ilustrasi sariawan pada pasien penyakit Behçet (consultqd.clevelandclinic.org)
Menurut keterangan dalam Singapore Medical Journal, nama kelainan langka ini diambil dari dari nama seorang dokter kulit dari Turki, yaitu Hulusi Behçet, yang mengungkap penyakit ini pertama kali pada tahun 1937 setelah mengamati tiga pasiennya memiliki gejala serupa.
Pasien pertama kehilangan penglihatannya total saat mengunjungi Behçet. Selama 40 tahun, penyakit pasien ini belum terdiagnosis meski telah mengunjungi banyak dokter di Istanbul, Turki, dan Wina, Austria. Pertimbangan diagnostik pasien ini mencakup segala hal, mulai dari sifilis, tuberkulosis, hingga penyakit protozoa yang tidak diketahui.
Pada tahun 1930, Behçet kembali mendapat seorang pasien perempuan dengan keluhan yang serupa, seperti iritasi berulang pada matanya, serta luka pada mulut dan daerah genitalnya. Biopsi yang dilakukan tidak bisa mendiagnosis penyakit ini.
Pada tahun 1936, Behçet mendapat pasien lain dengan radang mata, ulkus mulut dan skrotum, demam malam, dan sakit perut. Dengan menyatukan semua gejala yang dialami ketiga pasiennya ini, Behçet berteori bahwa mereka merupakan manifestasi dari penyakit tertentu yang kemungkinan disebabkan oleh virus.
Behçet kemudian menerbitkan kasus-kasus ini dalam Arsip Dermatology dan Penyakit Kelamin pada tahun 1937. Setelah itu, dokter dari Belgia, Australia, AS, Jepang, Denmark, Italia, Swiss, dan Israel melaporkan kasus yang serupa.
Dunia medis akhirnya mengakui pengamatan Behçet sebagai patognomonik dari suatu penyakit baru pada Kongres Dermatologi Internasional di Jenewa yang diselenggarakan pada 13 September 1947. Dr. Miescher, seorang profesor dermatologi di Fakultas Kedokteran Universitas Zurich, mengusulkan agar penyakit ini diberi nama ''Morbus Behçet'' atau penyakit Behçet.
Namun, sebenarnya Behçet bukan orang pertama yang menggambarkan kondisi ini. Kondisi ini pertama kali dirujuk dalam tulisan para dokter Hipokrates pada abad ke-5 SM, yaitu: ''Ada bentuk demam lain..., banyak yang mulutnya terkena ulserasi aphthous. Ada juga banyak defluks pada bagian genital, dan ulserasi, bisul (phymata), secara eksternal dan internal pada selangkangan. Mata berair dengan karakter kronis, dengan nyeri; ekskresi jamur dari kelopak mata secara eksternal dan internal yang disebut fici, yang merusak penglihatan banyak orang."
Selain itu, sekitar tahun 1930, Benediktos Adamantiades, yang merupakan dokter mata dari Yunani, menggambarkan seorang pasien yang mengalami iritis dan hipopion yang kambuh, disertai dengan radang sendi dan gejala mokokutan. Namun, seperti banyak orang lainnya, ia gagal untuk menganggap tanda dan gejala sindrom baru atau tunggal, dan melewatkan tiga serangkai klasik yang khas, yaitu ulserasi mulut dan genital serta peradangan mata.
Meski begitu, Behçet tetap memuji karya Adamantiades dalam publikasi aslinya. Oleh sebab itu, penyakit Behçet terkadang juga disebut sebagai sindrom Adamantiades-Behçet.