Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
9 Mitos Kesehatan Puasa Ramadan, Berat Badan Pasti Turun?
ilustrasi beribadan di bulan Ramadan (pexels.com/Fatma Sönmez)
  • Tidak semua keluhan saat puasa berarti puasa berbahaya; banyak yang bisa dijelaskan secara fisiologis.

  • Puasa Ramadan, apabila dijalani dengan benar, pada banyak penelitian justru menunjukkan dampak netral hingga positif pada kesehatan metabolik.

  • Kondisi medis tertentu tetap memerlukan evaluasi dokter sebelum berpuasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan menghadirkan dinamika yang unik, termasuk dalam hal kesehatan. Di satu sisi, puasa diyakini membawa manfaat spiritual dan fisik. Di sisi lain, berbagai mitos terus beredar, mulai dari puasa bikin maag hingga tidak boleh berolahraga. Informasi yang setengah benar ini sering kali membuat orang ragu atau bahkan takut berpuasa.

Secara medis, puasa Ramadan adalah bentuk intermittent fasting dengan pola waktu yang khas, yaitu tidak makan dan minum dari fajar hingga matahari terbenam. Banyak penelitian telah menelaah dampaknya terhadap metabolisme, berat badan, gula darah, hingga kesehatan jantung. Hasilnya tidak sesederhana hitam dan putih.

Berikut ini dipaparkan beberapa mitos kesehatan seputar puasa Ramadan lengkap dengan penjelasan di balik mitos tersebut dan faktanya.

1. Mitos: Puasa pasti bikin gangguan lambung kambuh

Banyak orang percaya lambung kosong berjam-jam akan otomatis meningkatkan asam lambung dan memicu gastritis. Padahal, secara fisiologis, produksi asam lambung dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk stres, jenis makanan, dan kebiasaan makan berlebihan.

Sebuah studi menunjukkan bahwa pada individu sehat, puasa Ramadan tidak terbukti menyebabkan peningkatan signifikan gangguan lambung. Bahkan pada sebagian orang, pola makan yang lebih teratur justru membantu mengurangi keluhan dispepsia (maag).

Namun, pada pasien dengan tukak lambung aktif atau GERD berat, risiko kekambuhan tetap ada. Maka dari itu, pasien-pasien ini sangat disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum berpuasa.

2. Mitos: Puasa menyebabkan dehidrasi berat

ilustrasi pusing dan lemas saat puasa (pexels.com/Ron Lach)

Tidak minum selama 12–14 jam memang terdengar mengkhawatirkan. Namun, tubuh memiliki mekanisme adaptasi, termasuk peningkatan hormon antidiuretik untuk mengurangi kehilangan cairan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi cuaca moderat, puasa Ramadan tidak selalu menyebabkan dehidrasi signifikan pada orang sehat. Kuncinya adalah asupan cairan yang cukup saat sahur dan berbuka.

Meski demikian, risiko meningkat pada pekerja luar ruangan, atlet intens, atau cuaca panas ekstrem. Sangat penting untuk memastikan hidrasi yang memadai dan kewaspadaan terhadap tanda heat illness seperti pusing hebat atau kebingungan.

3. Mitos: Puasa pasti menurunkan berat badan

Banyak orang berharap berat badan turun saat Ramadan. Faktanya, penelitian menunjukkan hasil yang bervariasi.

Sebuah penelitian menemukan penurunan berat badan selama Ramadan umumnya ringan dan sering kali kembali naik setelah Ramadan berakhir. Artinya, puasa bukan jaminan berat badan turun jika pola makan saat berbuka berlebihan.

Lonjakan konsumsi gula dan makanan tinggi lemak saat berbuka justru bisa mengimbangi defisit kalori siang hari. Jadi, hasil akhirnya sangat tergantung pada kualitas asupan dan kontrol porsi.

4. Mitos: Tidak boleh olahraga saat puasa

ilustrasi ikut kelas olahraga saat puasa Ramadan (pexels.com/www.kaboompics.com)

Olahraga sering dianggap berbahaya saat puasa karena takut pingsan atau dehidrasi. Padahal, aktivitas fisik ringan hingga sedang tetap aman bagi kebanyakan orang sehat.

Penelitian menyebut, latihan intensitas ringan–sedang selama Ramadan dapat dilakukan dengan penyesuaian waktu dan intensitas. Banyak ahli menyarankan olahraga mendekati waktu berbuka agar rehidrasi bisa segera dilakukan.

Yang perlu dihindari adalah latihan berat pada siang hari saat suhu tinggi, terutama tanpa adaptasi yang memadai.

5. Mitos: Gula darah pasti turun drastis

Hipoglikemia (kadar gula darah rendah) memang bisa terjadi, terutama pada individu dengan diabetes yang menggunakan insulin atau obat tertentu. Namun, pada orang sehat, tubuh mampu menjaga kadar glukosa melalui mekanisme glikogenolisis dan glukoneogenesis.

Pasien diabetes bisa tetap berpuasa dengan evaluasi risiko dan penyesuaian terapi oleh dokter.

Dengan pemantauan yang tepat, banyak pasien diabetes tipe 2 berisiko rendah dapat menjalankan puasa dengan aman.

6. Mitos 6: Puasa melemahkan sistem imun

ilustrasi tubuh sehat (freepik.com/benzoix)

Kekhawatiran ini meningkat sejak pandemi. Namun, bukti ilmiah yang ada tidak menunjukkan bahwa puasa Ramadan melemahkan sistem imun pada orang sehat.

Beberapa studi imunologi menunjukkan, perubahan ringan pada parameter imun, tetapi tidak mengarah pada penurunan fungsi klinis signifikan. Bahkan, pola intermittent fasting dalam konteks tertentu dikaitkan dengan perbaikan penanda inflamasi/peradangan.

Tentu saja, individu dengan penyakit kronis atau kondisi imunokompromais tetap memerlukan konsultasi medis sebelum berpuasa.

7. Mitos: Semua orang bisa puasa apa pun kondisinya

Secara medis dan juga dalam prinsip kesehatan global, kondisi tertentu memang menjadi pengecualian.

Orang dengan penyakit akut berat, ibu hamil berisiko tinggi, lansia yang rapuh, dan pasien dengan kondisi kronis tidak stabil sebaiknya tidak berpuasa tanpa pengawasan medis.

Keselamatan tetap prioritas utama. Dalam praktik klinis, keputusan berpuasa idealnya berdasarkan penilaian individual, bukan tekanan sosial.

8. Mitos: Puasa menyebabkan asam urat naik

ilustrasi mengalami gejala penyakit asam urat (pexels.com/RDNE Stock project)

Sebagian orang menghindari puasa karena takut kadar asam urat melonjak. Kekhawatiran ini muncul karena saat berpuasa tubuh memecah cadangan energi, termasuk lemak, yang dapat meningkatkan produksi badan keton. Keton dalam kadar tinggi dapat menghambat ekskresi asam urat melalui ginjal.

Beberapa penelitian memang menunjukkan bahwa pada awal Ramadan dapat terjadi peningkatan sementara kadar asam urat, terutama pada laki-laki. Namun, kenaikan ini umumnya bersifat ringan dan sementara, serta kembali stabil setelah tubuh beradaptasi dengan pola puasa.

Kuncinya tetap pada pola makan saat berbuka dan sahur. Konsumsi berlebihan makanan tinggi purin seperti jeroan, daging merah, dan minuman manis tinggi fruktosa justru lebih berkontribusi terhadap lonjakan asam urat dibanding puasa itu sendiri. Bagi pasien gout aktif, evaluasi dokter tetap dianjurkan sebelum berpuasa.

9. Mitos: Puasa membahayakan jantung

Anggapan bahwa tidak makan dan minum berjam-jam akan membebani jantung kerap terdengar. Padahal, sejumlah penelitian justru menunjukkan efek netral hingga positif terhadap faktor risiko kardiovaskular.

Sebuah penelitian melaporkan bahwa puasa Ramadan dapat memperbaiki profil lipid tertentu, termasuk penurunan LDL pada sebagian populasi. Studi lain juga menunjukkan perbaikan tekanan darah ringan pada individu sehat.

Pasien penyakit jantung stabil dapat berpuasa dengan pengawasan medis dan penyesuaian obat. Namun, pada pasien dengan gagal jantung tidak stabil, angina tidak terkontrol, atau baru mengalami serangan jantung, puasa tentu tidak dianjurkan tanpa evaluasi dokter.

Artinya, puasa bukan otomatis berbahaya bagi jantung, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing.

Puasa telah banyak diteliti secara ilmiah. Sebagian besar mitos yang beredar tidak sepenuhnya akurat atau terlalu disederhanakan. Pada individu sehat, puasa cenderung aman dan bahkan bisa memberikan manfaat jika dijalani dengan pola makan dan gaya hidup yang tepat. Namun, kondisi medis tertentu butuh pertimbangan khusus. Konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah paling bijak, terutama bagi orang yang memiliki penyakit kronis.

Referensi

Fereidoun Azizi, “Islamic Fasting and Health,” Annals of Nutrition and Metabolism 56, no. 4 (January 1, 2010): 273–82, https://doi.org/10.1159/000295848.

S Javad Fallah, “Ramadan Fasting and Exercise Performance,” Asian Journal of Sports Medicine 1, no. 3 (September 1, 2010): 130, https://doi.org/10.5812/asjsm.34859.

Ramin Kordi et al., “Investigating Two Different Training Time Frames During Ramadan Fasting,” Asian Journal of Sports Medicine 2, no. 3 (September 1, 2011): 205–10, https://doi.org/10.5812/asjsm.34774.

World Health Organization. “Healthy Hydration Guidelines.” Diakses Maret 2026.

Seval Kul et al., “Does Ramadan Fasting Alter Body Weight and Blood Lipids and Fasting Blood Glucose in a Healthy Population? A Meta-analysis,” Journal of Religion and Health 53, no. 3 (February 19, 2013): 929–42, https://doi.org/10.1007/s10943-013-9687-0.

Chaouachi Anis et al., “Effects of Ramadan Intermittent Fasting on Sports Performance and Training: A Review,” International Journal of Sports Physiology and Performance 4, no. 4 (December 1, 2009): 419–34, https://doi.org/10.1123/ijspp.4.4.419.

International Diabetes Federation & Diabetes and Ramadan International Alliance. "IDF-DAR Practical Guidelines 2021." Diakses Maret 2026.

Mo’ez Al-Islam” E. Faris et al., “Intermittent Fasting During Ramadan Attenuates Proinflammatory Cytokines and Immune Cells in Healthy Subjects,” Nutrition Research 32, no. 12 (October 5, 2012): 947–55, https://doi.org/10.1016/j.nutres.2012.06.021.

Imtiaz Salim et al., “Impact of Religious Ramadan Fasting on Cardiovascular Disease: A Systematic Review of the Literature,” Current Medical Research and Opinion 29, no. 4 (February 7, 2013): 343–54, https://doi.org/10.1185/03007995.2013.774270.

Abid Mohammed Akhtar et al., “Ramadan Fasting: Recommendations for Patients With Cardiovascular Disease,” Heart 108, no. 4 (May 14, 2021): 258–65, https://doi.org/10.1136/heartjnl-2021-319273.

Editorial Team