Dokter Milzan Murtadha, SpM, dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics. (Dok. JEC Eye Hospitals and Clinics)
Kadang lensa yang paling canggih bukan solusi tepat untuk pasien. Pada akhirnya, dokter perlu memeriksa kondisi mata dan mengukur kebutuhan koreksi, termasuk apakah ada silinder atau masalah lain yang dapat memengaruhi hasil penglihatan.
Kegiatan yang paling sering dilakukan pasien juga penting, misalnya apakah pasien lebih banyak membaca, bekerja di depan komputer, atau menyetir pada malam hari.
“Tidak semua yang paling mahal itu sama dengan yang paling bagus, tetap semua harus dikondisikan, di-customize untuk tiap pasien,” dr. Milzan menekankan. Ia juga menyebut ada pasien yang hasilnya lebih sesuai dengan lensa monofokal.
Sebelum memutuskan, pasien dapat mendiskusikan beberapa hal dengan dokter mata, seperti:
Aktivitas apa yang paling ingin didukung setelah operasi?
Apakah masih nyaman menggunakan kacamata baca?
Seberapa sering pasien menyetir pada malam hari?
Apakah kondisi mata lain atau silinder memengaruhi pilihan lensa?
Apa manfaat dan keterbatasan lensa yang direkomendasikan?
Diskusi tersebut membantu menyamakan harapan dengan hasil yang mungkin dicapai. Tujuan operasi bukan cuma mengganti lensa yang keruh, tetapi juga memilih koreksi penglihatan yang sesuai dengan kondisi mata dan keseharian pasien.
Referensi
National Eye Institute, “Cataracts,” diakses September 2026.
Cheryl terHorst, “Factors to Consider in Choosing an IOL for Cataract Surgery,” American Academy of Ophthalmology, diakses September 2026.
Samantha R. de Silva et al., “Multifocal versus Monofocal Intraocular Lenses after Cataract Extraction,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 12 (2016): CD003169, https://doi.org/10.1002/14651858.CD003169.pub4.
Julie M. Schallhorn et al., “Multifocal and Accommodating Intraocular Lenses for the Treatment of Presbyopia: A Report by the American Academy of Ophthalmology,” Ophthalmology 128, no. 10 (2021): 1469–82, https://doi.org/10.1016/j.ophtha.2021.03.013.