ilustrasi minum wine (pexels.com/Elina Sazonova)
Wine merah mengandung kombinasi tanin, asam, dan pigmen intens. Ini adalah kombinasi yang sangat kuat dalam menyebabkan perubahan warna gigi.
Penelitian menunjukkan, komponen dalam wine merah dapat menyebabkan perubahan warna enamel secara signifikan dalam waktu relatif singkat.
Selain itu, sifat asamnya melemahkan enamel, sehingga pigmen dari wine maupun makanan lain lebih mudah menempel. Ini menjelaskan mengapa konsumsi wine secara rutin sering dikaitkan dengan gigi yang lebih gelap.
Perubahan warna gigi mencerminkan interaksi jangka panjang antara makanan dan minuman serta kesehatan enamel. Beberapa makanan dan minuman yang umum berpotensi menyebabkan noda jika dikonsumsi secara rutin tanpa perawatan gigi yang baik.
Untungnya, efek ini bisa dikendalikan. Dengan menjaga kebersihan mulut, membatasi frekuensi konsumsi, dan memahami karakteristik makanan dan minuman, risiko gigi kuning dapat diminimalkan.
Referensi
Andrew Joiner, “Tooth Colour: A Review of the Literature,” Journal of Dentistry 32 (December 4, 2003): 3–12, https://doi.org/10.1016/j.jdent.2003.10.013.
M Sulieman, “An Overview of Tooth Discoloration: Extrinsic, Intrinsic and Internalized Stains,” Dental Update 32, no. 8 (October 2, 2005): 463–71, https://doi.org/10.12968/denu.2005.32.8.463.
Lussi A, Hellwig E, Zero D, Jaeggi T. "Erosive tooth wear: diagnosis, risk factors and prevention." Am J Dent. 2006 Dec;19(6):319-25. PMID: 17212071.
Domenick Thomas Zero, “Etiology of Dental Erosion – Extrinsic Factors,” European Journal of Oral Sciences 104, no. 2 (April 1, 1996): 162–77, https://doi.org/10.1111/j.1600-0722.1996.tb00065.x.
M. Addy and R.P. Shellis, “Interaction Between Attrition,Abrasion and Erosion in Tooth Wear,” Monographs in Oral Science 20 (January 1, 2006): 17–31, https://doi.org/10.1159/000093348.
Andrew L. Waterhouse, “Wine Phenolics,” Annals of the New York Academy of Sciences 957, no. 1 (May 1, 2002): 21–36, https://doi.org/10.1111/j.1749-6632.2002.tb02903.x.