Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pakai Tusuk Gigi hingga Berdarah, Pria Ini Terkena Tetanus
Ilustrasi tusuk gigi (pexels.com/VGIO Studios)
  • Laporan kasus di Indonesia menemukan tetanus berat setelah seorang laki-laki melukai area giginya menggunakan tusuk gigi hingga berdarah.

  • Luka di rongga mulut jarang menjadi pintu masuk tetanus, tetapi risikonya dapat muncul jika terdapat jaringan rusak, infeksi, kondisi rendah oksigen, dan perlindungan vaksin tidak memadai.

  • Rahang sulit dibuka, leher kaku, sulit menelan, atau kejang setelah mengalami luka memerlukan pertolongan medis segera.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Luka kecil di mulut sering dianggap ringan dan akan sembuh sendiri. Sedikit darah setelah membersihkan sela gigi bisa dibilas dengan berkumur, lalu dilupakan. Namun, sebuah laporan kasus dari dokter Universitas Airlangga menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, cedera yang tampak ringan pun bisa menjadi awal penyakit yang berpotensi fatal.

Seorang laki-laki berusia 54 tahun mengalami tetanus generalisata setelah memanipulasi area giginya dengan tusuk gigi hingga berdarah. Kasus ini tergolong sangat jarang.

Baca terus kasusnya lebih lanjut di bawah ini.

1. Bermula dari nyeri gigi dan luka kecil

Pasien awalnya mengalami nyeri gigi, kemudian membersihkan atau memanipulasi sela gigi menggunakan tusuk gigi sampai terjadi perdarahan. Sekitar satu minggu kemudian, ia mulai merasakan baal pada mulut, kekakuan yang makin berat, nyeri, serta kesulitan membuka mulut.

Gejala tersebut kemudian berkembang menjadi trismus (rahang terkunci), risus sardonicus (ekspresi wajah seperti tersenyum kaku akibat kontraksi otot), serta opistotonus (kejang hebat yang membuat tubuh melengkung ke belakang). Pola ini merupakan gambaran khas tetanus generalisata.

Pasien dirawat di unit perawatan intensif selama 19 hari. Dokter mencabut gigi dan membersihkan jaringan yang dicurigai sebagai sumber masuknya bakteri. Ia juga menerima imunoglobulin tetanus, antibiotik, obat untuk mengendalikan kejang dan kekakuan otot, ventilasi mekanik, serta dukungan nutrisi.

Perjalanan penyakit pasien tersebut tidak sederhana. Pasien mengalami pneumonia terkait ventilator, infeksi jamur pada saluran kemih, kadar kalium dan kalsium yang rendah, serta hipoalbuminemia. Seluruh komplikasi tersebut akhirnya dapat ditangani dan pasien pulih tanpa gangguan neurologis yang tersisa.

Para peneliti menyebut luka dan area infeksi gigi tersebut sebagai dugaan pintu masuk, berdasarkan urutan kejadian dan tidak ditemukannya luka lain yang lebih jelas.

2. Bagaimana luka kecil di mulut bisa menyebabkan tetanus?

Clostridium tetani, bakteri penyebab tetanus. (cdc.gov)

Tetanus disebabkan oleh toksin tetanospasmin yang diproduksi oleh bakteri pembentuk spora, Clostridium tetani. Penyakit berat bukan terjadi karena toksinnya mencapai sistem saraf dan menghambat sinyal yang biasanya mengendalikan kontraksi otot. Akibatnya, otot menjadi kaku dan mengalami kejang yang menyakitkan.

Spora bakteri dapat berkembang ketika masuk ke jaringan dengan kadar oksigen rendah, terutama jika terdapat jaringan mati atau nekrosis. Pada rongga mulut, kondisi semacam ini mungkin terbentuk di sekitar luka yang dalam, jaringan gigi yang terinfeksi, atau area yang mengalami kerusakan jaringan. Sumber intraoral tetap jauh lebih jarang dilaporkan dibanding dari luka tusuk, luka bakar, atau luka yang terkontaminasi tanah.

Masa inkubasi tetanus biasanya sekitar 3–21 hari, dengan rata-rata sekitar delapan hari.

Gejala awal yang paling umum adalah kekakuan atau kejang pada otot rahang. Sulit menelan, leher kaku, kejang otot mendadak, keringat berlebihan, serta perubahan tekanan darah dan denyut jantung dapat menyusul.

Pada kasus yang bermula di kepala dan leher, jarak antara luka dan sistem saraf pusat lebih pendek. Penulis laporan kasus menjelaskan bahwa kondisi ini dapat berkaitan dengan masa inkubasi yang lebih singkat dan perkembangan penyakit yang cepat. Namun, hal tersebut bukan berarti semua nyeri rahang setelah masalah gigi adalah tetanus. Infeksi gigi, gangguan sendi rahang, dan peradangan otot jauh lebih umum.

Tetanus umumnya didiagnosis dari gejala dan riwayat luka karena tidak ada satu pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan atau menyingkirkan penyakit ini dengan andal. Karena toksin yang telah menempel pada ujung saraf tidak dapat dinetralkan oleh imunoglobulin, pengenalan dan penanganan sedini mungkin sangat penting.

3. Apa yang perlu dilakukan setelah terluka di dalam mulut?

Tidak perlu langsung panik jika melihat ada luka gusi kecil. Hentikan manipulasi, bersihkan mulut dengan lembut, dan jangan menusuk area tersebut. Jika makanan tersangkut di antara gigi, gunakan benang gigi atau sikat interdental secara hati-hati.

Banyak ahli tidak menganjurkan penggunaan tusuk gigi kayu karena ujungnya dapat mencederai gusi dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

Periksakan diri ke dokter gigi jika perdarahan tidak berhenti, nyeri gigi terus bertambah, muncul pembengkakan, nanah, bau tidak sedap, demam, atau kamu sulit membuka mulut. Infeksi dan jaringan rusak perlu ditangani dari sumbernya.

Riwayat vaksinasi juga perlu diperiksa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan enam dosis vaksin yang mengandung toksoid tetanus sepanjang masa kanak-kanak dan remaja untuk membentuk perlindungan jangka panjang. Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan dosis penguat Td atau Tdap setiap 10 tahun pada orang dewasa. Kalau kamu tidak ingat kapan terakhir divaksinasi sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Setelah luka, kebutuhan vaksin booster dan imunoglobulin ditentukan berdasarkan jenis luka serta riwayat imunisasi. Orang dengan seri vaksin lengkap tidak memerlukan dosis tambahan jika vaksin terakhir diberikan kurang dari lima tahun sebelumnya. Untuk luka bersih dan kecil, penguat dipertimbangkan setelah 10 tahun; pada luka kotor atau berat, setelah lima tahun. Orang yang belum pernah divaksinasi, vaksinasinya tidak lengkap, atau riwayatnya tidak diketahui perlu dinilai oleh tenaga kesehatan.

Antibiotik tidak direkomendasikan semata-mata untuk mencegah tetanus setelah terjadi luka. Pencegahan utamanya tetap berupa pembersihan luka, pengangkatan jaringan mati bila diperlukan, serta vaksinasi dan imunoglobulin sesuai indikasi. Antibiotik diberikan jika memang ada infeksi atau setelah tetanus didiagnosis.

Segera ke IGD jika setelah mengalami luka muncul:

  • Rahang makin sulit dibuka.

  • Leher atau punggung terasa kaku.

  • Kesulitan menelan.

  • Kejang atau kontraksi otot yang menyakitkan.

  • Tubuh melengkung tanpa dapat dikendalikan.

  • Sulit bernapas.

  • Denyut jantung atau tekanan darah terasa tidak stabil.

Tetanus dari luka gusi ringan merupakan kasus yang sangat jarang, bukan penyebab umum tetanus. Pesan penting dari laporan kasus ini adalah tidak melakukan manipulasi gigi secara kasar, segera tangani infeksi gigi, dan dapatkan vaksinasi tetanus lengkap.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). “About Tetanus.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Clinical Guidance for Wound Management to Prevent Tetanus.” Diakses Juli 2026.

CDC. “Tetanus Vaccine Recommendations.” Diakses Juli 2026.

Edward, Yehezkiel, dan Kohar Hari Santoso. “Uncommon Intraoral Source of Generalized Tetanus: Case Report and Review of Intensive Care Strategies.” IDCases 43 (2026): e02530. https://doi.org/10.1016/j.idcr.2026.e02530.

National Health Service. “How to Keep Your Teeth Clean.” Diakses Juli 2026.

Universitas Airlangga. "Tetanus dari Luka Kecil di Mulut: Bahaya yang Sering Diabaikan." Diakses Juli 2026.

Sudarshan, Raghav, Ana Ria Sayo, David Roman Renner, Sophia de Saram, Gauri Godbole, Clare Warrell, Ha Thi Hai Duong, et al. “Tetanus: Recognition and Management.” The Lancet Infectious Diseases 25, no. 11 (2025): e645–e657. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(25)00292-0.

World Health Organization. “Tetanus.” Diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article