Comscore Tracker

Cacar Monyet Bersifat Self-Limiting dan Bisa Sembuh Sendiri

Tergantung daya tahan tubuh seseorang

Cacar monyet atau monkeypox menjadi topik yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Apalagi, sejak ada pasien suspek cacar monyet di Jawa Tengah. Tentu ini menambah kekhawatiran karena pandemik COVID-19 belum selesai.

Untuk meredakan kegelisahan masyarakat, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengadakan media group interview dengan dr. Hanny Nilasari, SpKK, Ketua Satgas Monkeypox pada Jumat (5/8/2022). Berikut pemaparannya!

1. Paling banyak menyerang wajah

Menurut dr. Hanny, gejala cacar monyet yang dominan adalah:

  • Kelainan kulit (lenting, bintil, nanah).
  • Lesi cacar yang letaknya berdekatan.
  • Demam.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot atau mialgia.
  • Rasa tidak nyaman di saluran tenggorok.
  • Pembesaran kelenjar getah bening atau adenopati.

Ia mengatakan bahwa lebih dari 50 persen kasus cacar monyet menyerang wajah. Lalu di batang tubuh, seperti lengan, perut, badan, dan punggung. Selain itu, kadang terlihat di telapak tangan, telapak kaki, serta mukosa (area mata, mulut, hingga di sekitar anus dan area genital).

2. Berat atau tidaknya gejala tergantung imunitas seseorang

Cacar Monyet Bersifat Self-Limiting dan Bisa Sembuh Sendiriilustrasi sistem imun (pixabay.com/Bru-nO)

Sama seperti infeksi virus lainnya, cacar monyet mudah menular. Ini tergantung daya tahan tubuh kita. Kalau daya tahan tubuh kuat, gejalanya cenderung ringan dan bersifat lokal.

Sebaliknya, kalau daya tahan tubuh lemah, gejalanya bisa berat dan muncul di seluruh tubuh. Kalangan yang paling rentan adalah bayi, anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki masalah sistem imun (immunocompromised).

Selain itu, yang berpotensi bergejala berat ialah orang yang memiliki penyakit ginjal, kanker, dan sedang menjalani kemoterapi atau radiasi. Risiko komplikasi meningkat pada kasus yang gejalanya berat, seperti infeksi kulit, infeksi saluran pernapasan, hingga infeksi otak dan bisa berakhir dengan kematian.

"Hampir sama seperti infeksi virus lainnya. Apabila seseorang terinfeksi virus, tubuh akan membentuk antibodi, yang bertahan pada kurun waktu tertentu. Bisa tertular kembali kalau antibodi sudah habis," tutur dr. Hanny.

3. Bersifat self-limiting alias bisa sembuh sendiri

Karena disebabkan oleh infeksi virus, penyakit ini bersifat self-limiting dan bisa sembuh sendiri. Kalau gejalanya berat, bisa diberi antivirus.

"Kalau (gejalanya) ringan, tidak perlu antivirus. Berikan terapi suportif supaya tidak dehidrasi dan menjaga asupan makanan agar pasien bisa tertangani dengan baik," sarannya.

Setelah membaik, cacar monyet akan meninggalkan bekas. Lukanya mungkin menebal sesuai garis luka, yang disebut scar hipertrofik. Mungkin juga menyebabkan hiperpigmentasi pasca inflamasi, di mana bekas luka menjadi hitam.

Baca Juga: Pedoman Pencegahan dan Penanganan Cacar Monyet, Lakukan Ini!

4. Untuk diagnosis, bisa dengan swab orofaring dan swab lesi kulit

Cacar Monyet Bersifat Self-Limiting dan Bisa Sembuh Sendiriilustrasi alat swab (pixabay.com/frolicsomepl)

Swab orofaring (tenggorokan) dan swab lesi kulit adalah bagian dari prosedur pemeriksaan monkeypox. Di antara keduanya, yang paling tinggi sensitivitasnya adalah swab lesi kulit.

Baik pasien suspek maupun terkonfirmasi positif perlu diisolasi di kamar khusus. Tenaga kesehatan (nakes) harus menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

5. Segera laporkan ke dinas kesehatan apabila menemukan kasus suspect

Sebagai Ketua Satgas Monkeypox PB IDI, dr. Hanny mengajak masyarakat untuk segera melaporkan ke dinas kesehatan ketika menemui kasus-kasus suspect. Jangan self-diagnose, harus segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa.

Tindakan lainnya yang dilakukan adalah:

  • Memberikan rekomendasi yang ditujukan ke pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
  • Berkolaborasi dengan 6 organisasi profesi untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan.
  • Mendukung dilakukannya contact tracing pada suspek cacar monyet.
  • Melakukan edukasi ke puskesmas dan PMI. Yaitu sebelum melakukan tindakan pengambilan darah, dilihat apakah ada kelainan di kulit serta gejala lain seperti demam, mialgia, dan sebagainya.
  • Memantau orang-orang yang baru pulang dari luar negeri.
  • Membuat media-media edukasi yang menarik untuk dilihat dan dibaca.

6. Terapkan perilaku hidup bersih sehat

Untuk pencegahan, yang terpenting adalah melakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) seperti menjaga jarak, mencuci tangan, menjaga personal hygiene dan asupan makanan. Termasuk mengonsumsi daging yang sudah dimasak dengan benar.

Karena bisa menular dari hewan ke manusia (zoonosis), hindari kontak langsung dengan hewan pengerat dan primata. Tak kalah penting, masyarakat harus jujur dan kooperatif jika memiliki gejala cacar monyet.

Baca Juga: 5 Gejala Cacar Monyet yang Kini Menjadi Wabah Global

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya