Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pikiran Positif Bisa Membantu Kerja Vaksin Lebih Optimal

Ilustrasi vaksinasi.
ilustrasi vaksinasi (IDN Times/Rohmah Mustaurida).
Intinya sih...
  • Harapan positif terbukti berkaitan dengan respons antibodi yang lebih kuat setelah vaksinasi.
  • Aktivasi area otak terkait “reward” berperan dalam komunikasi otak–sistem imun.
  • Studi ini membuka peluang pendekatan noninvasif untuk mendukung efektivitas vaksin.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama ini, vaksin dipahami bekerja terutama lewat mekanisme biologis yang ketat: antigen masuk, sistem imun merespons, lalu antibodi terbentuk. Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada hal lain yang ikut berperan, yakni kondisi mental dan ekspektasi seseorang saat menerima vaksin.

Sebuah uji klinis terkontrol acak menemukan bahwa orang yang mampu meningkatkan aktivitas di area otak tertentu yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan menunjukkan respons antibodi yang lebih kuat setelah vaksinasi. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine dan memberi gambaran baru tentang bagaimana pikiran dapat memengaruhi sistem imun.

Temuan ini sejalan dengan konsep lama tentang efek plasebo, yang merupakan keyakinan bahwa sesuatu akan bekerja kadang memang menghasilkan perubahan fisik yang nyata. Bedanya, penelitian ini mencoba memetakan jalur biologisnya secara lebih konkret—dari otak, ke sistem imun.

Dalam studi ini, sebanyak 85 partisipan dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama dilatih menggunakan neurofeedback fMRI, sebuah teknologi yang memungkinkan seseorang melihat aktivitas otaknya sendiri secara real time. Mereka diarahkan untuk melakukan latihan mental yang dapat meningkatkan aktivitas jalur mesolimbik, yaitu bagian otak yang terkait dengan motivasi dan reward.

Sebagai pembanding, kelompok kedua juga menjalani neurofeedback dengan tingkat kesulitan serupa, tetapi diarahkan ke area otak yang tidak berhubungan dengan reward. Kelompok ketiga tidak menjalani pelatihan apa pun.

Ekspektasi positif ikut berperan dalam memperkuat respons imun

Ilustrasi vaksinasi.
ilustrasi vaksinasi (unsplash.com/cdc)

Setelah menjalani tiga hingga empat sesi pelatihan, seluruh partisipan menerima vaksin hepatitis B, yang merupakan jenis vaksin yang sering digunakan dalam penelitian untuk mengukur respons imun. Kadar antibodi kemudian diukur pada hari ke-14 dan ke-28 setelah vaksinasi.

Hasilnya cukup konsisten. Partisipan yang berhasil mengaktifkan ventral tegmental area (VTA), yang merupakan bagian penting dari jalur reward, menunjukkan peningkatan antibodi yang secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok lain. Artinya, sistem imun mereka bereaksi lebih kuat terhadap vaksin.

Menariknya, efek ini makin jelas ketika peserta sedang menantikan sesuatu yang menyenangkan, seperti liburan atau pengalaman positif yang akan datang. Hal ini memperkuat dugaan bahwa ekspektasi positif ikut berperan dalam memperkuat respons imun—sebuah mekanisme yang menyerupai efek plasebo, tetapi dengan dasar saraf yang terukur.

Para peneliti menyebut temuan ini sebagai bukti awal adanya mekanisme top-down regulation, yang mana otak memengaruhi sistem imun secara langsung, sebuah konsep yang sebelumnya lebih banyak dibuktikan pada hewan percobaan.

Meski demikian, studi ini memiliki keterbatasan, terutama jumlah partisipan yang relatif kecil. Efektivitas vaksin secara klinis, misalnya perlindungan jangka panjang, juga belum menjadi fokus utama studi ini.

Namun, implikasinya cukup luas. Pendekatan berbasis pikiran ini berpotensi dikembangkan sebagai pendamping, bukan pengganti, intervensi medis. Ke depan, metode serupa bisa dieksplorasi untuk mendukung terapi kanker, peradangan kronis, atau kondisi lain yang sangat bergantung pada kerja sistem imun.

Referensi

Nitzan Lubianiker et al., “Upregulation of Reward Mesolimbic Activity and Immune Response to Vaccination: A Randomized Controlled Trial,” Nature, January 19, 2026, https://doi.org/10.1038/s41591-025-04140-5.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Pikiran Positif Bisa Membantu Kerja Vaksin Lebih Optimal

21 Jan 2026, 09:34 WIBHealth