Para peneliti menganalisis rekam medis elektronik 111.646 perempuan berusia 45–80 tahun dengan indeks massa tubuh (IMT) minimal 25 yang menjalani pencitraan payudara di sistem kesehatan Penn Medicine antara Januari 2022 hingga Juni 2025. Sebanyak 15.264 peserta memiliki catatan resep GLP-1, sedangkan 96.382 lainnya tidak.
Secara keseluruhan, 2.628 peserta didiagnosis kanker payudara selama periode penelitian. Pada kelompok yang mendapat GLP-1, kanker payudara ditemukan pada 247 dari 15.264 perempuan atau 1,62 persen, dibandingkan sekitar 2,47 persen pada kelompok tanpa paparan GLP-1.
Para peneliti kemudian melakukan propensity score matching. Setiap pengguna GLP-1 dibandingkan dengan seorang nonpengguna yang memiliki karakteristik serupa dalam hal usia, ras, etnis, IMT, kepadatan payudara, dan diabetes. Analisis ini menghasilkan 30.528 peserta.
Hasilnya tetap menunjukkan hubungan yang serupa, bahwa penggunaan GLP-1 berkaitan dengan 30,5 persen lebih rendahnya rasio peluang kanker payudara atau odds ratio sekitar 0,70.
Temuan 30,5 persen lebih rendah merupakan penurunan odds relatif, bukan berarti 30 dari setiap 100 perempuan akan terhindar dari kanker payudara.
Dalam kelompok yang sudah dicocokkan, kanker payudara ditemukan pada 1,62 persen pengguna GLP-1 dan 2,31 persen nonpengguna. Jadi, perbedaan absolut selama periode penelitian adalah 0,69 poin persentase.
Perbedaan antara ukuran relatif dan absolut penting agar hasil penelitian tidak terdengar lebih dramatis daripada data yang sebenarnya.