Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Pemanis Rendah Kalori, Bisa Menggantikan Gula Pasir
ilustrasi pemanis (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Tujuh pemanis rendah kalori meliputi asesulfam-K, aspartam, siklamat, sakarin, sukralosa, neotam, dan steviol glikosida.

  • Pemanis rendah kalori dapat mengurangi konsumsi gula jika benar-benar menggantikan gula pasir.

  • Pemanis non gula tidak disarankan menjadi strategi jangka panjang untuk mengendalikan berat badan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam kopi, teh, atau minuman kemasan, rasa manis bisa datang dari gula pasir maupun pemanis intensitas tinggi. Pemanis jenis kedua biasanya digunakan dalam jumlah kecil. Sebagian dikenal sebagai pemanis buatan, sementara steviol glikosida berasal dari tanaman.

Di Indonesia, pemanis termasuk bahan tambahan pangan. Basis data CekBTP BPOM mencantumkan penggunaan sejumlah pemanis menurut kategori pangan.

Berikut beberapa pilihan yang tercatat dalam penilaian JECFA (komite ahli gabungan FAO dan WHO) beserta batas acceptable daily intake atau ADI-nya.

1. Asesulfam-K (Ace-K)

ADI-nya hingga 15 mg/kg berat badan per hari. Pemanis ini kerap digunakan bersama pemanis lain.

2. Aspartam

ADI-nya hingga 40 mg/kg berat badan per hari. Aspartam mengandung fenilalanin, sehingga tidak cocok untuk orang dengan fenilketonuria, kelainan genetik langka yang membuat tubuh sulit memproses zat tersebut.

BPOM juga mencantumkan peringatan terkait fenilalanin dan penggunaan aspartam pada bahan yang dipanaskan.

Aspartam pernah menjadi sorotan setelah IARC menggolongkannya sebagai “mungkin karsinogenik bagi manusia” pada tahun 2023, berdasarkan bukti yang terbatas. Penilaian risiko JECFA pada tahun yang sama menyatakan ADI 40 mg/kg tetap berlaku.

Bedanya, IARC menilai potensi bahaya, sedangkan JECFA menilai risiko pada tingkat paparan tertentu.

3. Siklamat

ilustrasi gula (magnific.com/v.ivash)

ADI siklamat hingga 11 mg/kg berat badan per hari, dihitung sebagai asam siklamat. BPOM mencantumkan penggunaan beberapa bentuknya, seperti natrium dan kalsium siklamat, pada kategori pangan tertentu.

4. Sakarin

ADI kelompok sakarin dan garamnya—termasuk bentuk natrium, kalium, dan kalsium—hingga 5 mg/kg berat badan per hari.

5. Sukralosa

ADI-nya hingga 15 mg/kg berat badan per hari.

6. Neotam

ilustrasi kopi dan pemanis buatan (unsplash.com/Marina Zaharkina)

Dalam penilaian JECFA, ADI neotam hingga 2 mg/kg berat badan per hari.

Angka antarotoritas bisa berbeda. Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) menetapkan ADI 10 mg/kg dalam evaluasi ulangnya pada 2025.

7. Steviol glikosida dari stevia

Ini berasal dari komponen pemanis tanaman stevia, sehingga berbeda dari pemanis buatan sintetis. ADI-nya hingga 4 mg/kg berat badan per hari, dihitung sebagai ekuivalen steviol.

Angka tersebut berlaku untuk steviol glikosida yang dinilai, bukan untuk semua bentuk daun atau ekstrak stevia.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih

ADI dan batas BPOM itu berbeda. ADI adalah perkiraan jumlah pemanis yang dapat dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang tanpa menimbulkan risiko kesehatan, dan dihitung berdasarkan berat badan serta total asupan dari semua makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Contohnya, jika suatu pemanis memiliki ADI 10 mg per kg berat badan per hari, maka orang dengan berat badan 60 kg memiliki ADI sebesar 600 mg per hari. Ini merupakan batas yang dinilai aman untuk penggunaan jangka panjang.

Sementara itu, BPOM mengatur berapa banyak pemanis yang boleh ditambahkan ke suatu produk, misalnya minuman, yogurt, atau makanan ringan. Karena setiap jenis pangan memiliki aturan berbeda, batas yang berlaku pada minuman belum tentu sama dengan batas pada makanan lainnya.

Jika ingin lebih memahami produk yang dikonsumsi:

  • Periksa daftar komposisi pada label kemasan.

  • Lihat jenis pemanis yang digunakan.

  • Cari informasi batas penggunaannya melalui basis data CekBTP BPOM sesuai kategori produknya.

BPOM juga mewajibkan pencantuman peringatan pada produk yang mengandung pemanis buatan. Produk tersebut umumnya tidak dianjurkan untuk anak di bawah 5 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui. Untuk produk yang mengandung aspartam, terdapat peringatan tambahan bagi penderita fenilketonuria.

Penelitian tentang manfaat jangka panjang pemanis non gula untuk menurunkan berat badan masih belum pasti. Karena itu, WHO tidak merekomendasikan pemanis non gula sebagai cara utama untuk mengendalikan berat badan atau mencegah penyakit kronis. Namun, rekomendasi ini tidak berarti pemanis tersebut tidak aman dan juga tidak ditujukan untuk orang yang sudah memiliki diabetes.

Jika tujuan utamanya adalah mengurangi konsumsi gula tambahan, pilihan yang sederhana dan minim risiko tetap berupa air putih, minuman tanpa pemanis, serta buah utuh.

Referensi

European Food Safety Authority, “Glossary Term: Acceptable Daily Intake,” diakses 29 Oktober 2026.

World Health Organization, "Use of Non-Sugar Sweeteners: WHO Guideline," diakses 29 Oktober 2026.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Peraturan Kepala BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan (2019), diakses 29 Oktober 2026.

Badan POM, “CekBTP: Pencarian Global,” diakses 29 Oktober 2026.

Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), entri basis data untuk asesulfam-K, aspartam, asam siklamat, sakarin, sukralosa, neotam, dan steviol glikosida.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Penjelasan BPOM RI tentang Keamanan Pemanis Buatan Aspartam,” diakses 29 Oktober 2026.

Direktorat Registrasi Pangan Olahan, Badan POM, “Ketentuan Label Bahan Tambahan Pangan,” diakses 29 Oktober 2026.

World Health Organization, “Health Effects of the Use of Non-Sugar Sweeteners: A Systematic Review and Meta-Analysis” (12 April 2022), https://www.who.int/publications-detail-redirect/9789240046429.

Curated For You

Editorial Team

Related Article