Untuk pembagian kornea, jaringan donor tentu saja harus memenuhi standar kualitas, bebas dari risiko penyakit tertentu, dipersiapkan dengan teknik yang tepat, dan dapat dilacak penggunaannya pada setiap penerima.
“Pendekatan ini memerlukan pengawasan, pelacakan, dan persetujuan regulator yang ketat karena ada risiko kecil bahwa infeksi dari satu donor dapat ditularkan kepada lebih dari satu penerima,” kata Prof. Ang.
Dikatakan oleh Prof. Ang, SNEC mengantongi persetujuan pada 2026 untuk mulai menggunakan satu kornea donor pada lebih dari satu pasien dalam kondisi yang sesuai. Teknik serupa juga telah diterapkan di sejumlah negara Asia lain.
Sebuah survei terhadap dokter bedah kornea di Inggris menunjukkan mayoritas responden mendukung pembagian jaringan donor. Namun, praktiknya belum banyak dilakukan. Hambatan yang paling sering dilaporkan adalah persoalan logistik, kurangnya dukungan regulasi, serta kekhawatiran mengenai risiko infeksi.
Itulah kenapa peran bank mata menjadi sangat penting. Tidak cuma mengumpulkan kornea donor, bank mata juga melakukan penilaian, pemrosesan, penyimpanan, pengujian, dan distribusi jaringan.
“Kemampuan untuk mengimpor, menyiapkan, dan memproses jaringan donor melalui layanan bank mata merupakan bagian penting dari keberhasilan program transplantasi kornea di SNEC,” ujar Prof. Ang.
Corneal & External Eye Disease Department di SNEC menyediakan pelayanan transplantasi kornea ketebalan penuh maupun sebagian, serta penanganan untuk penyakit kornea kompleks. SNEC juga bekerja sama dengan Bank Mata Singapura untuk menyediakan dan mempersiapkan jaringan donor. Lebih dari 60 persen transplantasi kornea di Singapura dilakukan di SNEC.
“Di SNEC, waktu tunggu dapat sesingkat satu minggu untuk prosedur darurat dan sekitar 1–3 bulan untuk transplantasi elektif,” kata Prof. Ang.
Pembagian kornea merupakan salah satu cara untuk memperluas manfaat dari jaringan yang sangat terbatas. Cara lainnya adalah memilih teknik transplantasi yang lebih awet sehingga pasien tidak cepat membutuhkan donor kedua.
Menurut Prof. Ang, transplantasi selektif umumnya memiliki risiko penolakan dan komplikasi lebih rendah daripada transplantasi ketebalan penuh pada pasien yang sesuai. Dengan mempertahankan sebanyak mungkin jaringan sehat milik pasien, operasi juga dapat dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil serta pemulihan penglihatan cenderung lebih cepat.
Walaupun menjanjikan, tetapi teknik pembagian kornea bukan pengganti upaya meningkatkan donor kornea. Jumlah donor tetap perlu ditambah, sistem bank mata harus diperkuat, dan lebih banyak dokter perlu mendapatkan pelatihan transplantasi selektif.
Yang penting bagi pasien adalah lapisan kornea mana yang rusak dan prosedur yang paling aman. Tidak semua kondisi cocok untuk transplantasi sebagian. Dokter mata harus memeriksa menyeluruh untuk menentukan prosedur terbaik. Satu kornea donor memang bisa membantu dua orang, tetapi itu memerlukan keputusan medis cermat, koordinasi dua operasi, keahlian bedah, dan sistem bank mata yang aman.
Referensi
Philippe Gain et al., “Global Survey of Corneal Transplantation and Eye Banking,” JAMA Ophthalmology 134, no. 2 (2016): 167–173, https://doi.org/10.1001/jamaophthalmol.2015.4776.
Ludwig M. Heindl et al., “Split Cornea Transplantation for 2 Recipients—Review of the First 100 Consecutive Patients,” American Journal of Ophthalmology 152, no. 4 (2011): 523–532.e2, https://doi.org/10.1016/j.ajo.2011.03.021.
Jamie A. Yule et al., “UK Corneal Surgeons’ Attitudes towards Splitting Donor Corneas between Multiple Recipients,” Eye 39 (2025): 397–399, https://doi.org/10.1038/s41433-024-03556-6.
Singapore National Eye Centre, “Corneal & External Eye Disease,” diakses Juli 2026.