- Cairan bening, jernih, kadang agak lengket.
5 Penyebab Keluar Cairan dari Penis, Apakah Perlu ke Dokter?

- Cairan dari penis yang bukan urine atau ejakulasi bisa menandakan berbagai kondisi medis, mulai dari infeksi hingga peradangan, termasuk infeksi menular seksual.
- Penyebab non-IMS seperti infeksi saluran kemih, uretritis, prostatitis, balanitis, dan penumpukan smegma juga bisa menghasilkan cairan yang perlu diperiksa.
- Segera periksakan ke dokter jika cairan berbau tidak sedap, berwarna kuning/hijau, disertai nyeri, atau berlangsung lebih dari beberapa hari, karena dapat butuh diagnosis dan penanganan spesifik.
Keluarnya cairan dari penis tentu bisa bikin khawatir karena tidak selalu jelas apakah itu merupakan hal yang normal atau tanda suatu kondisi medis.
Secara umum, penis dapat mengeluarkan berbagai jenis cairan, dari urine dan air mani yang normal sampai cairan abnormal. Cairan abnormal ini bisa berwarna putih, kuning, hijau, atau bening, dan terkadang disertai gejala lain seperti nyeri, gatal, atau bau yang tidak biasa.
Secara medis, istilah untuk keluarnya cairan dari uretra, saluran yang membawa urine dan juga ejakulat, disebut penile discharge. Cairan yang keluar terjadi tanpa hubungan seksual atau di luar konteks rangsangan/ejakulasi perlu dipahami dengan benar sebab sering kali menandakan adanya masalah kesehatan.
Artikel ini akan membahas penyebab umum keluarnya cairan dari penis serta faktor lain yang bisa memicu gejala ini, dan kapan perlu menemui dokter.
1. Infeksi menular seksual
Infeksi menular seksual (IMS) sering menjadi penyebab utama keluarnya cairan abnormal dari penis. Dua IMS bakteri yang paling sering dikaitkan dengan cairan abnormal adalah gonore dan klamidia.
Gonore, misalnya, dapat menyebabkan discharge berwarna kuning atau hijau yang terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan nyeri testis.
Klamidia juga merupakan penyebab umum, sering menghasilkan cairan yang lebih putih atau bening serta sensasi terbakar ketika buang air kecil.
IMS lain seperti trikomoniasis atau infeksi Mycoplasma genitalium juga bisa menyebabkan keluarnya cairan dari penis meskipun gejalanya kadang lebih ringan.
Penting dicatat bahwa banyak IMS tidak langsung menunjukkan gejala pada awalnya, sehingga pemeriksaan laboratorium sering dibutuhkan untuk diagnosis yang akurat. Karena IMS dapat ditularkan melalui kontak seksual tanpa penetrasi (seperti oral atau anal), penggunaan kondom secara benar dan rutin serta skrining merupakan langkah pencegahan yang penting.
2. Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih (ISK) biasanya lebih sering terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki juga dapat mengalaminya, terutama jika ada faktor risiko seperti pembesaran prostat atau kateter urine.
Dalam kasus pada laki-laki, ISK dapat memicu uretritis, yaitu peradangan pada uretra, yang menghasilkan cairan abnormal dari penis, sering disertai dengan rasa nyeri atau terbakar saat buang air kecil.
ISK dapat terjadi ketika bakteri seperti Escherichia coli masuk ke saluran kemih dan berkembang biak. Gejala lain selain cairan termasuk sering buang air kecil, nyeri pinggul, atau bahkan demam jika infeksi mencapai bagian atas saluran kemih.
Pengobatan ISK biasanya melibatkan antibiotik yang diresepkan oleh dokter, bersama dengan langkah-langkah seperti minum cukup air untuk membantu membersihkan bakteri dari sistem. Konsultasi medis sangat dianjurkan untuk memastikan diagnosis yang tepat dan mencegah infeksi berulang atau komplikasi.
3. Uretritis
Uretritis mengacu pada peradangan uretra, yakni saluran yang menghubungkan kandung kemih ke ujung penis. Banyak kondisi yang bisa menyebabkan uretritis, termasuk IMS, tetapi juga iritasi non-IMS seperti cedera, reaksi terhadap produk sabun, maupun infeksi virus atau bakteri non spesifik.
Gejala uretritis meliputi keluar cairan dari penis, rasa terbakar atau nyeri saat buang air kecil, serta kadang gatal di area uretra. Peradangan ini juga bisa disertai pembengkakan dan kemerahan di ujung penis.
Diagnosis uretritis biasanya melalui pemeriksaan klinis dan tes laboratorium, serta obat antibiotik diberikan jika penyebabnya bakteri. Uretritis non-gonokokal sering kali dikaitkan dengan Chlamydia trachomatis atau bakteri lain yang memerlukan penanganan khusus.
4. Balanitis

Balanitis adalah kondisi di mana kepala penis dan seringkali kulup penis mengalami peradangan. Penyebabnya bisa bakteri, jamur seperti Candida (infeksi jamur), atau iritasi akibat kebersihan yang buruk.
Gejala balanitis termasuk keluar cairan yang berbau atau tidak biasa, kemerahan, pembengkakan, serta rasa gatal atau nyeri di area genital. Jika tidak ditangani, peradangan ini bisa menyebabkan luka atau infeksi yang lebih serius.
Pengobatan biasanya mencakup antibiotik atau antijamur tergantung penyebabnya, serta edukasi mengenai kebersihan genital yang benar untuk mencegah kekambuhan.
5. Prostatitis
Prostat adalah kelenjar yang membungkus uretra di bawah kandung kemih. Peradangan atau infeksi prostat dapat menghasilkan cairan keluar dari penis, sering disertai dengan rasa sakit, aliran urine yang lemah, atau tidak lancar, serta nyeri saat ejakulasi atau buang air kecil.
Prostatitis dapat bersifat akut atau kronis. Infeksi bakteri adalah penyebab umum, tetapi peradangan juga bisa terjadi tanpa bakteri jelas. Pengobatan bervariasi dari antibiotik hingga terapi simptomatik sesuai penyebabnya.
Karena prostatitis melibatkan area kelenjar yang penting bagi sistem reproduksi dan urinasi, diagnosis dan penanganannya harus melalui dokter, yang mungkin melakukan tes darah, urine, atau pemeriksaan rektal.
Seperti apa cairan dari penis yang normal?

Urine adalah yang paling jelas dan paling umum. Kalau urine keluar bercampur darah, nyeri, atau keruh pekat, itu tidak normal dan perlu diperiksa.
Cairan normal lainnya adalah cairan praejakulasi. Ciri-cirinya:
- Keluar saat terangsang seksual, sebelum ejakulasi.
- Jumlah sedikit (tetesan atau lapisan tipis di ujung penis).
- Tidak berbau, tidak berwarna.
- Tidak disertai nyeri, perih, atau gatal.
Fungsinya untuk melumasi uretra dan menetralkan sisa asam urine sebelum ejakulasi.
Akan tetapi, meski normal, cairan ini tetap bisa mengandung sperma atau patogen IMS.
Air mani pun juga cairan dari penis yang normal. Ciri-cirinya:
- Warna putih susu, keabu-abuan, atau agak kekuningan.
- Tekstur kental lalu mencair dalam beberapa menit.
- Keluar saat ejakulasi.
- Bau khas (tidak busuk).
Perubahan warna ringan (misalnya agak kekuningan) masih bisa normal, tetapi semen bercampur darah, bau busuk, atau nyeri ejakulasi perlu evaluasi medis.
Terakhir adalah smegma dalam jumlah sedikit. Ciri-cirinya:
- Putih atau keabu-abuan.
- Tekstur agak kental.
- Biasanya terlihat di bawah kulup (pada penis tidak disunat).
- Tidak keluar dari lubang uretra.
- Tidak berbau tajam jika kebersihan baik.
Smegma bukan cairan uretra, tetapi penumpukan sel kulit mati dan minyak alami. Dalam jumlah kecil masih normal, tetapi jika menumpuk bisa memicu iritasi atau infeksi.
Kapan harus menemui dokter?

Meski beberapa jenis cairan dari penis bisa merupakan bagian dari proses normal seperti praejakulasi atau smegma yang biasanya tidak berbau dan tanpa gejala lain, tetapi cairan yang tidak normal perlu dievaluasi secara medis.
Segera konsultasikan dengan dokter atau profesional kesehatan jika kamu mengalami:
- Discharge yang tidak berhenti atau makin memburuk, terutama jika disertai rasa nyeri atau terbakar saat buang air kecil.
- Perubahan warna (kuning, hijau) atau berbau tidak sedap.
- Gejala lain seperti demam, pembengkakan, nyeri testis, atau perdarahan.
- Riwayat hubungan seksual tanpa kondom atau berganti pasangan baru-baru ini, yang meningkatkan risiko IMS.
Diagnosis sering kali melibatkan tes urine, swab dari uretra, dan pemeriksaan darah untuk mengidentifikasi penyebab spesifik, sehingga terapi yang tepat, seperti antibiotik untuk IMS atau antifungal untuk balanitis, dapat diberikan.
Keluarnya cairan dari penis yang bukan urine atau ejakulasi dapat memiliki berbagai penyebab, mulai dari IMS seperti gonore dan klamidia, ISK, uretritis, hingga peradangan seperti balanitis dan prostatitis. Setiap kondisi memiliki ciri-ciri yang khas dan perlu penanganan yang sesuai.
Karena beberapa penyebab dapat membawa komplikasi serius jika tidak diobati, menemui dokter atau urologis adalah langkah penting begitu mengalami keluarnya cairan dari penis yang tidak normal, terutama jika disertai gejala lain seperti nyeri, bau, atau perubahan warna. Diagnosis dini dan penanganan tepat tidak hanya mempercepat penyembuhan, tetapi juga mencegah penularan jika penyebabnya adalah IMS.
Referensi
"Understanding Non-STD Causes of Penile Discharge." Healthline. Diakses Februari 2026.
“About Chlamydia,” CDC. Diakses Februari 2026.
“Male discharge that is not an STD: 5 causes.” Medical News Today. Diakses Februari 2026.
“What Is Normal Male Discharge?” Healthline. Diakses Februari 2026.
“Causes of Penile Discharge.” LetsGetChecked. Diakses Februari 2026.
“Penile Discharge,” TAF Clinic. Diakses Februari 2026.


















