Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perbedaan Fisura Ani dan Fistula Ani
ilustrasi rasa sakit pada anus (pixabay.com/derneuemann)
  • Fisura ani adalah robekan kecil di lapisan anus yang menyebabkan nyeri saat buang air besar, sedangkan fistula ani merupakan saluran abnormal akibat infeksi antara anus dan kulit sekitarnya.
  • Fisura ani umumnya disebabkan oleh trauma dari tinja keras atau diare, sementara fistula ani muncul karena infeksi yang tidak sembuh seperti abses atau penyakit Crohn.
  • Fisura ani bisa sembuh dengan perawatan konservatif seperti pelunak feses dan mandi air hangat, sedangkan fistula ani hampir selalu memerlukan tindakan pembedahan untuk menutup salurannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masalah pada anus sering menimbulkan rasa tidak nyaman dan membuat seseorang kesulitan beraktivitas. Di antara berbagai gangguan yang dapat terjadi, fistula ani dan fisura ani merupakan dua kondisi yang cukup sering ditemukan.

Karena sama-sama menimbulkan nyeri dan terjadi di sekitar anus, banyak orang mengira keduanya adalah penyakit yang sama. Padahal, fistula ani dan fisura ani memiliki penyebab, gejala, serta cara penanganan yang berbeda.

Fisura ani merupakan robekan kecil pada lapisan anus yang biasanya menimbulkan rasa sakit saat buang air besar. Sementara itu, fistula ani adalah saluran abnormal yang terbentuk antara bagian dalam anus dan kulit di sekitarnya, sering berkaitan dengan infeksi atau abses sebelumnya.

Memahami perbedaan antara fistula ani dan fisura ani penting agar kamu dapat memperoleh penanganan yang tepat.

1. Gejala

Fisura ani dan fistula ani gejalanya mirip, seperti pendarahan dubur dan nyeri saat buang air besar, tetapi masing-masing kondisi juga memiliki tanda-tanda yang membedakan.

Gejala fisura ani, meliputi:

  • Pendarahan dubur.

  • Nyeri saat buang air besar (diskezia).

  • Nyeri terus-menerus yang berlangsung selama berjam-jam setelah buang air besar.

  • Nyeri tekan atau ketidaknyamanan di sekitar anus.

Sementara itu, gejala fistula ani dapat meliputi:

  • Keluarnya cairan dari fistula (seperti darah, lendir, atau cairan lainnya).

  • Demam.

  • Inkontinensia (tinja bocor).

  • Nyeri atau ketidaknyamanan di area anus.

  • Nyeri saat buang air besar.

2. Penyebab

Fisura ani sebagian besar disebabkan oleh trauma akibat tinja keras atau diare. Namun, aliran darah yang rendah, penyakit radang, persalinan, dan bahkan stres juga dapat berperan.

Fistula ani disebabkan oleh infeksi yang tidak kunjung sembuh. Penyebab umumnya meliputi:

  • Abses anus yang tidak diobati.

  • Penyakit Crohn.

  • Tuberkulosis.

  • Operasi atau trauma.

  • Terapi radiasi.

3. Diagnosis

ilustrasi seseorang terkena fisura ani (pexels.com/www.kaboompics.com)

Meskipun fisura ani dan fistula ani dapat didiagnosis dengan pemeriksaan fisik anus, tetapi beberapa dokter akan merekomendasikan pemeriksaan tertentu untuk memastikan kondisi sepenuhnya.

Fisura ani sebagian besar dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik tingkat pertama karena robekan biasanya terlihat. Fisura ani yang baru akan menyerupai luka sayatan kertas. Namun, fisura anus kronis mungkin memiliki robekan yang lebih besar, disertai dengan pertumbuhan jaringan di dalam atau di luar anus.

Fistula ani dapat didiagnosis dengan anoskopi. Pemeriksaan ini menggunakan instrumen khusus untuk melihat bagian dalam anus dan rektum, dan dapat diperiksa lebih lanjut dengan bantuan USG atau MRI area anus. Ini akan membantu menentukan jalur fistula dan membantu dalam menentukan pengobatan.

4. Pengobatan

Sebagian besar fisura ani dapat sembuh dengan:

  • Pelunak tinja.

  • Diet tinggi serat.

  • Berendam air hangat.

  • Krim topikal untuk merilekskan otot.

  • Obat penghilang rasa sakit jika diperlukan.

Jika tidak ada perbaikan dalam 4-6 minggu, pembedahan bisa dipertimbangkan. Yang paling efektif adalah lateral internal sphincterotomy (LIS) untuk mengurangi tekanan otot dan membantu penyembuhan.

Pilihan pembedahan lainnya termasuk fisurektomi atau sfingterotomi laser. Ini bekerja dengan baik untuk fisura yang berulang atau tidak kunjung sembuh.

Sementara itu, fistula ani jarang sembuh dengan sendirinya. Dokter perlu membersihkan infeksi dan menutup salurannya. Pembedahan adalah satu-satunya pilihan yang dapat diandalkan.

5. Pencegahan

Baik fisura ani maupun fistula ani tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya. Namun, ada beberapa hal yang perlu diingat jika kamu berisiko mengalami salah satu masalah ini atau pernah mengalaminya.

  • Fisura ani

Fisura bisa terjadi karena sembelit atau diare, jadi sebaiknya perhatikan kebiasaan buang air besar dan pastikan fesesnya lunak dan mudah dikeluarkan.

Olahraga, serat makanan, hidrasi, dan menghindari mengejan di toilet dapat membantu mencegah fisura ani.

  • Fistula ani

Fistula mungkin tidak dapat dicegah dalam beberapa kasus. Jika kamu memiliki penyakit Crohn, memastikan kondisi ini ditangani dengan baik dapat membantu mencegah komplikasi seperti fistula.

Jika kamu menerima pengobatan kanker usus, termasuk radiasi atau pembedahan, tanyakan kepada dokter tentang pencegahan fistula.

Anjuran umum untuk menjaga kebiasaan buang air besar yang baik antara lain tidak duduk di toilet terlalu lama atau mengejan, minum cukup air, makan serat, dan rutin berolahraga. Temui dokter secara rutin dan terutama ketika perubahan pada buang air besar.

Meskipun sama-sama terjadi di area anus, tetapi fistula ani dan fisura ani merupakan dua kondisi yang berbeda dan memerlukan pendekatan pengobatan yang tidak sama. Oleh karena itu, mengenali gejala serta penyebab masing-masing penyakit dapat membantu mencegah komplikasi dan meningkatkan peluang pemulihan yang lebih baik.

Referensi

Dr. Sandhya Gupta. Diakses pada Juli 2026. "Anal Fissure vs. Fistula: What Are the Differences?"

Medanta. Diakses pada Juli 2026. "Pain In the Anus - Is It Anal Fissure or Anal Fistula?"

Verywell Health. Diakses pada Juli 2026. "Anal Fissure vs. Fistula: What Are the Differences?"

Curated For You

Editorial Team

Related Article