Comscore Tracker

Kenali Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD) Sebelum Terlambat

Menyebabkan komplikasi dan kematian jika dibiarkan

Pernahkah kamu mendengar tentang inflammatory bowel disease (IBD) atau juga dikenal sebagai radang usus? Ini adalah penyakit autoimun yang juga dikenal sebagai peradangan usus kronis. Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar dirinya memiliki penyakit ini dan baru datang ke dokter ketika sudah parah.

Seperti apa gejala IBD yang bisa dikenali? Dan apa perbedaannya dengan irritable bowel syndrome (IBS)? Agar masyarakat semakin aware, PT Takeda Indonesia menghelat virtual media seminar pada Rabu (20/1/2021) dengan tema "Waspadai Komplikasi dan Kematian akibat Inflammatory Bowel Disease (IBD), Penyakit Autoimun di Saluran Cerna".

Acara ini menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya, seperti Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FACG, FASGE, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi hepatologi RSCM-FKUI; dr. Rabbinu Rangga Pribadi, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam RSCM-FKUI; dan Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD, KGEH, FACG, FASGE, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi hepatologi RSCM-FKUI. Simak, yuk!

1. Sistem pencernaan pasien IBD diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri

Kenali Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD) Sebelum Terlambatmccourier.com

Menurut dr. Rabbinu, IBD merupakan penyakit saluran cerna yang bersifat kronis. Penyakit autoimun ini ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar, di mana elemen sistem pencernaan diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri.

Dalam IBD, dikenal periode inflamasi (radang) dan remisi (periode tenang tanpa tanda radang). IBD ditandai dengan episode peradangan saluran cerna berulang yang disebabkan oleh respons imun abnormal terhadap mikroflora usus.

IBD dibagi menjadi dua tipe, yakni ulcerative colitis (UC) dan Crohn’s disease (CD). Kini, ada tipe lain, yaitu colitis indeterminate (unclassified).

Pasien UC sering merasa nyeri di bagian kiri bawah perut karena peradangan dan luka di sepanjang lapisan superfisial usus besar dan rektum. Sementara, pasien CD sering merasa nyeri di bagian kanan bawah perut akibat peradangan hingga lapisan saluran pencernaan yang lebih dalam, tetapi jarang mengalami pendarahan dari rektum.

Berapa persentase kasus IBD? Menurut Prof. Murdani yang mengutip sebuah data, insiden IBD di Asia adalah 0,54 hingga 3,44 per 100.000 populasi.

2. Apa perbedaan IBD dan IBS?

Kenali Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD) Sebelum Terlambatgidoctors.co.uk

Karena namanya hampir mirip, orang awam terkadang sulit membedakan IBD dan IBS. Padahal, menurut Prof. Murdani, IBD dan IBS adalah dua gangguan pencernaan yang berbeda.

"Baik IBD maupun IBS menyebabkan sakit perut, kram, dan buang air besar yang mendesak (diare). Namun, IBS masih diklasifikasikan sebagai gangguan fungsional dan tidak menimbulkan peradangan, sedangkan IBD sudah diklasifikasikan sebagai gangguan organik yang disertai dengan kerusakan pada saluran cerna," Prof. Murdani menuturkan.

Ia menegaskan bahwa IBD lebih berbahaya karena menyebabkan peradangan yang merusak. Kerusakan ini bisa bersifat permanen pada usus, bahkan bisa meningkatkan risiko kanker usus besar.

Gejala IBD yang bisa dikenali adalah diare berdarah, demam, penurunan berat badan, nyeri perut, dan periode penyakit aktif yang diselingi remisi. Sementara itu, gejala IBS adalah nyeri abdomen (perut), perubahan frekuensi BAB, perubahan konsistensi feses, timbul gas dan kembung, serta BAB berlendir.

Yang mengejutkan, persentase kasus IBS lebih besar dari IBD. Mengacu pada data dari World Gastroenterology Organisation di tahun 2009, IBS dialami oleh 9-23 persen populasi dunia. Di Asia, IBS dialami oleh 6,8-33,3 persen populasi dan kasusnya cenderung lebih tinggi di kota-kota yang makmur.

3. Komplikasi apa yang bisa terjadi akibat IBD?

Kenali Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD) Sebelum Terlambatcarolinadigestive.com

Komplikasi bisa terjadi apabila penyakit IBD dibiarkan. Pada Crohn’s disease (CD), kemungkinan komplikasi adalah 48-52 persen jika penyakit diderita selama 5 tahun.

Misalnya, fistula (saluran yang terhubung secara tidak normal di antara dua rongga tubuh yang seharusnya terpisah) yang terjadi pada 50 persen pasien. Atau abses intraabdomen dengan prevalensi 6,2 persen.

Sedangkan, pada ulcerative colitis (UC), komplikasinya adalah toxic megacolon yang terjadi pada 2,5 persen pasien. Kondisi ini membuat usus besar meregang dan membengkak dalam ukuran yang tidak normal. Bahkan, bisa mengancam nyawa!

Selain itu, komplikasi lainnya adalah perforated colon (lubang pada usus besar), dehidrasi berat, kanker kolorektal, bowel obstruction, malnutrisi, hingga anal fissure (robekan pada jaringan anus). Ada pula komplikasi yang tidak terjadi di saluran cerna, seperti penggumpalan darah, radang kulit, mata, dan sendi.

4. Pengobatan apa yang tepat untuk penyakit IBD?

Kenali Gejala Inflammatory Bowel Disease (IBD) Sebelum TerlambatIlustrasi Obat-Obatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Menurut dr. Rabbinu, pengobatan IBD sangat dinamis karena penyakitnya juga dinamis. Artinya, pada satu waktu, IBD bisa dikontrol dengan obat dan diet, tetapi di waktu lain, penyakit ini bisa kambuh.

"Dokter memiliki berbagai macam pilihan pengobatan. Kadang pasien memerlukan kombinasi 2 obat sekaligus untuk mengontrol radang usus. Beberapa juga memerlukan operasi untuk membuang bagian usus yang mengalami peradangan," ungkapnya.

Sementara, menurut Prof. Marcellus, tatalaksana IBD bisa dengan terapi obat, pembedahan, atau kombinasi keduanya. Beberapa jenis obat bisa dipakai untuk mengobati IBD, semisal kortikosteroid (seperti prednison), aminosalisilat, dan imunomodulator.

Vedozulimab adalah salah satu obat yang bisa digunakan untuk perawatan ulcerative colitis (aktif, sedang, dan parah) dan Crohn’s disease. Berdasarkan temuan terbaru, vedolizumab memiliki tingkat remisi klinis konsisten dan remisi klinis bebas kortikosteroid.

Tidak hanya bergantung pada obat-obatan, pasien IBD juga perlu mengubah gaya hidup. Misalnya, menjaga pola makan sehat dan bergizi karena 20-85 persen pasien IBD mengalami malnutrisi yang tidak disadari.

Selain itu, hindari makanan tertentu seperti tinggi lemak, daging merah, lalu pastikan asupan sayur, buah, dan air tercukupi. Tak lupa, olahraga teratur untuk meningkatkan massa otot minimal 30 menit per sesi dan lakukan 3-5 kali seminggu. Dianjurkan untuk melakukan olahraga tipe low impact atau moderate intensity, seperti yoga, berenang, dan bersepeda.

Baca Juga: 7 Masalah Pencernaan yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya

Topic:

  • Nena Zakiah
  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto
  • Hidayat Taufik

Berita Terkini Lainnya