Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Mitos Heatstroke yang Masih Banyak Dipercaya, Ini Faktanya!
ilustrasi seorang wanita mengalami heatstroke (magnific.com/katemangostar)
  • Banyak mitos tentang heatstroke masih dipercaya, seperti hanya terjadi di bawah sinar matahari langsung atau bisa sembuh sendiri, padahal kondisi ini bisa muncul di tempat panas tertutup dan berisiko fatal.
  • Minum air saja tidak cukup mencegah heatstroke; tubuh juga perlu istirahat, pakaian sesuai, serta lingkungan sejuk agar suhu tubuh tetap stabil dan tidak meningkat berlebihan.
  • Heatstroke berbeda dari kelelahan akibat panas biasa karena dapat mengganggu fungsi otak dan organ vital, sehingga memerlukan penanganan medis cepat untuk mencegah komplikasi serius.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah merasa cuaca panas bukan lagi sekadar bikin gerah, tetapi juga membuat tubuh terasa cepat lemas, pusing, atau sulit berkonsentrasi? Dengan meningkatnya suhu belakangan ini, topik tentang heatstroke semakin banyak dibicarakan, namun sayangnya masih terdapat banyak informasi yang campur aduk dengan berbagai mitos. Akibatnya, banyak orang yang membuat pilihan yang salah karena percaya pada apa yang mereka dengar selama ini dianggap sebagai fakta.

Contohnya, beberapa orang meyakini bahwa heatstroke hanya dapat terjadi pada mereka yang melakukan aktivitas fisik di bawah sinar matahari yang terik atau berpikir bahwa minum air dingin dapat mengatasi masalah tersebut secara instan. Nyatanya, beberapa keyakinan tersebut belum tentu akurat dan bahkan dapat mengakibatkan penanganan heatstroke terlambat saat keadaan sudah kritis. Agar tidak terjebak dalam informasi yang salah, yuk simak lima mitos tentang heatstroke yang masih banyak dipercaya beserta fakta medis di baliknya.

1. Heatstroke hanya terjadi saat berada di bawah sinar matahari langsung

ilustrasi olahraga di luar ruangan (magnific.com/lifestylememory)

Banyak yang berkeyakinan bahwa heatstroke hanya bisa muncul ketika seseorang beraktivitas di bawah matahari yang terik. Namun, kondisi ini juga bisa terjadi di tempat-tempat dengan suhu tinggi dan minim ventilasi, seperti ruangan tertutup atau kendaraan yang diparkir tanpa adanya sirkulasi udara yang baik. Ketika tubuh tidak dapat mengatur suhu dengan baik, suhu internal dapat terus meningkat meskipun seseorang tidak terpapar sinar matahari langsung.

Akibatnya, risiko mengalami heatstroke masih ada, terutama bagi lansia, anak-anak, atau mereka dengan kondisi medis tertentu. Misalnya, seseorang yang terjebak di dalam mobil yang tidak berfungsi selama beberapa menit di cuaca ekstrem tetap berpotensi menghadapi masalah akibat panas. Maka dari itu, penting untuk tidak hanya mengandalkan keberadaan sinar matahari sebagai patokan, tetapi juga memperhatikan suhu lingkungan dan keadaan tubuh.

2. Minum air saja sudah cukup untuk mencegah heatstroke

ilustrasi minum air es (freepik.com/jcomp)

Membawa botol air minum ketika cuaca panas adalah kebiasaan yang baik. Namun, hanya bergantung pada air minum tidak selalu memadai untuk mencegah heatstroke jika tubuh terus-menerus terpapar suhu tinggi tanpa jeda untuk istirahat. Tubuh perlu waktu untuk mendinginkan diri melalui berteduh, mengurangi aktivitas berat, dan mengenakan pakaian yang sesuai.

Jika semua aspek tersebut dilupakan, suhu tubuh bisa terus meningkat meskipun kebutuhan cairan sudah terpenuhi. Sebagai contoh, seseorang yang bekerja di luar ruangan masih berisiko terkena heatstroke walaupun rutin minum air jika tidak pernah beristirahat di tempat yang sejuk. Oleh sebab itu, langkah pencegahan heatstroke harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pemenuhan cairan.

3. Heatstroke sama dengan kelelahan karena cuaca panas

ilustrasi heatstroke (magnific.com/stockking)

Masih banyak orang yang menyamakan heatstroke dengan kelelahan karena suhu tinggi atau heat exhaustion. Sekilas, gejalanya memang mirip karena keduanya bisa mengakibatkan tubuh lemas, pusing, dan berkeringat. Namun, heatstroke adalah kondisi yang jauh lebih serius karena suhu tubuh dapat melonjak hingga mengganggu fungsi otak dan organ penting lainnya.

Jika dianggap sebagai kelelahan biasa, penanganannya sering kali terlambat dan meningkatkan risiko komplikasi. Misalnya, seseorang mungkin merasa tetap bisa beraktivitas karena berpikir hanya kurang istirahat, padahal tubuhnya sudah dalam kondisi yang lebih buruk. Memahami perbedaan antara kedua kondisi ini adalah kunci untuk memberikan perawatan yang tepat bisa diberikan sedini mungkin.

4. Orang yang masih berkeringat tidak mungkin mengalami heatstroke

ilustrasi tubuh berkeringat (magnific.com/stockking)

Banyak orang percaya bahwa heatstroke hanya terjadi jika seseorang berhenti berkeringat. Namun, kenyataannya, tidak semua yang mengalami heatstroke memiliki kulit yang sepenuhnya kering karena beberapa masih dapat berkeringat, terutama jika disebabkan oleh kegiatan fisik yang intens. Hal ini sering kali menyebabkan gejala awal terlewat karena orang hanya berpatokan pada satu tanda saja.

Sebenarnya, heatstroke juga ditandai dengan suhu tubuh yang tinggi, kebingungan, peningkatan detak jantung, dan bahkan mual. Contohnya, seorang pelari atau pesepeda yang menempuh jarak jauh mungkin tetap berkeringat deras meskipun tubuhnya sudah terpengaruh oleh panas. Oleh karena itu, sebaiknya tidak mengevaluasi kondisi hanya berdasarkan keberadaan keringat, tetapi perhatikan seluruh gejala yang muncul.

5. Heatstroke akan membaik dengan sendirinya setelah beristirahat

ilustrasi istirahat sebentar saat perjalanan jauh (freepik.com/freepik)

Sebagian orang cenderung langsung tidur atau duduk santai saat merasa tidak enak badan akibat cuaca panas. Namun, jika yang dialami adalah heatstroke, sekadar beristirahat mungkin tidak cukup untuk menurunkan suhu tubuh ke tingkat aman. Kondisi ini merupakan situasi darurat medis yang memerlukan respons cepat agar kerusakan organ tidak terjadi.

Menunda pertolongan justru berpotensi meningkatkan risiko komplikasi serius, bahkan mengancam jiwa. Sebagai contoh, orang yang sudah merasa kebingungan atau kehilangan kesadaran perlu mendapatkan bantuan medis sesegera mungkin, bukan hanya menunggu tubuh pulih secara alami. Karena itu, jangan ragu untuk mencari bantuan darurat jika gejala heatstroke muncul dan tidak kunjung membaik.

Masih banyak mitos tentang heatstroke yang beredar di masyarakat, padahal informasi yang keliru bisa membuat penanganan menjadi terlambat dan meningkatkan risiko komplikasi. Memahami fakta yang benar membantu kamu mengenali gejala lebih cepat sekaligus mengambil langkah yang tepat untuk melindungi diri saat cuaca sedang panas. Jadi, jangan mudah percaya mitos yang belum jelas kebenarannya, ya, dan selalu utamakan informasi yang sudah terbukti secara medis.

Referensi

“Heatstroke.” StatPearls Publishing, NCBI Bookshelf. Diakses Juni 2026.

“Heat and Health.” World Health Organization (WHO). Diakses Juni 2026.

“Heat-Related Illnesses and Heat Stress.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Juni 2026.

“Heatstroke: Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses Juni 2026.

“Protecting Workers from Heat Illness.” Occupational Safety and Health Administration (OSHA). Diakses Juni 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article