Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Migrain Bisa Disertai Mual dan Muntah? Ini Penjelasannya

3 min read
Kenapa Migrain Bisa Disertai Mual dan Muntah? Ini Penjelasannya
ilustrasi migrain (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Migrain melibatkan jaringan saraf dan batang otak yang mengatur nyeri, fungsi otonom, mual, serta muntah, sehingga gejala kepala dan perut dapat muncul bersamaan.

  • Pada sebagian penderita, migrain memperlambat gerak lambung, memperparah mual atau begah dan memengaruhi penyerapan obat oral; muntah dini perlu disampaikan kepada dokter.

  • Sakit kepala mendadak sangat hebat atau berbeda, terutama dengan demam, leher kaku, kebingungan, kejang, gangguan penglihatan, kelemahan, sulit bicara, atau setelah cedera kepala, perlu segera diperiksa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Migrain tidak hanya menyebabkan sakit kepala berdenyut yang rasanya bisa sangat menyiksa. Bagi sejumlah orang, serangan migrain juga disertai rasa mual, muntah, serta kepekaan yang meningkat terhadap cahaya, suara, atau bau tertentu. Bahkan, pada sebagian penderita, mual bisa terasa sama mengganggunya dengan nyeri kepala itu sendiri.

Apa yang membuat migrain bisa terkait dengan mual hingga muntah? Berikut ini penjelasannya.

  1. Migrain melibatkan jaringan otak yang mengatur mual

    Migrain bukan sekadar sakit kepala. Serangannya melibatkan jaringan saraf yang memproses nyeri dan berbagai sensasi tubuh. Sejumlah bagian batang otak juga berperan dalam mengatur respons otonom—fungsi tubuh yang berlangsung otomatis—serta jalur yang berkaitan dengan mual dan muntah. Karena jaringan-jaringan ini saling berhubungan, gejala di kepala dan perut bisa muncul bersamaan.

    Sebuah studi pencitraan PET skala kecil memberi petunjuk tentang hubungan tersebut. Pada 10 orang yang dipindai, peneliti mengamati aktivitas di area batang otak pada peserta yang mengalami mual sebelum sakit kepala muncul. Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa mual merupakan bagian dari proses migrain di otak, bukan hanya reaksi tubuh terhadap nyeri yang sudah terasa. Namun, penelitian itu bersifat awal dan melibatkan sedikit peserta, sehingga mekanisme pastinya masih diteliti.

  2. Kaitan otak dan lambung juga berperan

    Seorang perempuan duduk di tepi ranjang sambil memegang kepala, mengilustrasikan nyeri migrain dan sakit kepala.
    ilustrasi migrain (magnific.com/jcomp)

    Otak dan saluran cerna berkomunikasi melalui saraf dan sistem otonom. Saat migrain terjadi, gerak lambung dapat melambat pada sebagian orang. Makanan atau obat yang diminum pun bisa lebih lambat bergerak dari lambung, yang dapat menambah rasa begah atau mual dan memengaruhi penyerapan obat oral. Hubungan ini kompleks, jadi lambung yang melambat bukan satu-satunya penjelasan untuk mual pada setiap serangan migrain.

    Jika muntah muncul sejak awal serangan atau membuat obat oral sulit dikonsumsi, sampaikan ini kepada dokter. Rekomendasi International Headache Society menyebutkan bahwa pada kondisi muntah dini, dokter dapat mempertimbangkan obat serangan migrain dalam bentuk nonoral, bergantung pada riwayat dan kebutuhan pasien. Jangan mengubah obat atau dosis sendiri.

  3. Kenali kapan sakit kepala perlu segera diperiksa

    Mual dan muntah dapat menyertai migrain, tetapi sakit kepala yang mendadak sangat hebat atau terasa berbeda dari biasanya perlu dinilai segera. Cari pertolongan medis apabila sakit kepala disertai demam dan leher kaku, kebingungan, kejang, penglihatan ganda, kebas atau kelemahan, sulit berbicara, atau muncul setelah cedera kepala. Gejala tersebut dapat menandakan kondisi lain yang perlu ditangani secepat mungkin.

    Referensi

    Headache Classification Committee of the International Headache Society, “1.1 Migraine without Aura,” International Classification of Headache Disorders, 3rd ed., diakses 6 November 2026.

    Maria Dolores Villar-Martinez and Peter J. Goadsby, “Pathophysiology and Therapy of Associated Features of Migraine,” Cells 11, no. 17 (2022): 2767, https://doi.org/10.3390/cells11172767.

    Farooq H. Maniyar, Till Sprenger, Christoph Schankin, and Peter J. Goadsby, “The Origin of Nausea in Migraine—A PET Study,” The Journal of Headache and Pain 15, no. 1 (2014): 84, https://doi.org/10.1186/1129-2377-15-84.

    Linda Nguyen, Nada Hindiyeh, Sutapa Ray, Robert E. Vann, and Sheena K. Aurora, “The Gut-Brain Connection and Episodic Migraine: An Update,” Current Pain and Headache Reports 27, no. 11 (2023): 765–74, https://doi.org/10.1007/s11916-023-01175-6.

    Francesca Puledda et al., “International Headache Society Global Practice Recommendations for the Acute Pharmacological Treatment of Migraine,” Cephalalgia 44, no. 8 (2024), https://doi.org/10.1177/03331024241252666.

    Mayo Clinic, “Migraine: Symptoms and Causes,” diakses 6 November 2026.

Related Articles

See More