Céline J. A. van Bilsen, Senne M. C. E. Wijnen, Demi M. E. Pagen, Christian J. P. A. Hoebe, and Nicole H. T. M. Dukers-Muijrers. “Workforce Exit and Work Productivity Loss in Adults With and Without Post-COVID-19 Condition: The PRIME Post-COVID Cohort Study.” International Journal of Infectious Diseases (2026), https://doi.org/10.1016/j.ijid.2026.108913.
CIDRAP. “Workers with Long COVID More Likely to Leave Jobs, Lose Productivity.” June 2026.
World Health Organization. “Post COVID-19 Condition (Long COVID).” February 26, 2025.
Centers for Disease Control and Prevention. “Long COVID Basics.” May 6, 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “Living With Long COVID.” March 9, 2026.
Eri Suzuki, Francesca Colombo, and Megumi Rosenberg. “The Impacts of Long COVID Across OECD Countries.” OECD Health Working Papers, no. 167, 2024.
David Reuschke and Donald Houston, “Impacts of Long COVID on Workers: A Longitudinal Study.” PLOS ONE 19, no. 6 (2024): e0306122.
Studi: Pekerja dengan Long COVID Lebih Berisiko Berhenti Kerja

Studi di Belanda menemukan pekerja dengan long COVID lebih mungkin keluar dari dunia kerja dalam dua tahun.
Mereka yang tetap bekerja juga lebih sering mengalami absenteeism dan presenteeism, yaitu absen karena sakit atau tetap bekerja dalam kondisi tidak fit.
Dukungan tempat kerja seperti jadwal fleksibel, kerja jarak jauh, beban kerja bertahap, dan program kembali bekerja dapat membantu pekerja bertahan.
Long COVID sering dibayangkan sebagai rasa lelah yang tak kunjung hilang setelah infeksi COVID-19. Namun, dampaknya lebih luas bagi sebagian orang.
Ada yang sampai sulit berkonsentrasi, napas terasa pendek, energi cepat habis, tidur berantakan, atau tidak bisa kembali bekerja seperti sebelum terinfeksi.
Sebuah studi baru memperlihatkan beban itu dengan lebih jelas. Peneliti dari South Limburg Public Health Service dan Maastricht University di Belanda mengikuti 3.342 orang dewasa yang bekerja dan pernah terkonfirmasi positif SARS-CoV-2 pada 2020–2022. Dua tahun kemudian, pada tahun 2024, mereka menilai status pekerjaan dan fungsi kerja para peserta.
Hasilnya menunjukkan bahwa long COVID bukan sekadar masalah kesehatan pribadi. Kondisi ini bisa memengaruhi kemampuan seseorang untuk tetap bekerja, mempertahankan produktivitas, dan menjaga stabilitas finansial.
Table of Content
1. Pekerja dengan long COVID lebih banyak keluar dari dunia kerja
Dalam studi ini, 17 persen peserta dengan long COVID keluar dari dunia kerja dalam dua tahun. Angka ini lebih tinggi dibanding kelompok yang sudah pulih dari long COVID, yaitu 10 persen, dan kelompok yang tidak pernah mengalami gejala menetap, yaitu 9 persen.
Setelah memperhitungkan faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil, long COVID tetap berkaitan dengan peluang lebih tinggi untuk keluar dari tempat kerja. Peserta dengan long COVID memiliki kemungkinan 38 persen lebih tinggi untuk meninggalkan dunia kerja dibanding kelompok pembanding.
Angka ini menggambarkan sisi long COVID yang sering tidak terlihat. Seseorang bisa tampak sudah sembuh dari infeksi akut, tetapi tubuh belum kembali ke kapasitas semula. Bagi pekerja, jarak antara bisa berdiri dari tempat tidur dan bisa bekerja penuh delapan jam bisa sangat jauh.
2. Yang tetap bekerja pun produktivitasnya bisa turun

Dampak long COVID tidak hanya terlihat pada orang yang berhenti bekerja. Pada peserta yang masih bekerja, penurunan produktivitas juga lebih tinggi.
Absenteeism, atau kehilangan waktu kerja karena masalah kesehatan, mencapai 14 persen pada kelompok long COVID. Pada kelompok yang sudah pulih, angkanya 8 persen. Pada kelompok yang tidak pernah mengalami long COVID, hanya 5 persen.
Presenteeism juga lebih tinggi. Ini adalah kondisi ketika seseorang tetap masuk kerja, tetapi performanya menurun karena sedang tidak sehat. Pada kelompok long COVID, presenteeism mencapai 43 persen, jauh lebih tinggi dibanding 23 persen pada kelompok yang sudah pulih dan 13 persen pada kelompok yang tidak pernah mengalami gejala menetap.
Temuan ini memberi gambaran yang lebih adil tentang pekerja dengan long COVID. Mereka mungkin masih bekerja, hadir di rapat, membalas pesan, dan menyelesaikan tugas. Namun, di balik itu, kapasitas tubuh dan kognitif mereka bisa jauh berkurang.
3. Dukungan kerja perlu dibuat lebih realistis
Studi ini juga menemukan tekanan finansial yang lebih besar pada orang dengan long COVID. Di antara peserta yang tidak bekerja, 46 persen dari kelompok long COVID melaporkan tidak mampu bekerja karena masalah kesehatan. Lebih dari separuh peserta long COVID yang tidak bekerja juga melaporkan kesulitan finansial.
Karena itu, peneliti menekankan perlunya dukungan jangka panjang, akomodasi di tempat kerja, dan intervensi yang lebih terarah.
Contohnya jadwal fleksibel, opsi kerja jarak jauh, pengurangan beban kerja sementara, serta program kembali bekerja secara bertahap.
Bagi pekerja, langkah praktisnya adalah tidak menunggu sampai tumbang. Catat pola gejala, jam ketika energi paling baik, pemicu yang membuat kondisi memburuk, serta jenis tugas yang paling sulit dilakukan. Catatan ini bisa membantu saat berdiskusi dengan dokter, atasan, HRD, atau tim kesehatan kerja.
Bagi tempat kerja, long COVID perlu dipahami sebagai kondisi yang bisa naik-turun. Dukungan yang kaku sering tidak cocok. Yang dibutuhkan adalah penyesuaian agar seseorang tetap bisa berkontribusi tanpa memperburuk kondisi kesehatannya.
Kesimpulannya, studi ini menunjukkan bahwa long COVID bagi sebagian orang adalah masalah kesehatan jangka panjang yang ikut menentukan apakah mereka bisa tetap bekerja, bekerja dengan baik, atau terpaksa meninggalkan dunia kerja.
Referensi
















![[QUIZ] Seberapa Aware Kamu Soal Mental Health? Yuk Buktikan!](https://image.idntimes.com/post/20251025/pexels-mentalhealthamerica-5543374_732c1671-32f7-4747-946d-83b9bdb78363.jpg)




