Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Neotam 7.000–13.000 Kali Lebih Manis, Amankah Dikonsumsi?

5 min read
Neotam 7.000–13.000 Kali Lebih Manis, Amankah Dikonsumsi?
ilustrasi gula (magnific.com/v.ivash)
  • Neotam adalah pemanis buatan 7.000–13.000 kali lebih manis dari gula, dipakai sedikit dalam pangan dan stabil pada suhu tinggi sehingga cocok untuk produk panggang.

  • Neotam dinilai aman jika digunakan sesuai batas yang ditetapkan regulator.

  • Neotam dapat membantu mengurangi gula, tetapi belum terbukti untuk menurunkan berat badan atau mengendalikan diabetes.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Neotam mungkin tidak dikenal sebanyak aspartam atau sukralosa, tetapi pemanis ini dapat tercantum pada daftar bahan pangan dengan nama neotame atau neotam, atau kode INS 961.

Karena rasa manisnya sangat kuat, neotam digunakan dalam jumlah kecil. Itu bisa membantu produsen mengurangi gula dalam makanan. Namun, bagaimana dengan keamanannya?

  1. 1. Neotam adalah pemanis intensitas tinggi

    Neotam merupakan pemanis buatan yang juga dapat berfungsi sebagai penguat rasa. Tingkat kemanisannya sekitar 7.000–13.000 kali gula meja. Neotam juga stabil pada suhu tinggi, sehingga dapat digunakan dalam produk yang dipanggang.

    Secara kimia, neotam berkerabat dengan aspartam. Neotam melepaskan fenilalanin dalam jumlah kecil sehingga tidak memerlukan peringatan fenilalanin seperti pada produk yang mengandung aspartam. Orang dengan fenilketonuria tetap perlu mengikuti arahan dokter atau ahli gizi.

  2. 2. Neotam aman jika digunakan sesuai batas

    Pada 2025, Panel Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) mengevaluasi kembali neotam dan menyimpulkan bahwa tidak ada masalah keamanan pada penggunaan serta kadar yang saat ini diizinkan di Uni Eropa. EFSA juga menetapkan batas asupan harian yang dianggap aman (acceptable daily intake/ADI) sebesar 10 mg per kilogram berat badan per hari, naik dari angka sebelumnya, 2 mg/kg.

    Angka batas aman ini bisa berbeda antarnegara atau lembaga. Sebagai contoh, JECFA (komite ahli gabungan FAO dan WHO) menetapkan 0–2 mg/kg berat badan per hari, sedangkan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menggunakan 0,3 mg/kg per hari.

    Di Indonesia, BPOM mengatur batas kadar neotam dalam jenis pangan tertentu. Contohnya, CekBTP BPOM mencantumkan batas 17 mg/kg untuk minuman berperisa berkarbonasi, 16 mg/kg untuk versi tidak berkarbonasi, dan 8 mg/kg untuk kopi atau teh yang dihitung terhadap produk siap konsumsi.

    Untuk sediaan pemanis meja, keterangannya adalah CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik) bukan angka maksimum tunggal.

  3. 3. Dapat membantu mengurangi gula

    Ilustrasi gula pasir dalam kemasan saset yang tersusun di atas permukaan berwarna terang.
    ilustrasi gula pasir dalam bentuk saset (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

    Karena rasa manisnya sangat kuat, neotam dapat digunakan dalam jumlah sedikit untuk menggantikan sebagian gula. Ini bisa membantu produsen membuat produk dengan kadar gula dan energi lebih rendah. Stabilitasnya terhadap panas juga memungkinkan penggunaannya dalam produk panggang. Namun, manfaatnya bergantung pada produk dan bahan lain yang digunakan.

    Dalam uji silang acak pada 53 orang dewasa dengan berat badan berlebih atau obesitas, biskuit yang menggunakan neotam menghasilkan respons insulin setelah makan yang lebih rendah dibandingkan biskuit bergula. Namun, penelitian berlangsung hanya dua minggu, tidak menemukan perbedaan pada rasa lapar, dan kadar glukosa setelah makan tidak turun secara bermakna dibandingkan kontrol. Hasil ini belum cukup untuk menyebut neotam sebagai cara menurunkan berat badan atau mengendalikan diabetes.

    WHO juga tidak menganjurkan pemanis non gula, termasuk neotam, sebagai strategi jangka panjang untuk mengendalikan berat badan atau mencegah penyakit tidak menular.

  4. 4. Apakah neotam memengaruhi kesehatan usus?

    Sebuah studi laboratorium pada 2024 menemukan bahwa neotam dapat memengaruhi sel usus yang ditumbuhkan di laboratorium serta perilaku bakteri tertentu. Namun, hasil seperti ini belum bisa langsung disamakan dengan kondisi pada manusia yang mengonsumsi makanan atau minuman mengandung neotam dalam jumlah yang diizinkan.

    Penelitian lain yang melibatkan 53 orang dewasa menemukan bahwa keluhan seperti perut kembung dan lebih sering buang gas lebih banyak dilaporkan saat peserta mengonsumsi biskuit yang mengandung neotam. Meski begitu, penelitian tersebut belum dapat memastikan bahwa neotam adalah penyebabnya. Pasalnya, biskuit tanpa gula yang digunakan juga mengandung lebih banyak poliol, yaitu jenis pemanis yang memang dapat menyebabkan kembung atau rasa tidak nyaman pada sebagian orang.

    Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami dampaknya secara lebih jelas.

  5. 5. Periksa label dan pahami arti batas keamanannya

    Jika ingin mengetahui apakah suatu produk mengandung neotam, periksa daftar komposisi pada kemasannya. Neotam biasanya ditulis sebagai neotam atau INS 961.

    Saat membaca label, perhatikan beberapa hal berikut:

    • Cek apakah neotam tercantum dalam daftar bahan atau bahan tambahan pangan.
    • Lihat ukuran saji (serving size) untuk mengetahui berapa banyak produk yang biasanya dikonsumsi dalam satu kali makan atau minum.
    • Perhatikan apakah produk juga mengandung pemanis lain, seperti asesulfam-K, sukralosa, atau poliol.
    • Ingat bahwa label umumnya tidak mencantumkan berapa miligram neotam yang terkandung dalam setiap porsi.

    Neotam dinilai aman jika digunakan sesuai batas yang ditetapkan regulator. Sejauh ini, penelitian tentang dampak neotam terhadap kesehatan usus masih terbatas. Temuan dari studi laboratorium maupun beberapa penelitian jangka pendek belum cukup untuk membuktikan bahwa neotam menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia.

    Referensi

    U.S. Food and Drug Administration, “Aspartame and Other Sweeteners in Food,” diakses 29 Oktober 2026.

    Food Standards Australia New Zealand, “Intense Sweeteners,” diakses 29 Oktober 2026.

    EFSA Panel on Food Additives and Flavourings, “Re-evaluation of Neotame (E 961) as Food Additive,” EFSA Journal 23, no. 7 (2025): e9480, https://doi.org/10.2903/j.efsa.2025.9480.

    Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives, “Neotame,” JECFA Database, diakses 29 Oktober 2026.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Peraturan Kepala BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan,” diakses 29 Oktober 2026.

    BPOM, “CekBTP: Neotam dalam berbagai kategori pangan,” diakses 29 Oktober 2026.

    Catherine Gibbons et al., “Acute and Two-Week Effects of Neotame, Stevia Rebaudioside M and Sucrose-Sweetened Biscuits on Postprandial Appetite and Endocrine Response in Adults with Overweight/Obesity—a Randomised Crossover Trial from the SWEET Consortium,” eBioMedicine 102 (2024): 105005, https://doi.org/10.1016/j.ebiom.2024.105005.

    World Health Organization, “Use of Non-sugar Sweeteners: WHO Guideline,” diakses 29 Oktober 2026.

    Aparna Shil, Luisa Maria Ladeira Faria, Caray Anne Walker, and Havovi Chichger, “The Artificial Sweetener Neotame Negatively Regulates the Intestinal Epithelium Directly through T1R3-Signaling and Indirectly through Pathogenic Changes to Model Gut Bacteria,” Frontiers in Nutrition 11 (2024): 1366409, https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1366409.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More