Centers for Disease Control and Prevention, “Safer Food Choices,” diakses 8 September 2026.
Richard Dietrich et al., “The Food Poisoning Toxins of Bacillus cereus,” Toxins 13, no. 2 (2021): 98, https://doi.org/10.3390/toxins13020098.
Centers for Disease Control and Prevention, “Food Poisoning Symptoms,” diakses 8 September 2026.
U.S. Food and Drug Administration, “FDA Issues Final Compliance Policy Guide for Scombrotoxin (Histamine)-forming Fish and Fishery Products,” diakses 8 September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “How Listeria Spread: Sprouts and Melons,” diakses 8 September 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “About C. perfringens Food Poisoning,” diakses 8 September 2026.
U.S. Department of Agriculture, Food Safety and Inspection Service, “Leftovers and Food Safety,” diakses 8 September 2026.
10 Makanan yang Rentan Menyebabkan Keracunan, Ada Nasi

Daging mentah bisa mengandung bakteri Salmonella, E. coli, dan Yersinia.
Buah dan sayuran segar bisa terkontaminasi bakteri Salmonella, E. coli, dan Listeria.
Susu segar yang belum dipasteurisasi dapat mengandung bakteri Campylobacter, Cryptosporidium, E. coli, Listeria, dan Salmonella.
Nasi untuk makan malam, telur setengah matang, hingga lalapan di samping ayam goreng merupakan bagian dari keseharian banyak orang. Namun, makanan yang akrab ini bisa menjadi sumber penyakit jika tercemar atau ditangani dengan tidak tepat.
Makanan mentah, yang kurang matang, serta beberapa produk segar butuh perhatian khusus. Berikut jenis makanan yang bisa menyebabkan keracunan agar kamu lebih waspada.
Table of Content
1. Nasi matang dan nasi goreng dari nasi sisa
Contoh bahayanya adalah bakteri Bacillus cereus.
Studi menunjukkan bahwa sporanya dapat bertahan saat dimasak, lalu tumbuh ketika penyimpanan memungkinkan. Toksin penyebab muntah, cereulide, tahan panas.
Segera dinginkan nasi yang tidak dimakan; menggoreng ulang bukan jaminan menghilangkan toksin yang sudah terbentuk.
2. Daging ayam yang kurang matang
Salmonella dan Campylobacter dapat mencemari daging ayam. Bagian luar yang kecokelatan belum memastikan bagian dalam matang.
Sebaiknya gunakan termometer pangan jika ada. Suhu bagian terdalam ayam perlu mencapai sekitar 74 derajat Celcius.
Juga, pisahkan peralatan untuk ayam mentah dari makanan siap santap.
3. Telur mentah atau setengah matang

ilustrasi telur setengah matang (pexels.com/Klaus Nielsen) Telur dapat membawa bakteri Salmonella, termasuk ketika digunakan dalam minuman dengan campuran telur mentah.
Jadi, masak telur hingga putih dan kuningnya mengeras. Untuk resep yang tidak dimasak, pilih telur atau produk telur pasteurisasi.
4. Ikan tuna yang tidak dijaga tetap dingin
Bahaya pada ikan tertentu tidak hanya berupa infeksi. Aktivitas bakteri pembusuk dapat membentuk histamin, senyawa yang memicu keracunan. Setelah terbentuk, histamin tidak hilang dengan pencucian, pembekuan, atau pemanasan.
Pilih ikan yang disimpan dingin dan pertahankan rantai dinginnya sampai diolah.
5. Kerang mentah atau kurang matang
Kerang, terutama tiram mentah, dapat membawa Vibrio dan norovirus. Masak hingga matang dan hindari kontaminasi ulang setelahnya.
Saat membeli kerang atau makanan laut lainnya, belilah di toko yang bersih, tepercaya, serta patuhi peringatan keamanan hasil laut.
6. Susu mentah yang belum dipasteurisasi

ilustrasi susu mentah (pixabay.com/NoName_13) Susu mentah dapat mengandung Campylobacter, Salmonella, atau E. coli penyebab penyakit. Label “segar” tidak menjamin bebas kuman.
Sebaiknya pilih susu pasteurisasi atau UHT, lalu ikuti petunjuk penyimpanan setelah kemasannya dibuka.
7. Lalapan dan sayuran mentah
Sayuran mentah dapat tercemar E. coli, Salmonella, atau norovirus melalui air, lingkungan, dan penanganan.
Selalu cuci dengan air mengalir yang aman dan pisahkan dari bahan hewani mentah.
Pencucian mengurangi kontaminasi, tetapi tidak mensterilkan sayuran. Memasaknya memberikan perlindungan tambahan.
8. Tauge mentah atau hanya dilayukan sebentar
Kondisi hangat dan lembap untuk menumbuhkan kecambah juga mendukung pertumbuhan kuman, termasuk Listeria monocytogenes.
Kuman bisa berada di bagian dalam maupun luar kecambah sehingga pencucian saja tidak cukup.
Untuk tauge pelengkap soto atau hidangan lain, masak sampai benar-benar matang.
9. Buah potong, terutama melon

ilustrasi buah melon (pexels.com/Any Lane) Melon dapat tercemar Listeria. Cuci kulit buah sebelum memotong, gunakan pisau bersih, dan simpan potongannya di kulkas.
Untuk rujak atau buah potong siap beli, pilih yang terlindung dari kontaminasi dan dijaga dingin.
10. Masakan daging berkuah yang dibuat dalam jumlah besar
Clostridium perfringens sering dikaitkan dengan daging, unggas, dan kuah yang dimasak dalam jumlah besar lalu disimpan pada suhu tidak aman. Dalam keseharian, prinsip ini berlaku pada hidangan seperti semur atau gulai daging.
Tips amannya, pertahankan panasnya saat disajikan, atau bagi ke wadah dangkal untuk segera didinginkan.
Batas waktu penyimpanan yang perlu diingat
Makanan matang yang mudah rusak sebaiknya masuk kulkas dalam 2 jam, atau 1 jam jika suhu lingkungan di atas sekitar 32 derajat Celcius. Gunakan wadah kecil dan dangkal agar cepat dingin. Makanan yang sudah melewati batas tersebut pada suhu ruang sebaiknya dibuang.
Jika setelah makan muncul diare berdarah, muntah sampai tidak bisa minum, atau tanda dehidrasi seperti jarang kencing dan pusing, segera cari pertolongan medis.
Referensi














![[QUIZ] Berdasarkan Tujuan Kamu, Ini Jenis Diet yang Paling Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)







