- Stroke iskemik: akibat sumbatan pembuluh darah.
- Stroke hemoragik: akibat pecahnya pembuluh darah di otak.
Kejang Tiba-Tiba, Apakah Bisa Menjadi Gejala Stroke?

- Kejang bisa menjadi gejala awal stroke akibat gangguan aliran darah di otak yang memicu aktivitas listrik abnormal, meski tidak seumum gejala klasik seperti wajah mencong atau bicara pelo.
- Risiko kejang lebih tinggi pada stroke perdarahan, stroke yang mengenai korteks otak, dan stroke berukuran besar karena area tersebut lebih rentan terhadap gangguan aktivitas saraf.
- Kejang pertama kali pada usia dewasa atau lansia perlu evaluasi medis segera karena bisa menandakan stroke; penanganan cepat sangat penting untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.
Bicara tentang stroke, kebanyakan orang langsung membayangkan gejala seperti sulit berbicara, wajah tampak mencong, atau lumpuh pada satu sisi tubuh.
Memang, itulah gejala stroke yang paling sering dikenali. Namun, stroke tidak selalu muncul dengan cara yang sama pada setiap orang. Dalam beberapa kasus, gejala pertama bisa berupa kejang. Kondisi ini tak jarang bikin bingung. Keluarga mengira penderita mengalami epilepsi, padahal masalah utamanya bisa saja gangguan aliran darah di otak yang butuh penanganan darurat.
Karena itu, penting untuk memahami hubungan antara kejang dan stroke agar penanganan tidak terlambat.
Table of Content
Apa hubungan antara kejang dan stroke?
Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terganggu. Gangguan tersebut dapat berupa:
Otak butuh pasokan oksigen dan nutrisi yang stabil untuk bekerja normal. Ketika suplai darah terganggu, sel-sel saraf menjadi tidak stabil dan dapat menghasilkan aktivitas listrik yang abnormal. Aktivitas listrik abnormal inilah yang dapat memicu kejang.
Sederhananya, stroke dapat mengganggu "kabel listrik" otak sehingga muncul lonjakan sinyal saraf yang tidak terkontrol.
Seberapa sering kejang terjadi pada stroke?
Kejang bukan gejala stroke yang paling umum, meskipun bukan sesuatu yang langka. Sebuah tinjauan sistematis melaporkan bahwa sekitar 3–6 persen pasien mengalami kejang pada fase awal stroke akut.
Angka tersebut bisa lebih tinggi pada jenis stroke tertentu, terutama:
- Stroke perdarahan.
- Stroke yang mengenai korteks serebri (lapisan luar otak).
- Stroke berukuran luas.
- Stroke dengan kerusakan jaringan otak yang berat.
Artinya, meskipun sebagian besar pasien stroke tidak mengalami kejang, tetapi kemunculannya tetap cukup penting untuk dikenali.
Kapan kejang bisa menjadi tanda stroke?

Kejang sebagai gejala awal stroke
Dalam beberapa kasus, kejang dapat muncul pada saat stroke berlangsung. Kondisi ini disebut early seizure atau kejang dini terkait stroke.
Seseorang mungkin tiba-tiba:
- Mengalami gerakan tubuh tidak terkendali.
- Kehilangan kesadaran.
- Menatap kosong.
- Mengalami kedutan pada satu sisi tubuh.
- Bingung setelah episode kejang berakhir.
Jika ini terjadi pada orang dewasa yang sebelumnya tidak memiliki riwayat epilepsi, stroke harus menjadi salah satu kemungkinan yang dipertimbangkan dokter.
Kejang setelah stroke
Kejang juga dapat muncul beberapa hari, minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun setelah stroke.
Ketika jaringan otak yang rusak membentuk jaringan parut, area tersebut dapat menjadi sumber aktivitas listrik abnormal yang memicu kejang berulang. Kondisi ini dikenal sebagai epilepsi pascastroke.
Menurut penelitian, stroke merupakan salah satu penyebab tersering epilepsi yang muncul pertama kali pada usia lanjut.
Jenis stroke yang paling sering menyebabkan kejang
Tidak semua stroke memiliki risiko yang sama.
- Stroke perdarahan (stroke hemoragik)
Risiko kejang paling tinggi ditemukan pada stroke hemoragik. Darah yang keluar ke jaringan otak dapat mengiritasi sel-sel saraf dan memicu aktivitas listrik abnormal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko kejang pada stroke perdarahan dapat mencapai dua hingga tiga kali lebih tinggi dibanding stroke iskemik.
- Stroke yang mengenai korteks otak
Korteks merupakan lapisan luar otak yang berperan dalam fungsi kompleks seperti gerakan, bahasa, dan persepsi. Karena area ini banyak jaringan saraf aktif, kerusakan pada korteks lebih mudah memicu kejang dibanding kerusakan pada struktur otak yang lebih dalam.
- Stroke yang luas
Makin besar area otak yang terdampak, makin besar pula kemungkinan terjadinya gangguan aktivitas listrik yang memicu kejang.
Cara membedakan kejang karena stroke dan epilepsi
Walaupun membedakannya tidak selalu mudah, tetapi ada beberapa petunjuk yang dapat meningkatkan kecurigaan terhadap stroke:
Kejang pertama kali terjadi pada usia dewasa atau lansia
Epilepsi memang dapat muncul pada usia berapa pun, tetapi kejang yang baru pertama kali terjadi pada usia lanjut perlu evaluasi serius terhadap kemungkinan stroke atau gangguan struktural otak lainnya.
Muncul gejala stroke setelah kejang
Misalnya:
- Tangan atau kaki mendadak lemah.
- Bicara pelo.
- Sulit memahami pembicaraan.
- Wajah tampak tidak simetris.
- Gangguan penglihatan.
Faktor risiko stroke
- Hipertensi.
- Diabetes.
- Kolesterol tinggi.
- Penyakit jantung.
- Merokok.
Apa yang harus dilakukan jika seseorang kejang dan diduga stroke?

Kejang yang disertai kemungkinan stroke merupakan keadaan darurat medis. Jadi, langkah-langkah yang sangat dianjurkan antara lain:
- Jaga keselamatan pasien: Baringkan di tempat yang aman, jauhkan benda keras atau tajam, dan longgarkan pakaian yang ketat.
- Jangan menahan gerakan kejang: Menahan tubuh secara paksa dapat menyebabkan cedera.
- Jangan memasukkan benda ke dalam mulut: Sayangnya ini kerap terjadi, dan melakukannya justru berisiko menyebabkan cedera.
- Hubungi layanan gawat darurat: Penanganan stroke sangat bergantung pada waktu. Makin cepat pasien mendapat pertolongan, makin besar peluang menyelamatkan jaringan otak.
Apakah semua pasien stroke yang mengalami kejang harus minum obat antikejang?
Tidak selalu. Pedoman yang ada tidak merekomendasikan pemberian obat antikejang secara rutin kepada semua pasien stroke yang tidak mengalami kejang. Jika kejang memang terjadi, dokter akan mempertimbangkan:
- Jenis stroke.
- Frekuensi kejang.
- Hasil pemeriksaan otak.
- Risiko kekambuhan.
Keputusan terapi harus dilakukan secara individual.
Siapa yang berisiko mengalami epilepsi setelah stroke?
Risiko lebih tinggi ditemukan pada pasien yang mengalami:
- Stroke perdarahan.
- Stroke kortikal.
- Stroke berukuran besar.
- Kejang pada fase awal stroke.
- Kerusakan neurologis yang berat.
Karena itu, pasien stroke perlu tetap dipantau bahkan setelah kondisi akut teratasi.
Kejang bisa menjadi salah satu gejala stroke, walaupun ini tidak seumum wajah mencong, kelemahan satu sisi tubuh, atau gangguan bicara. Kondisi ini terjadi karena kerusakan jaringan otak akibat gangguan aliran darah dapat memicu aktivitas listrik abnormal.
Risiko kejang lebih tinggi pada stroke perdarahan, stroke yang mengenai korteks otak, dan stroke yang luas. Kejang dapat muncul saat stroke terjadi maupun setelahnya sebagai bagian dari epilepsi pascastroke.
Kejang yang muncul pertama kali pada orang dewasa, terutama usia lanjut, tidak boleh dianggap sepele. Evaluasi medis segera diperlukan untuk memastikan apakah stroke atau kondisi neurologis serius lainnya menjadi penyebabnya.
Referensi
Ettore Beghi et al., “Recommendation for a Definition of Acute Symptomatic Seizure,” Epilepsia 51, no. 4 (September 3, 2009): 671–75, https://doi.org/10.1111/j.1528-1167.2009.02285.x.
Marian Galovic et al., “Seizures and Epilepsy After Stroke: Epidemiology, Biomarkers and Management,” Drugs & Aging 38, no. 4 (February 23, 2021): 285–99, https://doi.org/10.1007/s40266-021-00837-7.
Stroke Association. "Seizures and epilepsy after stroke." Diakses Juni 2026.
A. M. Feyissa, T. F. Hasan, and J. F. Meschia, “Stroke‐related Epilepsy,” European Journal of Neurology 26, no. 1 (October 15, 2018): 18, https://doi.org/10.1111/ene.13813.
Aathmika Nandan et al., “Incidence and Risk Factors of Post-stroke Seizures and Epilepsy: Systematic Review and Meta-analysis,” Journal of International Medical Research 51, no. 11 (November 1, 2023): 3000605231213231, https://doi.org/10.1177/03000605231213231.
Aparajit Ravikumar et al., “Post – Stroke Seizures: A Comprehensive Review of Epidemiology, Pathophysiology, Risk Factors, Clinical Spectrum and Outcomes,” Medical Research Archives 12, no. 10 (January 1, 2024), https://doi.org/10.18103/mra.v12i10.5768.
Carolee J. Winstein et al., “Guidelines for Adult Stroke Rehabilitation and Recovery,” Stroke 47, no. 6 (May 5, 2016): e98–169, https://doi.org/10.1161/str.0000000000000098.
Johan Zelano, “Poststroke Epilepsy: Update and Future Directions,” Therapeutic Advances in Neurological Disorders 9, no. 5 (June 25, 2016): 424–35, https://doi.org/10.1177/1756285616654423.
![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Bisa Bocorkan Responsmu saat Tertekan](https://image.idntimes.com/post/20220311/whatsapp-image-2022-03-11-at-112034-am-1-68380bd095c0dd0760a7d48c486cb7e1.jpeg)

![[QUIZ] Seberapa Open-Minded Kamu? Kuis Ini Bisa Mengungkapnya](https://image.idntimes.com/post/20260111/pexels-rdne-8419498_22c7c2dd-f0dd-4b57-97ca-1c22e755c10b.jpg)




![[QUIZ] Berdasarkan Karaktermu, Kami Tahu Jenis Temperamen Kamu](https://image.idntimes.com/post/20230619/andrew-seaman-4fi-4q6-efm-unsplash-96c94761e11f8e3a0b97b10605ab9f86.jpg)









