Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Penyebab Bau Ketiak Kanan dan Kiri Berbeda

7 Penyebab Bau Ketiak Kanan dan Kiri Berbeda
ilustrasi ketiak bau (magnific.com/benzoix)
Intinya Sih
  • Perbedaan bau ketiak kanan dan kiri disebabkan variasi mikrobioma kulit, produksi keringat, serta kebiasaan penggunaan tangan dominan yang memengaruhi aktivitas otot dan kelembapan lokal.

  • Faktor lain seperti cara mengoleskan deodoran, kepadatan rambut ketiak, hingga kebiasaan mencukur atau membersihkan area tersebut turut menentukan intensitas aroma di masing-masing sisi.

  • Perbedaan bau ringan tergolong normal, namun jika disertai nyeri, benjolan, infeksi, atau perubahan aroma drastis, pemeriksaan medis dianjurkan untuk memastikan tidak ada gangguan kesehatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Manusia punya dua mata, dua tangan, dua kaki, dan dua ketiak. Banyak orang mengira kedua sisi tubuh bekerja dengan cara yang persis sama. Namun, kenyataannya tidak begitu.

Beberapa orang mungkin menyadari satu ketiaknya lebih mudah berkeringat. Ada pula yang merasa deodoran lebih cepat hilang efeknya di satu sisi dibanding sisi lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang memperhatikan bahwa bau ketiak kanan dan kiri berbeda.

Tubuh memang simetris secara anatomi, tetapi lingkungan mikro di permukaan kulit tidak selalu identik antara sisi kanan dan kiri.

Table of Content

Dari mana bau ketiak berasal?

Dari mana bau ketiak berasal?

Keringat yang baru keluar dari tubuh pada dasarnya hampir tidak berbau. Bau muncul ketika bakteri yang hidup di permukaan kulit memecah komponen tertentu dalam keringat, terutama yang berasal dari kelenjar apokrin.

Kelenjar apokrin banyak ditemukan di ketiak, selangkangan, dan area sekitar puting.

Keringat dari kelenjar ini mengandung protein, lipid, dan berbagai molekul organik lain

Bakteri kemudian menguraikan senyawa tersebut menjadi molekul volatil yang menghasilkan aroma khas bau badan.

Di bawah ini dijelaskan beberapa alasan kenapa bau ketiak kanan dan kiri bisa berbeda.

1. Komposisi bakteri di kedua ketiak bisa berbeda

Kulit dihuni oleh miliaran mikroorganisme yang membentuk apa yang dikenal sebagai mikrobioma kulit. Meskipun kedua ketiak berada pada tubuh yang sama, tetapi jumlah dan jenis bakteri yang hidup di masing-masing sisi belum tentu identik.

Penelitian menunjukkan bahwa komunitas mikroba dapat bervariasi secara signifikan bahkan pada area tubuh yang sangat berdekatan.

Beberapa bakteri yang paling sering dikaitkan dengan bau badan antara lain:

  • Corynebacterium.
  • Staphylococcus.
  • Cutibacterium (dulu disebut Propionibacterium).

Jika salah satu ketiak memiliki populasi bakteri penghasil bau yang lebih banyak, aroma yang dihasilkan juga bisa lebih kuat.

2. Satu lengan lebih dominan

Seorang pria berolahraga di gym sambil mengangkat dumbel dengan satu tangan, mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek.
ilustrasi latihan beban dengan dumbel di gym (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sebagian besar orang memiliki tangan dominan, baik kanan maupun kiri. Tangan yang lebih sering digunakan biasanya menyebabkan:

  • Gerakan otot lebih aktif.
  • Gesekan lebih sering.
  • Produksi panas lokal sedikit lebih tinggi.
  • Aktivitas fisik sisi tubuh tertentu lebih besar.

Meski perbedaannya tidak ekstrem, tetapi kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah keringat yang dihasilkan pada salah satu sisi tubuh.

Selain itu, tangan dominan juga lebih sering menyentuh berbagai benda sehingga berpotensi memengaruhi perpindahan mikroorganisme ke area sekitar tubuh.

3. Produksi keringat tidak selalu sama

Tubuh tidak selalu mengeluarkan keringat secara seimbang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sistem saraf otonom dapat menghasilkan variasi produksi keringat antara sisi kanan dan kiri tubuh.

Pada sebagian orang, salah satu ketiak cenderung:

  • Lebih cepat berkeringat.
  • Menghasilkan volume keringat lebih banyak.
  • Tetap lembap lebih lama.

Makin banyak kelembapan yang tersedia, makin ideal pula lingkungan bagi bakteri untuk berkembang. Akibatnya, bau bisa menjadi lebih kuat di satu sisi.

4. Cara mengaplikasikan deodoran tidak selalu sama

Orang yang menggunakan tangan kanan biasanya lebih mudah mengoleskan deodoran ke ketiak kiri dibanding sebaliknya. Akibatnya, ketebalan aplikasi deodoran dapat berbeda tanpa disadari.

Jika satu sisi mendapat perlindungan antiperspiran atau antibakteri yang lebih optimal, perbedaan bau bisa muncul.

5. Rambut ketiak yang tidak sama

Seorang perempuan mengenakan tank top berwarna netral sedang mencukur bulu ketiaknya menggunakan pisau cukur berwarna oranye.
ilustrasi mencukur buku ketiak (magnific.com/freepik)

Rambut ketiak membantu mempertahankan kelembapan dan dapat menjadi tempat menempelnya bakteri serta senyawa penyebab bau. Pada beberapa orang, kepadatan rambut ketiak kanan dan kiri tidak sepenuhnya sama.

Perbedaan ini dapat memengaruhi sirkulasi udara, retensi kelembapan, dan pertumbuhan bakteri sehingga aroma yang muncul di kedua sisi bisa berbeda.

6. Kebiasaan mencukur atau membersihkan ketiak

Penelitian menunjukkan bahwa mencukur rambut ketiak dapat mengurangi akumulasi bakteri dan membantu mengurangi bau badan.

Jika kamu tidak mencukur secara merata, membersihkan satu sisi lebih teliti, dan menggosok salah satu sisi lebih sering saat mandi, maka kondisi mikrobioma dan kelembapan kulit juga bisa berbeda.

7. Kondisi kulit lokal

Kadang-kadang perbedaan bau berasal dari kondisi kulit yang hanya terjadi pada satu sisi. Misalnya:

  • Folikulitis (peradangan folikel rambut).
  • Infeksi bakteri ringan.
  • Dermatitis.
  • Hidradenitis suppurativa tahap awal.

Kondisi tersebut dapat mengubah komposisi bakteri dan meningkatkan produksi senyawa penyebab bau. Dalam kasus seperti ini, perbedaan aroma biasanya lebih mencolok dibanding variasi normal.

Apakah perbedaan bau ketiak itu normal?

Perempuan mengenakan pakaian hitam menutup hidung dengan ekspresi tidak nyaman karena mencium bau tidak sedap.
ilustrasi perempuan bau ketiak (magnific.com/8photo)

Sedikit perbedaan bau antara ketiak kanan dan kiri merupakan hal yang wajar dan tidak menandakan penyakit.

Tubuh manusia tidak sesimetris yang kamu bayangkan. Bahkan penelitian mikrobioma menunjukkan bahwa variasi biologis kecil antar sisi tubuh adalah hal yang umum. Selama tidak ada gejala lain, perbedaan aroma ringan biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Kapan harus ke dokter?

Periksakan diri jika perbedaan bau ketiak disertai:

  • Benjolan di ketiak.
  • Nyeri.
  • Kemerahan.
  • Keluar cairan atau nanah.
  • Bau yang tiba-tiba berubah drastis.
  • Keringat berlebihan yang muncul mendadak.
  • Luka yang tidak sembuh-sembuh.

Gejala tersebut bisa menandakan infeksi atau kondisi medis lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Cara mengurangi bau ketiak yang tidak sama pada satu sisi

Beberapa langkah ini dapat membantu:

  • Gunakan antiperspiran atau deodoran secara merata. Pastikan kedua sisi mendapatkan jumlah yang sama.
  • Jaga kebersihan ketiak. Mandi secara teratur dan bersihkan area ketiak dengan baik.
  • Pertimbangkan mencukur rambut ketiak. Beberapa penelitian menunjukkan langkah ini dapat mengurangi bau badan.
  • Gunakan pakaian yang menyerap keringat. Bahan yang baik membantu mengurangi kelembapan berlebih.
  • Perhatikan kondisi kulit. Jika ada ruam, benjolan, atau nyeri, jangan hanya menutupi bau dengan deodoran.

Beda bau ketiak kanan dan kiri umumnya bukan masalah. Penyebabnya bisa berasal dari perbedaan jumlah bakteri, produksi keringat, penggunaan tangan dominan, kepadatan rambut ketiak, hingga kebiasaan sehari-hari.

Yang perlu diingat, bau badan sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh aktivitas bakteri dibanding jumlah keringat itu sendiri. Karena itu, dua ketiak yang tampak sama dari luar dapat menghasilkan aroma yang berbeda karena memiliki ekosistem mikroba yang tidak identik.

Namun, jika perubahan bau terjadi secara mendadak atau disertai gejala lain seperti nyeri, benjolan, atau infeksi, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan tidak ada kondisi kesehatan yang mendasarinya.

Referensi

Chris Callewaert et al., “Characterization of Staphylococcus and Corynebacterium Clusters in the Human Axillary Region,” PLoS ONE 8, no. 8 (August 12, 2013): e70538, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0070538.

Elizabeth C. Townsend and Lindsay R. Kalan, “The Dynamic Balance of the Skin Microbiome Across the Lifespan,” Biochemical Society Transactions 51, no. 1 (January 6, 2023): 71–86, https://doi.org/10.1042/bst20220216.

Yi Liu et al., “A Human Skin Microbiome Reference Catalog and the Skin Microbial Landscape of Plateau Adults,” iMetaOmics. 2, no. 2 (February 11, 2025): e70000, https://doi.org/10.1002/imo2.70000.

L. B. Noerreslet, M. L. Clausen, and T. Agner, “The Human Skin Microbiome,” in The Skin Microbiome Manual, 2025, 41–64, https://doi.org/10.1007/978-3-031-82689-4_2.

Stuart Shear, “Andrews’ Diseases of the Skin: Clinical Dermatology,” JAMA 307, no. 1 (January 4, 2012): 92, https://doi.org/10.1001/jama.2011.1941.

V. P. J. Marti et al., “Effect of Shaving on Axillary Stratum Corneum,” International Journal of Cosmetic Science 25, no. 4 (August 1, 2003): 193–98, https://doi.org/10.1046/j.1467-2494.2003.00186.x.

Myriam Troccaz et al., “Mapping Axillary Microbiota Responsible for Body Odours Using a Culture-independent Approach,” Microbiome 3, no. 1 (January 23, 2015): 3, https://doi.org/10.1186/s40168-014-0064-3.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Mayang Ulfah Narimanda
Nuruliar F
Mayang Ulfah Narimanda
EditorMayang Ulfah Narimanda

Related Articles

See More