Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Sering Kentut? Ini 8 Penyebab yang Paling Umum
ilustrasi penyebab sering kentut (magnific.com/8photo)
  • Kentut adalah hal normal. Orang rata-rata buang gas 8–14 kali sehari, dan hingga 25 kali sehari masih bisa dianggap normal.

  • Penyebab sering kentut biasanya berkaitan dengan udara yang tertelan, makanan tinggi serat atau FODMAP, intoleransi laktosa, sembelit, IBS, hingga pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus.

  • Periksa ke dokter jika sering kentut disertai nyeri berat, diare lama, sembelit parah, BAB berdarah, berat badan turun, muntah, demam, atau keluhan makin mengganggu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kentut biasanya bukan topik yang umum dibicarakan, tetapi tubuh melakukannya setiap hari. Gas terbentuk ketika udara tertelan saat makan atau minum, dan ketika bakteri di usus besar memecah karbohidrat yang tidak tercerna sempurna. Jadi, bisa dibilang kentut adalah bagian dari kerja pencernaan.

Orang rata-rata buang gas 8–14 kali sehari, dan hingga 25 kali sehari masih bisa dianggap normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kentut lebih sering dari biasanya, sangat berbau, disertai kembung, nyeri, diare, sembelit, atau mulai mengganggu aktivitas.

Berikut beberapa penyebab sering kentut yang paling umum.

1. Terlalu banyak menelan udara

Makan terlalu cepat, berbicara sambil makan, minum pakai sedotan, sering mengunyah permen karet, merokok, atau minum minuman bersoda bisa membuat lebih banyak udara masuk ke saluran cerna. Sebagian keluar sebagai serdawa, sebagian lagi bergerak ke usus dan keluar sebagai kentut.

Yang bisa kamu lakukan adalah makan lebih pelan, kunyah makanan lebih pelan, batasi minuman bersoda, dan perhatikan apakah minum pakai sedotan atau mengunyah permen karet membuat keluhan bertambah.

2. Banyak makan makanan yang mudah difermentasi

Kacang-kacangan, kol, brokoli, bawang, gandum, apel, pir, dan beberapa makanan tinggi serat bisa membuat gas bertambah. Pada sebagian orang, karbohidrat tertentu lebih sulit dicerna dan lebih mudah difermentasi bakteri usus.

Jangan buru-buru menghapus semua makanan sehat. Kamu bisa mencoba mencatat makanan pemicu, kurangi porsinya sementara, lalu naikkan asupan serat secara bertahap agar usus beradaptasi.

3. Intoleransi laktosa

ilustrasi susu (unsplash.com/Mary Skrynnikova 💛💙)

Jika kentut sering muncul setelah minum susu, es krim, atau produk susu tertentu, penyebabnya bisa intoleransi laktosa. Pada kondisi ini, tubuh sulit mencerna laktosa, yaitu gula alami pada susu.

Gejalanya dapat berupa kentut, kembung, diare, kram perut, dan perut berbunyi dalam beberapa jam setelah konsumsi produk susu.

Cobalah pilih susu bebas laktosa, kurangi porsi produk susu dan olahannya, atau perhatikan jenis produk yang paling memicu keluhan. Yoghurt atau keju tertentu kadang lebih mudah ditoleransi, tetapi respons setiap orang bisa berbeda.

4. Terlalu banyak pemanis tertentu

Permen bebas gula, minuman diet, protein bar, atau produk “low sugar” kadang mengandung gula alkohol seperti sorbitol, mannitol, atau xylitol. Pada sebagian orang, pemanis ini dapat menarik air ke usus dan difermentasi bakteri, sehingga memicu gas, kembung, atau diare.

Sebagai saran, cek label makanan dan minuman. Kalau keluhan muncul setelah konsumsi produk bebas gula atau rendah gula, coba hentikan sementara dan lihat apakah membaik.

5. Sembelit

Sembelit bisa bikin gas lebih sulit keluar. Tinja yang tertahan lebih lama juga memberi lebih banyak waktu bagi bakteri untuk memfermentasi sisa makanan, sehingga perut terasa penuh, kembung, dan sering kentut.

Cobalah cukup minum, tambah asupan serat bertahap, rutin bergerak, dan jangan sering menahan buang air besar. Jika sembelit berlangsung lama atau disertai nyeri dan perdarahan, sebaiknya diperiksa.

6. Sindrom iritasi usus besar

Ilustrasi refleks orang mendengar kentut (freepik.com/8photo)

Sindrom iritasi usus besar irritable bowel syndrome atau (IBS) adalah gangguan pencernaan yang dapat menyebabkan nyeri atau kram perut, kembung, gas, diare, sembelit, atau campuran keduanya. Gejala utamanya adalah nyeri perut yang sering berkaitan dengan perubahan pola buang air besar.

Pada sebagian orang dengan IBS, makanan tinggi FODMAP dapat memicu gejala. Ada rekomendasi uji coba diet rendah FODMAP secara terbatas untuk membantu gejala IBS. Metaanalisis 13 uji klinis juga menemukan diet rendah FODMAP menempati peringkat tinggi dalam memperbaiki gejala IBS, termasuk kembung.

Hindari menjalani diet rendah FODMAP secara ekstrem atau terlalu lama tanpa arahan. Idealnya, lakukan dengan bantuan dokter atau ahli gizi agar pola makan tetap seimbang.

7. Pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus

Small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) terjadi ketika bakteri tumbuh berlebihan di usus halus. Kondisi ini dapat menyebabkan gas, kembung, nyeri perut, diare, dan pada kasus tertentu penurunan berat badan.

Tes napas hidrogen atau laktulosa dapat dipertimbangkan pada pasien bergejala, terutama jika ada faktor risiko tertentu.

SIBO tidak bisa dipastikan hanya dari sering kentut. Jika keluhan berat, berulang, atau disertai diare dan berat badan turun, sebaiknya dapatkan evaluasi medis.

8. Penyakit celiac atau gangguan penyerapan makanan

Penyakit celiac adalah gangguan imun yang dipicu gluten pada orang yang rentan. Gejalanya bisa berupa kembung, gas, diare kronis, sembelit, mual, muntah, nyeri perut, hingga tinja berminyak dan berbau tidak sedap. Kondisi ini dapat mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga jangan cuma dianggap sebagai perut sensitif.

Apabila keluhan sering muncul setelah makanan berbasis gandum dan disertai diare yang berlangsung lama, berat badan turun, anemia, atau lemas, konsultasikan ke dokter sebelum memulai diet bebas gluten. Pemeriksaan celiac lebih akurat bila gluten belum dihentikan sepenuhnya.

Sering kentut biasanya bukan kondisi berbahaya, terutama jika tidak disertai gejala lain. Namun, sebaiknya temui dokter jika keluhan disertai nyeri perut berat, buang air besar berdarah atau hitam, diare berkepanjangan, sembelit berat, muntah, demam, berat badan turun tanpa sebab, perut membesar terus, atau gejala sampai mengganggu makan dan aktivitas.

Untuk langkah awal, coba catat makanan, minuman, waktu makan, kebiasaan buang air besar, dan kapan gas paling sering muncul. Dari situ, pemicunya bisa lebih mudah terlihat.

Referensi

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Symptoms & Causes of Gas in the Digestive Tract.” Diakses Juli 2026.

Mayo Clinic. “Gas and Gas Pains: Symptoms and Causes.” Diakses Juli 2026.

NHS Inform. “Lactose Intolerance.” Diakses Juli 2026.

Lacy, Brian E., Mark Pimentel, Darren M. Brenner, William D. Chey, Laurie Keefer, Mark D. Long, and Anthony J. Lembo. “ACG Clinical Guideline: Management of Irritable Bowel Syndrome.” The American Journal of Gastroenterology 116, no. 1 (2021): 17–44. https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001036.

Black, Christopher J., Priya Staudacher, and Alexander C. Ford. “Efficacy of a Low FODMAP Diet in Irritable Bowel Syndrome: Systematic Review and Network Meta-Analysis.” Gut 71, no. 6 (2022): 1117–1126. https://doi.org/10.1136/gutjnl-2021-325214.

Pimentel, Mark, Rena H. Saad, Henry C. Long, and Brennan M. Rao. “ACG Clinical Guideline: Small Intestinal Bacterial Overgrowth.” The American Journal of Gastroenterology 115, no. 2 (2020): 165–178. https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000000501.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Symptoms & Causes of Celiac Disease.” Accessed July 11, 2026. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/celiac-disease/symptoms-causes.

Curated For You

Editorial Team

Related Article