ilustrasi anak kecil dirawat di rumah sakit (magnific.com/lifeforstock)
Studi di Palembang yang terbit pada tahun 2026 menganalisis data 2011–2020, mencakup 366.632 kasus ISPA dan 27.574 kasus pneumonia pada anak. Peneliti menemukan bahwa konsentrasi PM2.5 lebih konsisten berkaitan dengan kasus pneumonia, sementara PM10 lebih berkaitan dengan kasus ISPA.
Studi ini menggunakan data tingkat kota untuk melihat hubungan antara polutan dan jumlah kasus. Peneliti tidak secara khusus mengukur rawat inap, sehingga hasilnya mendukung kaitan antara polusi dan penyakit pernapasan anak di Indonesia, tetapi tidak menunjukkan berapa banyak anak yang dirawat akibat paparan asap.
Hal serupa menjadi tantangan dalam membaca data daerah. Dalam acara seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa (3/11), dr. Khairiyadi Ismail, Sp.A, Subsp.Respi (K) dari UKK Respirologi IDAI menyampaikan bahwa data yang ia peroleh dari Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat 182.710 kasus ISPA pada September 2026. Namun, data itu tidak memisahkan pneumonia dari infeksi saluran napas atas.
“Untuk mencari jumlah kasus pneumonia memang belum kami dapatkan, tapi yang saya dapatkan itu adalah ISPA,” kata Khairiyadi.
Ia juga menjelaskan, ISPA merupakan kelompok diagnosis yang mencakup infeksi saluran napas atas maupun bawah. Karena itu, angka ISPA tidak bisa langsung dibaca sebagai jumlah kasus pneumonia.