Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Suhu Dingin Bisa Menyebabkan Nyeri Sendi?
ilustrasi nyeri sendi (magnific.com/magnific)
  • Suhu dingin dapat mengentalkan cairan sinovial, menyempitkan pembuluh darah, serta membuat otot dan jaringan penyangga sendi lebih kaku, sehingga gerakan terasa tidak nyaman.

  • Penurunan tekanan udara diduga membuat jaringan dan cairan sendi sedikit mengembang, sementara saraf pada sendi yang rusak dapat lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan tekanan.

  • Nyeri saat cuaca dingin lebih rentan dialami pasien artritis, orang dengan riwayat cedera atau operasi sendi, lansia, dan mereka yang kurang aktif.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu merasa lutut, pergelangan tangan, atau bahu terasa lebih nyeri saat cuaca dingin? Keluhan ini ternyata cukup umum, terutama pada orang yang memiliki radang sendi (artritis) atau pernah mengalami cedera sendi.

Meski hubungan antara cuaca dingin dan nyeri sendi masih terus diteliti, tetapi para ahli menemukan beberapa mekanisme dalam tubuh yang dapat menjelaskan mengapa rasa nyeri dan kaku sering muncul ketika suhu menurun.

Mulai dari perubahan cairan pelumas sendi hingga perubahan tekanan udara, semuanya dapat memengaruhi kenyamanan saat bergerak.

Apa, sih, sebenarnya yang terjadi pada sendi ketika udara menjadi dingin? Baca penjelasannya di bawah ini.

1. Cairan pelumas sendi menjadi lebih kental

Setiap sendi memiliki cairan pelumas yang disebut cairan sinovial. Cairan ini berfungsi mengurangi gesekan antar tulang sehingga sendi dapat bergerak dengan lancar.

Saat suhu lingkungan turun, cairan sinovial cenderung menjadi lebih kental, mirip seperti oli kendaraan yang mengental ketika cuaca dingin. Akibatnya, sendi tidak lagi bergerak sehalus biasanya sehingga muncul rasa kaku, gesekan meningkat, dan gerakan terasa kurang nyaman.

2. Pembuluh darah menyempit

Tubuh memiliki cara alami untuk mempertahankan suhu inti ketika cuaca dingin, yaitu dengan menyempitkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Kondisi ini paling sering terjadi pada bagian tubuh yang jauh dari jantung, seperti jari tangan, jari kaki, lutut, dan pergelangan tangan.

Penyempitan pembuluh darah membuat aliran darah ke jaringan sekitar sendi berkurang. Dampaknya, pasokan oksigen dan nutrisi menjadi lebih sedikit sehingga jaringan terasa lebih kaku dan proses pemulihan sendi berlangsung lebih lambat.

3. Perubahan tekanan udara

ilustrasi nyeri sendi (pexels.com/Tawfiqu barbhuiya)

Bukan hanya suhu yang berubah ketika cuaca mendung atau akan hujan. Tekanan udara (barometrik) juga biasanya ikut menurun.

Sebagian ahli menduga bahwa penurunan tekanan udara memungkinkan jaringan dan cairan di dalam sendi sedikit mengembang. Karena ruang di dalam kapsul sendi terbatas, pengembangan ini dapat meningkatkan tekanan pada saraf di sekitar sendi sehingga memicu rasa nyeri. Fenomena ini sering dirasakan oleh pasien osteoartritis, kondisi ketika bantalan tulang rawan pada sendi mulai menipis.

4. Otot dan jaringan menjadi lebih kaku

Suhu dingin juga membuat otot, tendon, dan ligamen menjadi kurang elastis. Saat jaringan penyangga sendi mengencang, beban yang diterima sendi saat bergerak menjadi lebih besar.

Selain itu, banyak orang cenderung lebih jarang beraktivitas ketika cuaca dingin. Kurangnya gerakan membuat otot penyangga sendi melemah sehingga kekakuan makin terasa.

5. Saraf menjadi lebih sensitif

Orang yang memiliki kerusakan pada sendi mungkin memiliki ujung saraf yang lebih sensitif terhadap perubahan suhu maupun tekanan udara. Perubahan tersebut dapat mengaktifkan reseptor saraf tertentu sehingga otak menerima sinyal nyeri lebih kuat.

Ditambah lagi, cuaca dingin sering dikaitkan dengan suasana hati yang menurun, yang juga dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap rasa sakit.

Siapa yang lebih berisiko mengalami nyeri sendi saat cuaca dingin?

ilustrasi nyeri sendi (unsplash.com/Towfiqu Barbhuiya)

Meski siapa saja bisa mengalaminya, beberapa kelompok berikut lebih rentan merasakan nyeri sendi ketika suhu menurun, antara lain:

  • Pasien osteoartritis atau artritis reumatoid.

  • Orang yang pernah mengalami cedera atau operasi pada sendi.

  • Lansia, karena jumlah cairan sinovial dan bantalan tulang rawan secara alami berkurang seiring bertambahnya usia.

  • Orang yang kurang aktif bergerak, terutama selama musim atau cuaca dingin.

Cara mengurangi nyeri sendi saat cuaca dingin

Jika nyeri sendi sering muncul ketika udara dingin, beberapa langkah ini bisa membantu meredakan keluhan:

  • Tetap menjaga tubuh tetap hangat: Kehangatan dapat membantu melancarkan aliran darah sekaligus mengurangi kekakuan.

  • Tetap aktif bergerak: Aktivitas fisik membantu menjaga kelenturan sendi sekaligus memperkuat otot penyangganya.

  • Minum air yang cukup: Tubuh yang terhidrasi dengan baik membantu menjaga kualitas cairan sinovial sehingga fungsi pelumasan sendi tetap optimal.

  • Gunakan obat pereda nyeri jika diperlukan: Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) atau obat oles pereda nyeri dapat membantu mengurangi keluhan saat nyeri kambuh. 

Jadi, jika sendi terasa lebih nyeri saat cuaca dingin, kamu tidak sendirian. Menjaga tubuh tetap hangat dan tetap aktif bergerak bisa menjadi cara mudah untuk membantu meredakan keluhan tersebut.

Referensi

Healthline. Diakses pada Agustus 2026. "Cold Weather and Joint Pain."

MedicalNewsToday. Diakses pada Agustus 2026. "Cold Weather and Joint Pain: What is the Connection?"

Northwestern Medicine. Diakses pada Agustus 2026. "Why Cold Weather Causes Joint Pain — and What Helps."

The University of Texas Southwestern Medical Center. Diakses pada Agustus 2026. "Why Joint Pain is Worse in Cold Weather, and 4 Proven Ways to Manage It."

Curated For You

Editorial Team

Related Article