Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Long COVID Tingkatkan Risiko Depresi hingga 3 Tahun setelah Infeksi

Long COVID Tingkatkan Risiko Depresi hingga 3 Tahun setelah Infeksi
ilustrasi depresi (freepik.com/DC studio)
Intinya Sih
  • Orang dewasa dengan long COVID memiliki risiko depresi 86 persen lebih tinggi dan kecemasan 60 persen lebih tinggi hingga tiga tahun setelah infeksi.

  • Pola gejalanya berbeda: depresi cenderung muncul lebih lambat, kecemasan lebih menetap sejak awal.

  • Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan kesehatan mental jangka panjang pada penyintas long COVID.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dampak COVID-19 tidak selalu berhenti ketika seseorang sudah dinyatakan sembuh. Sebagian orang melaporkan gejala yang bertahan berbulan-bulan, mulai dari kelelahan, sesak napas, hingga gangguan konsentrasi. Kondisi ini dikenal sebagai long COVID.

Sebuah studi berbasis populasi yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Public Health menemukan bahwa orang dewasa dengan long COVID. menghadapi peningkatan risiko gejala depresi dan kecemasan hingga tiga tahun setelah infeksi awal. Penelitian ini dipimpin oleh tim dari College of Health Sciences, University of Missouri, Amerika Serikat (AS).

Para peneliti menganalisis data orang dewasa di Michigan dengan infeksi SARS-CoV-2 terkonfirmasi antara Maret 2020 hingga Mei 2022. Responden yang sudah memiliki gejala depresi atau kecemasan pada awal studi dikeluarkan dari analisis, sehingga penelitian ini benar-benar menilai kemunculan gejala baru (new-onset) seiring waktu. Long COVID didefinisikan sebagai gejala yang berlangsung 90 hari atau lebih setelah infeksi awal.

Pada tindak lanjut tiga tahun, sekitar 8,8 persen responden melaporkan gejala depresi dan 10,4 persen melaporkan gejala kecemasan. Namun, angka ini meningkat tajam pada kelompok dengan long COVID.

Pola gejala yang berbeda

Perbedaan risiko terlihat jelas antara mereka yang mengalami long COVID dan yang tidak. Pada tiga tahun pascainfeksi, 16,9 persen orang dengan long COVID melaporkan gejala depresi, dibandingkan 7,5 persen pada mereka tanpa long COVID. Untuk kecemasan, angkanya 17,2 persen versus 9,3 persen.

Secara keseluruhan, long COVID dikaitkan dengan risiko depresi 86 persen lebih tinggi dan risiko kecemasan 60 persen lebih tinggi pada tahun ketiga. Ini bukan sekadar fluktuasi emosional sesaat, melainkan peningkatan risiko yang terukur secara statistik.

Menariknya, pola kemunculan gejala berbeda antara depresi dan kecemasan. Long COVID paling kuat dikaitkan dengan kemunculan gejala depresi pada evaluasi akhir (adjusted relative risk ratio/aRRR 2,64). Sementara itu, gejala kecemasan cenderung muncul dan bertahan konsisten di kedua periode tindak lanjut (aRRR 2,48).

Para peneliti menafsirkan bahwa depresi mungkin mencerminkan efek kumulatif dari beban gejala fisik yang berkepanjangan. Sebaliknya, kecemasan bisa menjadi respons stres yang lebih cepat dan menetap terhadap kondisi kesehatan yang tidak pasti.

Implikasi bagi layanan kesehatan

Seorang perempuan mengalami kecemasan.
ilustrasi kecemasan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Studi ini memiliki keterbatasan. Sampel hanya mencakup orang dengan infeksi terkonfirmasi, sehingga kemungkinan mengecualikan mereka yang menggunakan tes mandiri atau tidak memiliki akses layanan kesehatan. Gejala depresi dan kecemasan diukur menggunakan instrumen skrining berbasis laporan diri, bukan diagnosis klinis. Selain itu, definisi long COVID didasarkan pada laporan waktu pemulihan peserta, yang berpotensi menimbulkan salah klasifikasi.

Namun, desain prospektif dan evaluasi berulang selama tiga tahun memperkuat validitas temuan. Artinya, hubungan antara long COVID dan risiko gangguan mental tidak muncul dari satu kali pengamatan saja, melainkan konsisten dalam pemantauan jangka panjang.

Pesan terpenting dari penelitian ini adalah kebutuhan tindak lanjut kesehatan mental bagi penyintas long COVID. Tenaga medis disarankan untuk terus memantau kondisi psikologis pasien, sementara komunitas dapat mempertimbangkan program dukungan sosial guna menjaga kesejahteraan mental kelompok ini.

Long COVID bisa menyentuh aspek emosional yang lebih dalam, dan dampaknya dapat bertahan lama. Mengakui hal ini adalah langkah awal untuk memastikan pemulihan yang benar-benar menyeluruh.

Referensi

Soomin Ryu et al., “Prospective Associations Between Long COVID and Mental Health: Evidence From a Population-based Study With a Nearly Three-year Follow-up,” BMC Public Health, February 19, 2026, https://doi.org/10.1186/s12889-026-26659-z.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More