ilustrasi minum obat (pexels.com/JESHOOTS.com)
Vitamin D2 dan D3 merupakan vitamin yang sama-sama larut dalam lemak. Dilansir laman Verywell Health, saat berada di dalam tubuh, vitamin D2 dan D3 sama-sama akan dipecah oleh hati menjadi bentuk utama vitamin D yang beredar, yaitu kalsidiol. Kalsidiol kemudian diubah oleh ginjal menjadi bentuk yang paling aktif, yang disebut dengan kalsitriol.
Perbedaannya, dalam proses metabolisme vitamin tersebut, vitamin D3 menghasilkan kalsidiol lebih banyak dibandingkan dengan vitamin D2. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin D3 mampu mencapai dan mempertahankan kalsitriol lebih optimal dibandingkan dengan vitamin D2. Dengan begitu, vitamin D3 memiliki efektivitas yang lebih unggul jika dibandingkan dengan vitamin D2 dalam memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh.
Tak hanya itu, vitamin D3 juga dikaitkan dengan kemampuannya mendukung sistem kekebalan tubuh lebih baik daripada vitamin D2. Dalam sebuah penelitian yang dimuat di Frontiers of Immunology tahun 2022, dilaporkan bahwa vitamin D3 lebih efektif dalam mengatur gen yang terlibat dalam imunitas bawaan (alami) dan adaptif (yang diperoleh) tubuh kita. Ini karena sekitar 90 persen vitamin alami yang diperoleh tubuh kita berasal dari matahari, yaitu vitamin D3, sehingga tubuh cenderung lebih responsif menyerap vitamin tersebut.
Di sisi lain, vitamin D2 biasanya cenderung lebih efektif membantu menjaga kadar kalsitriol pada penderita penyakit autoimun dibandingkan vitamin D3. Selain itu, vitamin ini mungkin juga lebih diandalkan untuk seseorang yang sedang menjalani diet vegan atau vegetarian yang ingin meningkatkan asupan vitamin D.