“Sulfur Dioxide Basics.” U.S. Environmental Protection Agency (EPA). Diakses pada Agustus 2026.
“Air Pollution.” World Health Organization (WHO). Diakses pada Agustus 2026.
“Sulfur Dioxide | Medical Management Guidelines.” Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), CDC. Diakses pada Agustus 2026.
“Sulfur Dioxide.” Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), CDC. Diakses pada Agustus 2026.
3 Dampak Sulfur Dioksida/SO2 jika Terhirup, Imbas Erupsi Anak Krakatau

- Erupsi Anak Krakatau pada awal September 2026 dapat melepaskan sulfur dioksida (SO2), gas berbau menyengat yang dampaknya dipengaruhi konsentrasi, durasi paparan, dan kondisi kesehatan.
- SO2 yang terhirup dapat mengiritasi hidung serta tenggorokan, memicu batuk, ketidaknyamanan bernapas, napas berbunyi, hingga sesak napas.
- Paparan SO2 berkonsentrasi tinggi dapat menyempitkan saluran pernapasan dan memperburuk asma atau penyakit paru; masyarakat diminta mengurangi paparan serta menuju udara lebih bersih saat berkeluhan.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah gunung berapi tersebut mengalami beberapa kali erupsi pada awal September 2026. Erupsi gunung api tidak hanya mengeluarkan abu vulkanik, tetapi juga dapat melepaskan gas vulkanik seperti sulfur dioksida atau SO2 ke udara. Gas SO2 memiliki bau menyengat dan dapat mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup.
Besarnya dampak paparan dapat dipengaruhi oleh konsentrasi gas dan lama paparan. Kondisi kesehatan seseorang juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap paparan gas tersebut. Lalu, apa saja dampak gas SO2 saat terhirup? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini!
1. Tenggorokan dan hidung bisa teriritasi

ilustrasi sakit (pexels.com/Gustavo Fring) Gas SO2 yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan, termasuk hidung dan tenggorokan. Iritasi ini dapat membuat hidung atau tenggorokan terasa perih dan tidak nyaman. Mengutip dari U.S. Environmental Protection Agency (EPA), paparan SO2 dalam waktu singkat dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan.
Gejala yang muncul dapat berupa batuk, rasa tidak nyaman saat bernapas, atau tenggorokan terasa teriritasi. Risiko tersebut dapat lebih besar ketika seseorang terpapar SO2 dengan konsentrasi yang tinggi. Oleh karena itu, paparan gas SO2 dari aktivitas gunung api perlu diwaspadai, terutama ketika konsentrasinya di udara meningkat.
2. Bisa memicu batuk dan sesak napas

ilustrasi batuk (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Selain mengiritasi hidung dan tenggorokan, gas SO2 juga dapat mengganggu saluran pernapasan bagian bawah. Saat terhirup, gas ini dapat menyebabkan batuk, napas berbunyi, hingga sesak napas. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan SO2 dapat menyebabkan gejala pada saluran pernapasan dan memperburuk kondisi seperti asma.
Keluhan tersebut dapat terasa lebih berat pada orang yang memiliki saluran pernapasan sensitif. Semakin tinggi konsentrasi SO2 di udara, semakin besar pula risiko munculnya gangguan pernapasan. Sebab itu, masyarakat di sekitar wilayah terdampak erupsi perlu mengurangi paparan ketika terdapat gas vulkanik di udara.
3. Paparan tinggi dapat memperburuk gangguan pernapasan

ilustrasi sesak napas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Paparan gas SO2 dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gangguan pernapasan yang lebih serius. Dilansir Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), paparan SO2 pada kadar tinggi dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan. Kondisi ini bisa membuat seseorang mengalami sesak napas yang lebih berat.
Orang dengan asma atau penyakit paru lainnya juga dapat lebih rentan terhadap dampak paparan SO2. Risiko gangguan pernapasan meningkat ketika seseorang menghirup gas dengan konsentrasi tinggi dalam waktu tertentu. Itulah kenapa, masyarakat perlu menghindari sumber paparan dan segera mencari tempat dengan udara yang lebih bersih ketika tercium bau menyengat atau muncul keluhan pernapasan.
Gas sulfur dioksida atau SO2 dari aktivitas gunung api dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama ketika seseorang terpapar dalam konsentrasi tinggi. Karena itu, penting untuk mengurangi paparan dan segera menjauh dari area yang udaranya terkontaminasi gas vulkanik jika muncul keluhan pernapasan. Jadi, tetaplah waspada dan jaga diri selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
Referensi




















