Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Kehujanan Bisa Menyebabkan Flu dan Pilek?

3 min read
Apakah Kehujanan Bisa Menyebabkan Flu dan Pilek?
ilustrasi kehujanan (pexels.com/100 files)
  • Air hujan tidak dengan sendirinya menyebabkan pilek atau influenza. Keduanya terjadi karena infeksi virus.

  • Udara dingin bisa memicu hidung berair sementara dan mungkin memengaruhi pertahanan lokal hidung, tetapi penelitian belum membuktikan bahwa kehujanan langsung menyebabkan infeksi.

  • Untuk mengurangi risiko, fokus pada pencegahan penularan virus: cuci tangan, etika batuk, memakai masker saat sakit, dan vaksinasi influenza bagi kelompok yang dianjurkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pulang dengan baju basah dan tubuh kedinginan, lalu beberapa hari kemudian bersin-bersin atau hidung meler. Urutannya mudah membuat hujan disangka menjadi penyebab. Namun, pilek dan influenza terjadi karena virus, bukan karena kehujanan.

Paparan udara dingin memang bisa membuat hidung berair, dan penelitian menunjukkan suhu dingin mungkin memengaruhi sebagian pertahanan hidung. Berikut lima hal yang perlu dipahami.

  1. 1. Pilek dan influenza disebabkan oleh virus

    Pilek atau selesma dapat disebabkan oleh berbagai virus pernapasan. Rhinovirus termasuk penyebab yang umum. Influenza, atau flu, disebabkan oleh virus influenza. Keduanya bisa menimbulkan batuk, sakit tenggorokan, atau hidung meler, tetapi bukan penyakit yang sama.

    Virus pernapasan menyebar dari orang yang terinfeksi, misalnya melalui percikan saat batuk atau bersin, atau lewat tangan dan permukaan yang terkontaminasi. Jadi, tubuh yang kuyup karena hujan tidak otomatis terinfeksi. Untuk bisa sakit pilek maupun flu, kamu perlu terpapar virus.

  2. 2. Hidung berair segera setelah kedinginan belum tentu pilek

    Seorang pria duduk di sofa sambil menutup hidung dengan tisu, menggambarkan gejala pilek atau flu di rumah.
    ilustrasi pilek atau flu (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Udara dingin dapat memicu reaksi hidung yang dikenal sebagai cold-air-induced rhinitis atau rinitis yang dipicu oleh udara dingin. Hidung berair, tersumbat, atau terasa perih bisa muncul dalam beberapa menit setelah terpapar udara dingin dan mereda setelah paparan berhenti. Reaksi ini dapat terjadi tanpa infeksi.

    Karena itu, hidung meler sesaat setelah kehujanan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang tertular virus. Gejala yang menetap atau berkembang kemudian juga tidak dapat dipastikan penyebabnya hanya dari waktunya.

  3. 3. Paparan dingin mungkin berpengaruh

    Studi laboratorium menemukan bahwa paparan dingin mengurangi beberapa fungsi pertahanan antivirus pada jaringan dan sel hidung manusia. Temuan ini membantu menjelaskan kemungkinan hubungan antara suhu dingin dan pertahanan lokal hidung.

    Ada pula uji acak terhadap 180 orang yang kakinya didinginkan atau tidak. Dalam 4–5 hari berikutnya, sebanyak 13 dari 90 orang dalam kelompok yang kakinya didinginkan melaporkan gejala pilek, dibandingkan lima dari 90 orang di kelompok kontrol. Namun, penelitian ini tidak memastikan apakah gejala tersebut benar-benar disebabkan infeksi virus, masih perlu diteliti lebih lanjut.

    Sebuah tinjauan penelitian tentang pilek juga menjelaskan bahwa studi paparan virus di laboratorium belum menunjukkan bahwa kedinginan membuat orang lebih mudah terinfeksi. Para peneliti masih membahas kemungkinan bahwa paparan dingin dapat memicu gejala pada orang yang sudah mengalami infeksi tanpa gejala.

  4. 4. Musim hujan bisa bertepatan dengan kenaikan kasus

    Hujan deras mengguyur jalan kota pada malam hari, menciptakan pantulan cahaya lampu kendaraan dan bangunan di permukaan basah.
    ilustrasi musim hujan (pexels.com/Thgusstavo Santana)

    Di Indonesia, virus influenza bisa beredar sepanjang tahun, dengan periode peningkatan tertentu.

    Kementerian Kesehatan menyebut pergantian musim, mobilitas dan pertemuan banyak orang, serta subtipe virus yang sedang dominan sebagai beberapa faktor yang dapat memengaruhi peningkatan kasus.

  5. 5. Setelah kehujanan, keringkan tubuh

    Mengganti pakaian basah dan menghangatkan tubuh dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman setelah kehujanan. Namun, itu bukan pengganti pencegahan penularan. Yang dianjurkan adalah sering mencuci tangan, pakai masker saat sakit atau berada di keramaian, serta mendapatkan vaksin influenza tahunan, terutama bagi kelompok berisiko tinggi.

    Jadi, kehujanan tidak secara langsung menyebabkan pilek ataupun flu. Udara dingin dapat membuat hidung berair sementara dan mungkin memengaruhi pertahanan lokal, tetapi infeksi tetap memerlukan virus. Jika gejala muncul setelah kehujanan, waktunya saja belum cukup untuk menentukan penyebabnya.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention, “About Common Cold,” diakses 29 Oktober 2026.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “FAQ Influenza: Informasi, Penanganan, dan Pencegahan,” diakses 29 Oktober 2026.

    Álvaro A. Cruz and Alkis Togias, “Upper Airways Reactions to Cold Air,” Current Allergy and Asthma Reports 8, no. 2 (2008): 111–17, https://doi.org/10.1007/s11882-008-0020-z.

    Di Huang et al., “Cold Exposure Impairs Extracellular Vesicle Swarm-Mediated Nasal Antiviral Immunity,” Journal of Allergy and Clinical Immunology 151, no. 2 (2023): 509–25.e8, https://doi.org/10.1016/j.jaci.2022.09.037.

    Claire Johnson and Ronald Eccles, “Acute Cooling of the Feet and the Onset of Common Cold Symptoms,” Family Practice 22, no. 6 (2005): 608–13, https://doi.org/10.1093/fampra/cmi072.

    Ronald Eccles, “Common Cold,” Frontiers in Allergy 4 (2023): 1224988, https://doi.org/10.3389/falgy.2023.1224988.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More