Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kemenkes: Segera Cari Pertolongan Jika Menemukan Tanda Gangguan Jiwa

Kemenkes: Segera Cari Pertolongan Jika Menemukan Tanda Gangguan Jiwa
ilustrasi saling mendukung (pexels.com/Mental Health America (MHA))
  • Kemenkes mengingatkan gangguan jiwa dapat dialami siapa saja dan sering tak terlihat, sehingga masyarakat perlu peka serta segera mencari pertolongan sebelum kondisi menjadi krisis.
  • Masyarakat diajak menerapkan empat langkah: tanya kondisi, dengarkan tanpa menghakimi, temani, lalu hubungkan dengan keluarga atau tenaga profesional bila diperlukan.
  • Deteksi dini diperkuat lewat CKG dan skrining SRQ-20 di SATUSEHAT; dukungan psikologis gratis juga tersedia melalui Healing119 di 119 ekstensi 8.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan jiwa dengan mengenali tanda-tanda gangguan jiwa sejak dini dan tidak ragu mencari pertolongan. Gangguan jiwa dapat dialami siapa saja, tanpa mengenal usia, jenis kelamin maupun status ekonomi.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kesehatan jiwa kerap tidak terlihat secara kasatmata sehingga banyak orang yang mengalami masalah kejiwaan tidak segera mendapatkan pertolongan.

“Orang sebenarnya kelihatan sehat, tetapi kalau kita evaluasi, dia punya masalah. Tidak kelihatan secara fisik, tetapi secara mental dia punya masalah. Ini banyak sekali terjadi di lingkungan kita sehari-hari,” ujarnya dikutip dalam keterangan di laman resmi.

  1. 4 langkah pengenalan gangguan jiwa

    Masalah kejiwaan kerap tidak terlihat, sehingga Kemenkes mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya dan tidak menunggu hingga masalah berkembang menjadi krisis.

    Menurutnya, setiap orang dapat berperan membantu mereka yang sedang menghadapi masalah kejiwaan, tanpa harus menjadi seorang ahli.

    “Tidak perlu menjadi ahli untuk menolong orang yang mengalami gangguan jiwa. Mulai dengan empat langkah sederhana 'Tanya, Dengarkan, Temani dan Hubungkan',” kata Prof. Dante.

    Berikut langkah pengenalannya:

    • Tanya: Berani menanyakan kondisi seseorang ketika terlihat mengalami perubahan.
    • Dengarkan: Memberikan ruang untuk bercerita tanpa menghakimi.
    • Temani: Agar mereka mengetahui bahwa tidak harus menghadapi masalah seorang diri.
    • Hubungkan: Membantu menghubungkan mereka dengan keluarga atau tenaga profesional apabila membutuhkan bantuan lebih lanjut.

  2. Kenali gejalanya, jangan tunggu kritis

    Seseorang duduk di lantai dengan kepala tertunduk dan tangan memegang kepala sebagai ilustrasi gangguan mental.
    ilustrasi gangguan mental (pexels.com/cottonbro studio)

    Secara global, kata Prof. Dante, sekitar 1 dari 7 orang hidup dengan gangguan kejiwaan. Kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

    Untuk itu, masyarakat perlu mengenali perubahan yang terjadi pada aspek fisik, emosi, maupun perilaku, terutama apabila berlangsung secara konsisten selama lebih dari dua minggu.

    Gejalanya dapat berupa gangguan pola tidur, merasa lemas berulang, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, sulit berkonsentrasi hingga perubahan pola bicara dan aktivitas yang mencolok.

    “Jangan tunggu sampai krisis. Gejala yang muncul sejak awal harus ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis,” tegasnya.

  3. Layanan kesehatan jiwa terus diperkuat

    Upaya deteksi dini juga terus diperkuat Kemenkes melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari pelaksanaan CKG, ditemukan sekitar 35.000 anak atau 1,08 persen yang teridentifikasi mengalami gangguan jiwa. Sementara pada kelompok dewasa, ditemukan sekitar 186.000 orang dengan gangguan depresi dan kecemasan.

    Selain melalui CKG, skrining kesehatan jiwa juga dapat dilakukan secara mandiri melalui SATUSEHAT menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Hasil skrining dapat membantu seseorang mengenali kondisi kesehatan jiwanya dan menentukan apakah membutuhkan konsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.

    Kemenkes juga terus memperkuat layanan kesehatan jiwa pada berbagai kelompok usia, mulai dari ibu hamil, ibu pasca melahirkan, anak, remaja hingga dewasa, sehingga masalah kesehatan jiwa dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.

    Masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam menghadapi masalah kesehatan jiwa juga dapat mengakses Healing119 secara gratis melalui 119 ekstensi 8. Layanan ini menyediakan dukungan psikologis dan dapat membantu menghubungkan masyarakat dengan pertolongan yang sesuai.

    Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental—seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan berat, kehilangan harapan, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri—jangan menyepelekannya.

    Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Kamu dapat mulai dengan berbicara kepada orang yang dipercaya serta berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

    Jika kamu sedang berada dalam krisis atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan. Kamu tidak harus menghadapinya sendirian.

    Layanan bantuan di Indonesia:

    • Healing119.id dari Kementerian Kesehatan: hubungi 119 ekstensi 8 untuk dukungan krisis atau akses layanan percakapan melalui Healing119.id.
    • Untuk informasi umum mengenai layanan kesehatan, hubungi Halo Kemenkes 1500-567 atau WhatsApp 0811-10-500-567.

    Jika terdapat risiko langsung menyakiti diri sendiri atau orang lain, jangan meninggalkan orang tersebut sendirian. Hubungi PSC 119 atau segera datang ke IGD rumah sakit terdekat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More