Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Keracunan Makanan akibat Bacillus cereus, Seberapa Berbahaya?

4 min read
Keracunan Makanan akibat Bacillus cereus, Seberapa Berbahaya?
ilustrasi keracunan makanan (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Bacillus cereus dapat mencemari nasi, pasta, daging, dan pangan lain; penyimpanan yang tidak tepat memungkinkan bakteri berkembang.

  • Keracunan umumnya menyebabkan muntah atau diare dan cepat pulih, tetapi komplikasi berat dapat terjadi meski jarang.

  • Pemanasan ulang tidak menjamin makanan aman karena toksin cereulide tahan panas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Nasi sisa yang dibiarkan di meja lalu dibuat nasi goreng mungkin dianggap biasa. Namun, pemanasan ulang tidak selalu menjamin keamanannya. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah Bacillus cereus (B. cereus), bakteri penghasil toksin yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Sebagian besar kasus menimbulkan gangguan pencernaan singkat dan bisa pulih sendiri. Meski begitu, muntah atau diare berat dapat menyebabkan dehidrasi dan komplikasi serius.

  1. 1. Penyebabnya bisa berupa bakteri maupun toksin yang sudah terbentuk

    B. cereus terdapat di lingkungan dan bisa mencemari berbagai makanan. Bakteri ini membentuk spora, semacam bentuk bertahan hidup yang dapat lolos dari proses memasak. Ketika makanan matang disimpan pada suhu yang mendukung pertumbuhan, spora dapat tumbuh kembali menjadi bakteri.

    Ada dua bentuk penyakit melalui makanan, yaitu keracunan akibat toksin cereulide yang sudah terbentuk sebelum makanan dimakan, dan penyakit akibat enterotoksin yang dihasilkan di usus setelah bakteri tertelan.

    Jadi, tidak semua kasus merupakan infeksi dengan mekanisme yang sama.

  2. 2. Muntah dan diare memiliki pola waktu berbeda

    Bentuk penyakit

    Keluhan utama

    Waktu muncul setelah makan

    Tipe muntah

    Mual dan muntah, kadang diare

    Sekitar 30 menit–5 jam

    Tipe diare

    Diare dan kram atau nyeri perut, dapat disertai mual

    Sekitar 8–16 jam

    Gejala biasanya mereda dalam 6–24 jam pada tipe muntah dan 12–24 jam pada tipe diare.

    Waktu tersebut merupakan pola umum, bukan untuk diagnosis diri sendiri.

  3. 3. Risikonya meningkat ketika makanan terlalu lama dibiarkan

    Sepiring nasi putih dengan aneka lauk dan makanan pendamping tersaji di atas meja makan bersama beberapa hidangan lain.
    ilustrasi nasi putih, lauk, dan makanan pendamping lainnya di meja makan (pexels.com/Edward Legowo)

    Risiko tidak terbatas pada nasi. Pasta, daging, saus, susu, dan sayuran juga dapat menjadi sumber. Makanan matang yang didinginkan terlalu lambat atau terlalu lama dibiarkan tanpa pengendalian suhu memberi kesempatan bakteri berkembang.

    Siapa pun dapat mengalami keracunan. Sementara itu, infeksi B. cereus di luar saluran cerna lebih jarang dan lebih mungkin terjadi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah. Kondisi ini berbeda dari keracunan makanan biasa.

  4. 4. Biasanya ringan, tetapi komplikasinya tidak boleh diabaikan

    Komplikasi yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi akibat kehilangan cairan. Pada kasus yang jarang, keracunan berat dapat merusak organ.

    Laporan dalam World Journal of Hepatology pada 2024 mendokumentasikan perempuan berusia 48 tahun yang mengalami gagal hati setelah keracunan makanan terkait B. cereus. Penelitian tersebut juga membahas laporan komplikasi seperti kerusakan otot dan gangguan ginjal. Ini merupakan bukti bahwa komplikasi berat dapat terjadi.

  5. 5. Diagnosis dan pengobatan disesuaikan dengan kondisi pasien

    Penelusuran makanan yang dikonsumsi dan waktu munculnya gejala membantu pemeriksaan. Dokter dapat memeriksa tinja, muntahan, atau sampel makanan untuk mencari penyebab.

    Pemeriksaan darah mungkin diperlukan jika dokter mencurigai infeksi yang lebih luas.

    Pada keracunan tanpa komplikasi, penanganan terutama berupa istirahat dan penggantian cairan, misalnya dengan oralit. Antibiotik tidak diberikan rutin karena tidak menetralkan toksin yang sudah terbentuk. Dehidrasi berat dapat memerlukan infus. Infeksi di luar usus membutuhkan penanganan berbeda oleh dokter.

    Segera cari pertolongan apabila muntah membuat cairan tidak bisa masuk, diare berat, atau tubuh sangat lemas dan pusing. Jangan menganggap gejala berat akan sembuh sendiri.

  6. 6. Penyimpanan yang benar lebih penting daripada mengandalkan pemanasan ulang

    Citra mikroskop elektron Bacillus cereus memperlihatkan sel bakteri berbentuk batang dengan permukaan bertekstur.
    Bakteri Bacillus cereus. (commons.wikimedia.org/Mogana Das Murtey and Patchamuthu Ramasamy)

    Toksin cereulide tahan panas. Artinya, menggoreng atau memanaskan makanan kembali tidak dapat diandalkan untuk menyelamatkan makanan yang sudah mengandung toksin tersebut.

    Untuk mengurangi risiko, lakukan langkah-langkah ini:

    • Masukkan makanan matang yang mudah rusak ke kulkas dalam 2 jam; batasi menjadi 1 jam jika suhu lingkungan di atas sekitar 32 derajat Celcius.
    • Bagi makanan dalam porsi kecil dan wadah dangkal agar cepat dingin.
    • Jaga suhu kulkas sekitar 4 derajat Celcius atau lebih rendah.
    • Buang makanan mudah rusak yang sudah terlalu lama berada pada suhu ruang, alih-alih mencoba menyelamatkannya dengan pemanasan ulang.

    Referensi

    Richard Dietrich et al., “The Food Poisoning Toxins of Bacillus cereus,” Toxins 13, no. 2 (2021): 98, https://doi.org/10.3390/toxins13020098.

    Cleveland Clinic, “Bacillus cereus,” diakses September 2026.

    BC Centre for Disease Control, “Bacillus cereus,” diakses September 2026.

    Olivier Chatelanat et al., “Liver Failure after Bacillus cereus Food Poisoning, an Under-Recognized Entity: A Case Report,” World Journal of Hepatology 16, no. 11 (2024): 1339–47, https://doi.org/10.4254/wjh.v16.i11.1339.

    U.S. Department of Agriculture, Food Safety and Inspection Service, “Leftovers and Food Safety,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More