“About E. coli.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“E. coli Infection.” Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
“E. coli - Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses September 2026.
“E. coli.” Wisconsin Department of Health Services. Diakses September 2026.
“Signs and Symptoms of E. coli Infection.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Hemolytic Uremic Syndrome (HUS).” Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
3 Dampak Kontaminasi E. coli pada Makanan, Bisa Berakibat Fatal

- Sekitar seratus siswa SMP Negeri 6 Boyolali mengalami keracunan MBG; uji laboratorium menemukan kontaminasi E. coli pada salah satu menu.
- Strain patogen seperti STEC dapat memicu diare berdarah, kram perut, muntah, dan demam; gejala umumnya muncul tiga hingga empat hari setelah konsumsi.
- Diare dan muntah dapat menyebabkan dehidrasi berat, terutama pada anak; kasus langka dapat berkembang menjadi HUS, anemia, trombosit rendah, hingga gagal ginjal akut.
Kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) terus terjadi. Sebelumnya sekitar seratusan siswa SMP Negeri 6 Boyolali mengalami keracunan setelah menyantap makan bergizi gratis pada 4 September 2026 lalu. Hasil uji lab kesehatan yang dilakukan menunjukkan bahwa adanya kontaminasi bakteri E. coli (Escherichia coli) pada salah satu menu yang disajikan.
Dilansir Cleveland Clinic, kontaminasi bakteri E. coli biasanya terjadi saat makanan disiapkan. Entah karena proses pencucian yang kurang bersih, atau makanan yang disajikan kurang matang. Sebagian besar strain E. coli sebenarnya gak berbahaya. Namun beberapa strain lainnya seperti Shiga toxin-producing E. Coli (STEC) dapat memberikan dampak serius bagi kesehatan. Apa saja dampaknya?
1. Menyebabkan diare dan gangguan pencernaan

gambar papan tanda toilet (unsplash.com/Jonny Gios) Bakteri E. coli merupakan sekelompok bakteri yang dapat ditemukan di usus manusia dan hewan berdarah hangat. Seperti yang disebutkan sebelumnya, sebagian besar bakteri E. coli sebenarnya gak berbahaya bahkan memiliki peran penting bagi sistem pencernaan. Namun beberapa strain E. coli lain bersifat patogen yang berarti mereka bisa menyebabkan penyakit pada manusia. Dilansir Wisconsin Department of Health Service, Shiga toxin-producing E. Coli (STEC) misalnya dapat menyebabkan diare berdarah, kram perut yang parah, dan muntah.
Beberapa orang yang terinfeksi juga kerap mengalami demam. Sebagian besar orang yang terinfeksi STEC biasanya mulai merasa sakit sekitar 3 sampai 4 hari setelah mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung bakteri tersebut. Dalam kasus ringan, biasanya infeksi sembuh dalam waktu 5 sampai 7 hari. Namun pada kasus yang serius, kondisi ini membutuhkan pertolongan medis karena dapat mengancam nyawa.
2. Membuat tubuh kehilangan banyak cairan

gambar kantung infusan di ruang perawatan (unsplash.com/Dimitri Karastelev) Bakteri E. coli memang gak secara langsung membuat kamu kehilangan cairan. Namun diare dan muntah yang disebabkan oleh infeksi bakteri ini membuat tubuh kehilangan cairan dalam jumlah yang signifikan bahkan menyebabkan dehidrasi parah. Dilansir CDC, dehidrasi merupakan kondisi yang terjadi jika tubuh kekurangan cairan.
Kondisi ini ditandai dengan rasa haus yang sangat, mulut dan tenggorokan terasa kering, pusing atau kepala terasa ringan, menangis tanpa mengeluarkan air mata. Pada kasus dehidrasi yang parah bisa menyebabkan sedikit buang air kecil, dan urine berwarna gelap. Dibandingkan dengan orang dewasa, anak kecil lebih rentan mengalami dehidrasi dan membutuhkan pertolongan medis agar kondisinya gak semakin memburuk.
3. Dapat memicu HUS dan gagal ginjal

gambar replika ginjal manusia (unsplash.com/Robina Weermeijer) Pada kasus yang lebih jarang, infeksi E. coli dapat menyebabkan kondisi serius seperti hemolytic uremic syndrome atau HUS. Dilansir Cleveland Clinic, hemolytic uremic syndrome adalah kondisi yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah kecil pada ginjal. Penyumbatan ini pada akhirnya menghancurkan sel darah merah (anemia hemolitik) dan mengurangi jumlah trombosit dalam darah.
Gejalanya meliputi diare berdarah, kulit pucat, rasa lelah berlebih, memar pada kulit, kadar sel darah merah rendah, jumlah trombosit yang rendah, gagal ginjal akut, tekanan darah tinggi, dan gejala lainnya. Hemolytic uremic syndrome dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih umum disebabkan oleh infeksi bakteri Escherichia coli alias E. coli. Meski kondisinya sangat serius, penderita hemolytic uremic syndrome yang mendapat penanganan medis yang cepat dan tepat umumnya dapat pulih sepenuhnya tanpa mengalami kerusakan ginjal permanen.
Benar bahwa infeksi E. coli ringan dapat sembuh setelah beberapa hari. Namun bukan berarti kamu bisa menyepelekan kondisi ini. Terutama pada anak-anak, gejala seperti diare berdarah, dan muntah merupakan kondisi serius yang perlu penanganan medis cepat. Selain itu, pastikan juga setiap makanan yang dikonsumsi oleh keluarga dan anak-anak higienis dan terhindar dari kontaminasi bakteri, bukan hanya E. coli tetapi juga bakteri lain yang membahayakan tubuh.
Referensi


















