ilustrasi staibilitas obat (unsplash.com/Praneet S)
Selain efektivitasnya, vitamin D3 juga memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan vitamin D2. Laman Healthline melansir, vitamin D2 lebih sensitif terhadap kelembapan dan fluktuasi suhu. Hal ini memungkinkan vitamin D2 mengalami degradasi yang lebih cepat seiring waktu.
Proses degradasi ini bisa memengaruhi durasi kerja vitamin di dalam tubuh. Di mana semakin cepat terjadi degradasi, maka semakin pendek pula durasi kerjanya dalam memenuhi kadar vitamin D tubuh. Selain itu, hal ini juga memengaruhi masa simpan vitamin yang menjadi lebih pendek.
Namun, jika kamu memiliki suplemen vitamin D2 di rumah, jangan buru-buru menyingkirkannya. Kamu hanya perlu menyimpannya dengan benar untuk mencegah kerusakan produk. Caranya adalah dengan menyimpannya dalam wadah tertutup, pada suhu ruang, ditempat yang kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung.
Vitamin D2 dan D3 adalah dua jenis vitamin D yang sering kita jumpai pada suplemen makanan. Keduanya memang memiliki fungsi yang sama, akan tetapi memiliki perbedaan sumber, efektivitas, dan stabilitas kerjanya di dalam tubuh. Secara garis besar, vitamin D3 memiliki kapasitas yang lebih unggul dalam memenuhi kadar vitamin D dalam tubuh dibandingkan vitamin D2.
Referensi
“Vitamin D2 vs. Vitamin D3: What’s the Difference?”. Verywell Health. Diakses pada April 2026.
“Vitamins D2 and D3 Have Overlapping But Different Effects on the Human Immune System Revealed Through Analysis of the Blood Transcriptome”. Frontiers in Immunology. Diakses pada April 2026.
“Vitamin D2 vs. D3: What’s the Difference?”. Healthline. Diakses pada April 2026.
“Vitamin D2 (Ergocalciferol) vs. Vitamin D3 (Cholecalciferol): Which One Is Better?”. GoodRx. Diakses pada April 2026.
“Breaking Down D, D2, and D3”. Cleveland Clinic. Diakses pada April 2026.