Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi menikmati waktu tenang sambil minum teh di taman (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Studi terhadap 131.821 orang di AS menemukan bahwa konsumsi kopi berkafein lebih tinggi berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah.

  • Hubungan paling kuat terlihat pada konsumsi sekitar 2–3 cangkir kopi berkafein atau 1–2 cangkir teh per hari. Kopi tanpa kafein tidak menunjukkan hubungan serupa.

  • Penelitian ini bersifat observasional. Hasilnya menunjukkan hubungan, tetapi belum membuktikan bahwa kopi atau teh mencegah demensia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi banyak orang, secangkir kopi menjadi teman untuk memulai pagi. Bagi yang lain, teh hangat menemani jeda di tengah kesibukan atau dinikmati sebelum menutup hari. Sebuah penelitian jangka panjang menelusuri apakah kebiasaan minum kopi dan teh berkaitan dengan kesehatan otak saat seseorang menua.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal JAMA menemukan bahwa konsumsi kopi berkafein dan teh yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah. Baca ulasannya di bawah ini, ya!

Penelitian mengikuti kebiasaan minum selama puluhan tahun

Tim peneliti menganalisis data 131.821 peserta dari dua studi kesehatan di Amerika Serikat, yaitu Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Kebiasaan makan dan minum mereka dicatat berulang kali, setiap dua hingga empat tahun. Masa tindak lanjut berlangsung hingga 43 tahun, dengan median 36,8 tahun. Selama periode itu, 11.033 peserta mengalami demensia.

Demensia adalah istilah untuk sejumlah kondisi yang mengganggu ingatan, kemampuan berpikir, dan kegiatan sehari-hari. Alzheimer merupakan salah satu penyebabnya, tetapi demensia juga bisa muncul akibat kondisi lain.

Peneliti membandingkan peserta yang lebih banyak minum kopi berkafein dengan mereka yang jarang atau tidak meminumnya. Dalam analisis yang sudah memperhitungkan sejumlah faktor lain, kelompok dengan konsumsi lebih tinggi memiliki laju kejadian demensia sekitar 18 persen lebih rendah daripada kelompok dengan konsumsi paling rendah. Meski demikian, kebiasaan lain dan kondisi kesehatan peserta juga bisa ikut berperan.

Hubungan terkuat ditemukan pada tingkat konsumsi sedang

ilustrasi minum kopi (pexels.com/Tan Danh)

Saat menelaah jumlah konsumsi, peneliti menemukan hubungan paling kuat pada orang yang minum sekitar 2–3 cangkir kopi berkafein per hari. Untuk teh, hubungan paling kuat terlihat pada konsumsi sekitar 1–2 cangkir sehari. Minum lebih banyak tidak tampak memberikan hubungan tambahan yang lebih kuat. Temuan ini juga terlihat pada peserta dengan tingkat risiko genetik demensia yang berbeda.

Peserta yang lebih banyak minum kopi berkafein juga lebih jarang melaporkan penurunan kemampuan berpikir atau mengingat yang mereka rasakan sendiri: 7,8 persen, dibandingkan 9,5 persen pada kelompok yang jarang atau tidak minum kopi berkafein. Keluhan seperti ini tidak otomatis berarti seseorang mengalami demensia. Pada pengukuran kognitif, perbedaan pada salah satu tes tercatat kecil, sementara skor kognisi global tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik.

Kopi tanpa kafein (decaf) tidak menunjukkan hubungan serupa dengan risiko demensia maupun hasil kognitif. Namun, itu belum membuktikan bahwa kafein adalah penyebabnya. Penelitian ini juga tidak membedakan teh berkafein dan tanpa kafein, sehingga hasil pada kelompok peminum teh belum dapat menjawab apakah kafein berperan.

Bukan minuman pencegah demensia

Walaupun mengikuti peserta dalam waktu lama dan mencatat pola konsumsi berulang kali, tetapi penelitian observasional tidak memastikan sebab-akibat. Bisa saja ada faktor lain yang turut menjelaskan hubungan yang ditemukan, termasuk kebiasaan hidup atau kondisi kesehatan yang tidak sepenuhnya terukur.

Para peneliti juga mencatat bahwa status demensia mungkin tidak selalu teridentifikasi dengan tepat dan penelitian ini tidak dapat menganalisis Alzheimer secara terpisah.

Pesertanya berasal dari kelompok tenaga kesehatan di Amerika Serikat, sehingga hasilnya belum tentu menggambarkan kebiasaan dan risiko pada semua kelompok masyarakat. Ukuran sajian dan cara menyeduh kopi atau teh pun dapat berbeda-beda.

Karena itu, hasil penelitian ini bukan alasan bagi orang yang tidak minum kopi untuk mulai mengonsumsinya, atau bagi peminum kopi untuk menambah jumlahnya demi mencegah demensia. Dalam studi ini, konsumsi kopi berkafein dan teh dalam jumlah sedang berkaitan dengan beberapa hasil kesehatan kognitif yang lebih baik. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah hubungan itu benar-benar disebabkan oleh minuman tersebut.

Referensi

Yu Zhang et al., “Coffee and Tea Intake, Dementia Risk, and Cognitive Function,” JAMA 335, no. 11 (2026): 961–974, https://doi.org/10.1001/jama.2025.27259.

American Psychological Association, “Good News for Coffee and Tea Drinkers,” Monitor on Psychology 57, no. 8 (November 2026).

World Health Organization, “Dementia,” diakses 7 November 2026.

Editorial Team

Related Article