Pada kondisi tertentu, rutinitas lari yang berlebihan justru bisa membuat gairah seksual menurun. Tubuh yang terus-menerus dipaksa menghadapi beban latihan berat dapat mengalami kelelahan, kekurangan energi, hingga perubahan hormon. Lantas, kenapa libido bisa menurun ketika seseorang terlalu sering berlari? Berikut beberapa faktor yang perlu diketahui.
Kenapa Libido Bisa Menurun saat Seseorang Terlalu Sering Berlari?

Lari berintensitas tinggi tanpa pemulihan cukup dapat menurunkan libido melalui gangguan testosteron, peningkatan kortisol, kelelahan, dan perubahan keseimbangan hormon reproduksi.
Kekurangan asupan energi saat frekuensi atau jarak lari meningkat dapat memicu RED-S, menghambat pemulihan, mengganggu hormon seks, serta mengurangi gairah seksual.
Pada wanita, latihan berlebihan dapat mengganggu menstruasi dan estrogen; risiko dapat dikurangi dengan istirahat, nutrisi cukup, intensitas teratur, tidur berkualitas, serta konsultasi medis bila keluhan menetap.
Olahraga lari sering dikaitkan dengan tubuh yang lebih bugar, stamina meningkat, dan kesehatan yang terjaga. Aktivitas fisik secara teratur memang dapat mendukung kesehatan seksual karena membantu melancarkan peredaran darah serta menjaga keseimbangan metabolisme. Namun, manfaat tersebut tidak selalu berlaku jika seseorang berlari terlalu sering dengan intensitas tinggi tanpa memberikan waktu pemulihan yang cukup.
1. Produksi hormon testosteron dapat terganggu

ilustrasi lari (pexels.com/The Lazy Artist Gallery) Latihan daya tahan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang yang dilakukan secara berlebihan dapat memengaruhi sistem hormon reproduksi. Pada pria, kondisi ini berpotensi mengganggu komunikasi antara hipotalamus, kelenjar hipofisis, dan testis yang berperan mengatur produksi testosteron. Jika gangguan berlangsung dalam jangka panjang, kadar testosteron dapat menurun dan memengaruhi libido.
Testosteron memang berperan dalam mengatur libido, baik pada pria maupun wanita, meskipun kadarnya dan pengaruhnya terhadap tubuh berbeda. Penurunan hormon ini juga dapat disertai keluhan lain, seperti mudah lelah, perubahan suasana hati, berkurangnya massa otot, atau gangguan fungsi seksual. Meski begitu, tidak semua pelari jarak jauh mengalami penurunan testosteron karena respons tubuh dipengaruhi oleh beban latihan, asupan nutrisi, kualitas tidur, dan kondisi kesehatan masing-masing.
2. Hormon stres meningkat akibat beban latihan berlebihan

ilustrasi stres (unsplash.com/Malachi Cowie) Berlari merupakan aktivitas fisik yang memberikan tekanan pada tubuh, terutama ketika dilakukan dalam durasi panjang atau dengan intensitas tinggi. Tubuh akan merespons tekanan tersebut dengan melepaskan hormon kortisol yang membantu menyediakan energi selama aktivitas berlangsung. Peningkatan kortisol dalam waktu singkat merupakan respons normal, tetapi beban latihan yang terus menumpuk tanpa pemulihan memadai, dapat membuat tubuh kesulitan mengatur respons stresnya.
Ketika tubuh terus berada dalam kondisi tertekan, keseimbangan hormon yang berkaitan dengan fungsi reproduksi dapat ikut terganggu. Energi dan sumber daya tubuh lebih banyak digunakan untuk menghadapi tuntutan fisik serta memperbaiki jaringan setelah latihan. Situasi tersebut dapat memengaruhi suasana hati, kualitas tidur, dan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual.
3. Kekurangan energi membuat tubuh kesulitan memulihkan diri

ilustrasi kekurangan energi (pexels.com/Andres Ayrton) Pelari yang meningkatkan jarak atau frekuensi latihan tanpa menambah asupan makanan, berisiko mengalami kekurangan energi. Kalori yang masuk tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan aktivitas fisik sekaligus menjalankan fungsi dasar tubuh. Kondisi ini dikenal sebagai Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S), yaitu masalah kesehatan yang muncul ketika ketersediaan energi terlalu rendah dalam jangka waktu tertentu.
Ketika energi tidak mencukupi, tubuh dapat mengurangi aktivitas sejumlah sistem biologis, termasuk sistem reproduksi. Produksi hormon seks bisa terganggu sehingga libido menurun. Kekurangan energi juga membuat proses pemulihan berjalan kurang optimal dan menyebabkan seseorang lebih mudah merasa lelah. Akibatnya, tubuh mungkin tidak memiliki cukup tenaga untuk menjalani aktivitas lain di luar jadwal latihan, termasuk kehidupan seksual.
4. Siklus menstruasi dan hormon reproduksi wanita dapat terganggu

ilustrasi menstruasi (pexels.com/Cliff Booth) Dampak latihan berlebihan juga bisa dialami pelari wanita, terutama jika aktivitas fisik tidak diimbangi asupan energi yang memadai. Ketersediaan energi yang terlalu rendah dapat mengganggu komunikasi hormon antara otak dan ovarium sehingga produksi hormon reproduksi ikut berubah. Salah satu dampaknya adalah penurunan estrogen yang dapat memengaruhi gairah seksual serta kesehatan reproduksi.
Gangguan tersebut terkadang terlihat dari perubahan siklus menstruasi, seperti jadwal haid yang menjadi tidak teratur atau bahkan berhenti sementara. Kondisi ini dikenal sebagai amenore jika menstruasi tidak terjadi selama periode tertentu. Penurunan estrogen juga dapat menimbulkan keluhan lain, termasuk vagina terasa kering dan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual. Jika perubahan menstruasi muncul setelah peningkatan beban latihan, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai konsekuensi olahraga yang biasa.
5. Kelelahan fisik membuat minat terhadap aktivitas seksual berkurang

ilustrasi tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto) Latihan lari yang berat membutuhkan energi dan waktu pemulihan yang tidak sedikit. Jika seseorang terus berlari tanpa jeda istirahat yang cukup, rasa lelah dapat menumpuk dari hari ke hari. Kondisi ini bisa membuat tubuh terasa berat, otot belum pulih sepenuhnya, dan aktivitas sehari-hari menjadi lebih melelahkan.
Kelelahan yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis. Seseorang mungkin lebih mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, atau kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang biasanya menyenangkan. Dalam keadaan seperti ini, keinginan untuk berhubungan seksual dapat ikut berkurang karena tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk beristirahat. Penurunan libido tersebut bisa menjadi salah satu tanda bahwa beban latihan perlu dievaluasi.
6. Cara mencegah penurunan libido akibat terlalu sering berlari

ilustrasi lari (pexels.com/Ketut Subiyanto) Rutinitas lari tidak harus dihentikan sepenuhnya ketika seseorang ingin menjaga kesehatan seksual. Hal yang lebih penting adalah memastikan latihan sejalan dengan kemampuan tubuh dan tidak mengorbankan kebutuhan pemulihan. Beberapa penyesuaian berikut dapat membantu mengurangi risiko kelelahan akibat latihan berlebihan.
Sediakan waktu istirahat: Atur hari tanpa latihan lari atau lakukan aktivitas ringan agar otot dan tubuh memiliki kesempatan untuk pulih. Jangan memaksakan diri menyelesaikan jadwal latihan ketika tubuh masih terasa sangat lelah.
Penuhi kebutuhan kalori dan nutrisi: Konsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat, protein, dan lemak sehat yang cukup untuk mengganti energi selama berlari. Asupan makanan juga perlu disesuaikan ketika jarak dan durasi latihan meningkat.
Atur intensitas latihan: Hindari melakukan sesi lari berat setiap hari. Selang-seling latihan intensitas tinggi dengan sesi ringan atau pemulihan agar tubuh tidak terus menerima beban yang sama.
Perhatikan kualitas tidur: Usahakan tidur cukup dan teratur karena proses pemulihan fisik serta pengaturan hormon turut berlangsung selama istirahat. Kurang tidur dapat memperburuk kelelahan yang sudah muncul akibat latihan.
Jangan abaikan perubahan tubuh: Penurunan libido yang menetap, gangguan menstruasi, kelelahan berkepanjangan, atau perubahan fungsi seksual perlu diperhatikan. Konsultasikan keluhan tersebut kepada tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya, bukan langsung menganggapnya sebagai efek lari.
Penyesuaian latihan sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing orang, bukan hanya mengikuti batas tertentu. Kebutuhan pemulihan pelari pemula tentu berbeda dari pelari yang sudah terbiasa menempuh jarak jauh. Jika keluhan tetap muncul meskipun beban latihan sudah dikurangi, pemeriksaan medis diperlukan untuk menilai kemungkinan penyebab lain.
Menjaga kebugaran tidak selalu berarti menambah jarak tempuh atau memperbanyak jadwal latihan setiap minggu. Tubuh juga membutuhkan makanan yang cukup, tidur berkualitas, dan waktu istirahat agar manfaat olahraga bisa dirasakan secara optimal. Jadi, jangan abaikan perubahan gairah seksual karena bisa saja tubuh sedang memberi sinyal bahwa rutinitas lari perlu disesuaikan.
Referensi:
"Marathon Running and Sexual Libido in Adult Men: Exercise Training and Racing Effects." Journal of Endocrinological Science. Diakses pada Oktober 2026
"Why Is Your Libido Lower After Exercise?" Vitals Vault. Diakses pada Oktober 2026
"Running and Sex: Does Running Increase Sex Drive?" Hims. Diakses pada Oktober 2026
"Running and Sex Drive." Trail Runner. Diakses pada Oktober 2026























