- H: Isoniazid
- R: Rifampisin
- Z: Pirazinamid
- E: Etambutol
Apa Saja Obat TBC? Ini Jenis Obat, Lama Terapi, dan Efek Sampingnya

TBC sensitif obat umumnya diobati kombinasi isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol selama enam bulan; regimen empat bulan tersedia bagi pasien tertentu.
TBC resistan obat memerlukan kombinasi berbeda berdasarkan hasil resistansi, seperti BPaLM atau BPaL, dengan regimen dan kelayakan ditentukan tim penanganan.
Infeksi TBC laten dapat menerima terapi pencegahan; selama pengobatan, pasien perlu patuh, melaporkan obat lain, dan segera menghubungi dokter jika mengalami efek samping serius.
Setelah didiagnosis dengan tuberkulosis (TBC), pasien akan langsung memulai pengobatan dan menerima beberapa jenis obat sekaligus. Batuk atau demam mungkin berangsur membaik, tetapi pengobatan tetap perlu dijalani sesuai rencana. Obat-obat itu bekerja sebagai kombinasi untuk membasmi bakteri dan mengurangi risiko pengobatan gagal atau kuman menjadi kebal terhadap obat.
Jenis obat dan lamanya pengobatan TBC tidak sama untuk semua orang. Dokter akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan, apakah bakteri masih sensitif terhadap obat, usia, berat badan, lokasi TBC, dan kondisi kesehatan lainnya.
Table of Content
Obat utama untuk TBC sensitif obat
Pada TBC sensitif obat, bakteri masih dapat diatasi dengan obat lini pertama. Kombinasi yang umum digunakan selama enam bulan adalah 2HRZE/4HR. Huruf-huruf tersebut merupakan singkatan nama obat:
Pada regimen enam bulan tersebut, dua bulan pertama biasanya menggunakan keempat obat. Tahap berikutnya dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin selama empat bulan.
Obat dapat diberikan dalam tablet kombinasi, tetapi jumlah dan dosisnya tetap disesuaikan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien.
Beberapa pasien bisa mendapat regimen empat bulan

ilustrasi obat-obatan TBC (IDN Times/Novaya Siantita) Petunjuk teknis Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2025 juga mencantumkan regimen empat bulan 2HPMZ/2HPM. Regimen ini memakai isoniazid, rifapentin, moksifloksasin, dan pirazinamid pada dua bulan pertama, kemudian isoniazid, rifapentin, dan moksifloksasin pada tahap berikutnya. Regimen ini hanya untuk pasien yang memenuhi kriteria tertentu—misalnya, pasien berusia minimal 12 tahun, berat badan lebih dari 40 kilogram, dan mengalami TBC paru—serta bergantung pada ketersediaan obat.
Bukti untuk regimen yang lebih singkat berasal, antara lain, dari uji klinis fase tiga yang melibatkan pasien TBC paru dari 13 negara. Penelitian tersebut menemukan regimen rifapentin-moksifloksasin selama empat bulan tidak kalah efektif dibandingkan regimen standar enam bulan pada peserta yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil ini mendukung pilihan terapi lebih singkat bagi pasien tertentu, bukan berarti semua pasien dapat menggunakan regimen tersebut.
Bagaimana jika TBC sudah resistan obat?
Pada sebagian pasien, pemeriksaan menunjukkan bahwa bakteri TBC kebal terhadap satu atau beberapa obat. Kondisi ini disebut TBC resistan obat. Regimennya berbeda dari TBC sensitif obat, sehingga dokter memerlukan hasil pemeriksaan resistansi untuk memilih kombinasi yang tepat.
Salah satu kombinasi yang digunakan untuk pasien TBC resistan obat yang memenuhi syarat adalah BPaLM, yang terdiri dari bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moksifloksasin.
Jika ditemukan resistansi terhadap obat golongan fluoroquinolone seperti moksifloksasin, regimen dapat berubah menjadi BPaL, yaitu bedaquiline, pretomanid, dan linezolid untuk kondisi tertentu.
Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru pada September 2026 mempertahankan BPaLM selama enam bulan sebagai pilihan bagi banyak pasien dengan TBC resistan rifampisin atau TBC multidrug-resistant yang memenuhi syarat.
Untuk TBC paru pre-XDR, yaitu TBC resistan obat yang juga kebal terhadap fluoroquinolone, WHO menyesuaikan rekomendasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Pilihannya dapat mencakup BPaL atau BPaLC, yaitu BPaL dengan tambahan clofazimine.
Regimen dan kelayakan pasien harus ditentukan oleh tim yang menangani TBC resistan obat.
TBC resistan obat bukan berarti selalu terjadi karena pasien tidak disiplin minum obat. Seseorang juga bisa tertular bakteri yang sejak awal sudah kebal terhadap obat tertentu. Namun, minum obat tidak teratur atau menghentikannya tanpa arahan dokter dapat mengganggu keberhasilan pengobatan.
TBC laten mendapat terapi pencegahan

ilustrasi obat-obatan TBC (IDN Times/Aditya Pratama) Ada pula infeksi TBC yang belum menimbulkan penyakit aktif. Orang dengan infeksi laten umumnya tidak bergejala dan tidak menularkan TBC, tetapi sebagian dapat berkembang menjadi sakit. Dalam situasi tertentu, dokter dapat menawarkan Terapi Pencegahan TBC (TPT) setelah memastikan pasien tidak mengalami TBC aktif.
Obat TPT antara lain isoniazid selama enam bulan (6H), kombinasi isoniazid dan rifapentin mingguan selama tiga bulan (3HP), atau isoniazid dan rifampisin setiap hari selama tiga bulan (3HR).
Beberapa regimen alternatif, seperti 1HP dan 4R,digunakan sesuai pertimbangan klinis dan ketersediaan.
TPT bukan pengganti pengobatan untuk orang yang sudah sakit TBC aktif.
Kenali efek samping dan sampaikan obat lain yang digunakan
Sebagian efek obat perlu dipantau. Rifampisin atau rifapentin dapat membuat urine, air mata, dan keringat berwarna oranye kemerahan. Perubahan warna ini umumnya tidak berbahaya, tetapi rifamisin dapat menodai lensa kontak lunak secara permanen.
Rifampisin dan rifapentin juga dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, termasuk beberapa kontrasepsi hormonal, obat pengencer darah, dan obat HIV.
Karena itu, beri tahu dokter mengenai obat, vitamin, atau kontrasepsi yang sedang digunakan.
Segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan jika muncul mata atau kulit menguning, urine gelap, mual atau muntah yang menetap, ruam, mudah memar atau berdarah, kesemutan yang terus berlangsung, atau perubahan penglihatan. Dokter dapat menilai apakah perlu pemeriksaan atau penyesuaian obat.
Pengobatan TBC membutuhkan kombinasi obat yang sesuai dengan hasil pemeriksaan. Jika batuk membaik, itu kabar baik, tetapi pasien tetap perlu mengikuti jadwal dan lama pengobatan yang sudah ditentukan. Jika ada dosis terlewat atau efek samping, untuk menentukan langkah selanjutnya yang aman.
Referensi
Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat di Indonesia (2025), diakses 6 November 2026.
Susan E. Dorman et al., “Four-Month Rifapentine Regimens with or without Moxifloxacin for Tuberculosis,” New England Journal of Medicine 384, no. 18 (May 6, 2021): 1705–18, https://doi.org/10.1056/NEJMoa2033400.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Lembar Balik Kader TBC, bagian “Pengobatan TBC Kebal Obat” (2025), diakses 6 November 2026.
World Health Organization, WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 4: Treatment and Care, 2nd ed., diakses 6 November 2026.
World Health Organization, “WHO Updates Guidelines on Drug-Resistant Tuberculosis and Palliative Care,” diakses 6 November 2026.
World Health Organization, WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 1: Prevention—Tuberculosis Preventive Treatment, 2nd ed., diakses 6 November 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Adverse Events During TB Treatment,” diakses 6 November 2026.






















