- Lansia, terutama usia 65 tahun ke atas.
- Anak kecil, terutama di bawah 2 tahun.
- Ibu hamil dan hingga dua minggu setelah melahirkan.
- Penderita asma atau penyakit paru kronis lainnya.
- Orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, ginjal, atau hati.
- Orang dengan sistem imun yang lemah, misalnya akibat HIV, kanker, kemoterapi, atau penggunaan obat penekan imun.
- Orang dengan obesitas berat (BMI ≥40).
- Penghuni panti jompo atau fasilitas perawatan jangka panjang.
Rambut Kuyup karena Kehujanan Bikin Flu? Ini Kata Pakar

Rambut basah atau air hujan tidak menyebabkan flu dengan sendirinya. Pilek dan influenza disebabkan oleh virus.
Kedinginan bisa membuat tubuh menggigil dan tidak nyaman. Pengaruh paparan dingin terhadap pertahanan saluran napas masih diteliti dan buktinya belum sepenuhnya jelas.
Setelah kehujanan, membilas rambut dan mengganti pakaian basah dapat membantu menjaga kebersihan dan kenyamanan, tetapi bukan cara mencegah infeksi virus.
Suatu hari kamu pulang kehujanan sampai rambut kuyup, lalu beberapa hari kemudian hidung mulai meler. Karena urutannya itu, banyak orang langsung menyalahkan hujan. Akan tetapi, rambut basah bukan sumber virus yang menyebabkan pilek ataupun influenza.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Widya Khairunnisa, menjelaskan bahwa hujan bukan penyebab langsung seseorang sakit.
“Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang,” dilansir IPB University.
Table of Content
Pilek dan influenza disebabkan oleh virus
Dalam percakapan sehari-hari, kata flu dan pilek sering dianggap sama. Secara medis, common cold atau pilek atau selesma berbeda dari influenza. Keduanya sama-sama infeksi saluran pernapasan, tetapi disebabkan virus yang berbeda.
Lebih dari 200 jenis virus dapat menyebabkan pilek, sedangkan influenza disebabkan virus influenza. Gejalanya bisa mirip, sehingga sulit membedakannya cuma dari gejala.
Virus pernapasan menyebar terutama melalui partikel yang keluar saat orang terinfeksi batuk atau bersin. Virus juga dapat berpindah lewat tangan atau permukaan yang terkontaminasi, lalu masuk saat kamu menyentuh mata, hidung, atau mulut. Karena itu, seseorang yang sakit setelah kehujanan bisa saja sudah terpapar virus sebelumnya atau di tempat lain. Air hujan dan rambut basah tidak membuat virus penyebab pilek atau influenza muncul.
Kedinginan bisa membuat tubuh tidak nyaman

ilustrasi kedinginan setelah kehujanan (unsplash.com/Allison Christine) Kehujanan bisa membuat tubuh terasa dingin. Pembuluh darah di kulit dapat menyempit untuk membantu mempertahankan panas, sementara tubuh mungkin menggigil. Udara dingin juga dapat memengaruhi lapisan hidung dan saluran napas.
“Udara dingin dapat memengaruhi mukosa (lapisan lendir) hidung dan saluran pernapasan, termasuk mekanisme pembersihan mukosiliar, yaitu sistem alami yang membersihkan lendir dan kuman, serta imunitas lokal di hidung,” kata dr. Widya.
Sebuah tinjauan penelitian tentang paparan dingin dan infeksi saluran pernapasan menemukan beberapa studi yang menunjukkan kemungkinan hubungan, tetapi peneliti menilai buktinya masih kontroversial. Tinjauan lain juga mencatat bahwa gagasan paparan dingin sebagai penyebab pilek belum didukung bukti yang kuat.
Orang dengan asma atau rinitis, misalnya, dapat merasakan gejala pernapasan memburuk saat terpapar udara dingin. Kondisi ini bukan berarti mereka sakit flu akibat hujan. Suhu dingin dapat memicu keluhan yang sudah rentan muncul.
Air hujan juga bisa membawa partikel
Saat jatuh melalui atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan, dan partikel lain. Partikel tersebut bisa menempel pada rambut dan kulit kepala.
“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” kata dr Widya.
Setelah kehujanan, membilas rambut dengan air bersih dan segera mengeringkannya dapat membantu membersihkan kotoran sekaligus membuat tubuh lebih nyaman.
Untuk menurunkan risiko tertular influenza, cara yang direkomendasikan adalah vaksinasi flu tahunan secara rutin, memperbaiki ventilasi dengan membuka jendela, serta menghindari ruang tertutup yang padat. Mencuci tangan dan menutup hidung serta mulut saat batuk atau bersin juga membantu membatasi penyebaran virus.
Orang dengan risiko tinggi yang mengalami gejala flu sebaiknya mencari saran medis lebih awal karena obat antivirus bekerja paling baik jika diberikan segera.
Orang yang berisiko lebih tinggi terkena flu berat atau mengalami komplikasi flu meliputi:
Siapa yang perlu lebih waspada?

ilustrasi terserang flu (unsplash.com/Brittany Colette) Meski tidak secara langsung menyebabkan infeksi, tetapi paparan suhu dingin dapat memicu munculnya gejala pada orang yang sudah terpapar virus atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
“Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” jelasnya.
Menurut dr. Widya, yang perlu diperhatikan bukanlah kebiasaan keramas saat hujan, melainkan lamanya paparan udara dingin, kualitas air yang digunakan, serta kondisi kesehatan masing-masing orang.
“Jadi, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang.”
Referensi
IPB University, “Kehujanan sampai Rambut Basah Kuyup, Benarkah Bisa Bikin Sakit? Dosen FKGiz IPB University Beri Penjelasan,” diakses 26 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “About Common Cold,” diakses 26 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Cold Versus Flu,” diakses 26 Oktober 2026.
Ronald Eccles, “Common Cold,” Frontiers in Allergy 4 (2023): 1224988, https://doi.org/10.3389/falgy.2023.1224988.
R. Eccles dan J. E. Wilkinson, “Exposure to Cold and Acute Upper Respiratory Tract Infection,” Rhinology 53, no. 2 (2015): 99–106, https://doi.org/10.4193/Rhino14.239.
World Health Organization, “How Can I Avoid Getting the Flu?,” diakses 26 Oktober 2026.










![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan NPD? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250625/freepik-29_eed1cb7e-fddb-49f3-a569-893aef034aa0.jpg)
![[QUIZ] Dari Film yang Ditonton saat Capek Mental, Ini Cara Kamu Memulihkan Diri](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)

![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)


![[QUIZ] Apakah Kamu Mulai Ketergantungan AI? Cari Tahu Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250524/pexels-theshantanukr-17603742-1-6c6a1669e817ff8e87b5ca629e8363cc-870f20e35bbce1dc96c6860147a680f8.jpg)





