ilustrasi virus influenza (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)
Untuk memahami kenapa nama influenza seolah terus berkembang, ada dua istilah yang membantu: antigenic drift dan antigenic shift.
Antigenic drift adalah perubahan-perubahan kecil yang menumpuk ketika virus memperbanyak diri. Perubahan ini dapat sedikit mengubah bentuk protein di permukaan virus yang selama ini dikenali oleh antibodi.
Proses tersebut terjadi pada influenza A maupun B dan berlangsung terus-menerus. Jika perubahan sudah cukup besar, antibodi yang terbentuk dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya mungkin tidak mengenali virus baru sebaik sebelumnya. Inilah salah satu penjelasan kenapa seseorang bisa sakit flu berulang kali sepanjang hidup.
Penelitian menunjukkan bahwa kecepatan perubahan antigenik tidak sama pada setiap kelompok influenza. Analisis terhadap A(H3N2), A(H1N1), B/Victoria, dan B/Yamagata menemukan bahwa A(H3N2) berubah secara antigenik lebih cepat dibandingkan kelompok lain yang diteliti.
Ini membantu menjelaskan mengapa H3N2 sering muncul dengan nama clade atau subclade baru.
Sementara itu, antigenic shift adalah perubahan yang jauh lebih besar dan terjadi pada influenza A. Perubahan tersebut dapat menghasilkan virus dengan antigen yang sangat berbeda sehingga sebagian besar populasi manusia hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Jika virus baru itu mampu menular dengan baik antarmanusia, kondisi tersebut dapat membuka jalan menuju pandemi.
Namun, mutasi atau munculnya subclade baru tidak otomatis berarti virus menjadi lebih berbahaya. Perubahan genetik perlu dinilai bersama data tentang penularan, keparahan penyakit, kekebalan populasi, dan kemampuan antibodi mengenali virus tersebut.