksigen ke jaringan ibu dan janin dapat terganggu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anemia pada kehamilan ditegakkan apabila kadar hemoglobin (Hb) <11 g/dL. Dalam kondisi sedang hingga berat, ibu membutuhkan suplementasi teratur dan asupan nutrisi yang cukup sepanjang hari.

Puasa berpotensi mengurangi frekuensi asupan zat besi dan memperburuk gejala seperti pusing, lemas, dan sesak napas. Dokter biasanya menyarankan menunda puasa hingga kadar hemoglobin membaik.

4. Gangguan pertumbuhan janin (IUGR)

Ilustrasi ibu hamil menjalani pemeriksaan USG kehamilan.
ilustrasi proses USG kehamilan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Intrauterine growth restriction (IUGR) adalah kondisi ketika janin tumbuh lebih kecil dari yang seharusnya. Nutrisi dan suplai oksigen menjadi faktor kunci.

IUGR berkaitan dengan peningkatan risiko komplikasi perinatal. Dalam kondisi ini, pembatasan asupan makanan dan cairan dapat memperburuk risiko gangguan pertumbuhan, sehingga dokter cenderung tidak menyarankan ibu hamil berpuasa.

5. Riwayat persalinan prematur atau risiko tinggi

Perempuan hamil dengan riwayat persalinan prematur, preeklamsia, atau komplikasi obstetri lainnya termasuk kelompok risiko tinggi.

Kondisi risiko tinggi membutuhkan pemantauan nutrisi dan hidrasi optimal. Dehidrasi dapat memicu kontraksi prematur pada sebagian kasus. Karena itu, puasa umumnya tidak dianjurkan jika ada faktor risiko persalinan prematur.

6. Tekanan darah rendah atau tinggi yang tidak stabil

Ilustrasi ibu hamil berbaring di sofa.
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/cottonbro studio)

Kehamilan dapat memengaruhi tekanan darah. Pada ibu dengan hipotensi berat, puasa dapat memperparah pusing dan risiko pingsan.

Sebaliknya, pada hipertensi atau preeklamsia, keseimbangan cairan sangat penting. Gangguan tekanan darah pada kehamilan dapat berdampak serius pada ibu dan bayi.

Jika tekanan darah tidak stabil, dokter biasanya menyarankan ibu hamil tidak berpuasa.

7. Dehidrasi berulang atau gangguan ginjal

Kehamilan meningkatkan kebutuhan cairan. Jika ibu memiliki riwayat batu ginjal, infeksi saluran kemih berulang, atau gangguan ginjal, pembatasan cairan bisa berisiko.

Dehidrasi dapat memperburuk fungsi ginjal dan meningkatkan risiko komplikasi. Karena itu, dokter cenderung melarang puasa pada ibu hamil yang memiliki masalah ginjal aktif (yang sedang berlangsung).

Perhatikan tanda-tanda peringatan ini

Ilustrasi ibu hamil mengalami sakit kepala.
ilustrasi ibu hamil sakit kepala (freepik.com/user15285612)

Banyak ibu hamil yang bisa ikut puasa Ramadan tanpa kendala berarti. Namun, hubungi dokter atau bidan apabila ibu hamil mencoba berpuasa dan mengalami ini:

  • Berat badan tidak cukup, atau berat badan turun, yang bisa berbahaya bagi bayi. Ibu hamil mungkin tidak akan ditimbang selama pemeriksaan antenatal, jadi timbanglah berat badan secara teratur di rumah saat berpuasa.
  • Menjadi sangat haus, lebih jarang buang air kecil, atau jika air kencing menjadi berwarna gelap. Ini adalah tanda dehidrasi dan dapat membuat ibu hamil lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih (ISK) atau komplikasi lainnya.
  • Merasa pusing, pingsan, lemah, bingung atau lelah, bahkan setelah beristirahat. Segera berbuka puasa dengan minuman manis dan camilan asin atau larutan rehidrasi oral, dan hubungi dokter atau bidan.

Dalam kehamilan risiko rendah dan kondisi stabil, sebagian ibu hamil mungkin bisa berpuasa dengan pemantauan dokter. Namun, pada kondisi seperti hiperemesis berat, diabetes, anemia berat, gangguan pertumbuhan janin, atau komplikasi tekanan darah, dokter umumnya tidak menyarankan puasa demi keselamatan ibu dan bayi.

Kesehatan ibu dan janin adalah prioritas utama. Konsultasi dengan dokter kandungan sangat penting untuk menilai risiko secara individual. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang menjaga dua nyawa sekaligus.

Referensi

Jocelyn D. Glazier et al., “The Effect of Ramadan Fasting During Pregnancy on Perinatal Outcomes: A Systematic Review and Meta-analysis,” BMC Pregnancy and Childbirth 18, no. 1 (October 25, 2018): 421, https://doi.org/10.1186/s12884-018-2048-y.

Nuha A. ElSayed et al., “15. Management Of Diabetes In Pregnancy: Standards Of Care In Diabetes—2025,” Diabetes Care 48, no. Supplement_1 (December 9, 2024): S306–20, https://doi.org/10.2337/dc25-s015.

“Anaemia in Pregnancy.” World Health Organization. Diakses Maret 2026.

“High-Risk Pregnancy.” American College of Obstetricians and Gynecologists. Diakses Maret 2026.

“Fetal Growth Restriction.” National Institute of Child Health and Human Development. Diakses Maret 2026.

“High Blood Pressure During Pregnancy.” Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Maret 2026.

"Pregnancy and Kidney Disease." National Kidney Foundation. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Eka Amira Yasien
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More