Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sejarah CT Scan: Dari Eksperimen ke Ruang Radiologi
ilustrasi pasien menjalani CT scan (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • CT scan menggabungkan pengukuran sinar-X dari banyak arah untuk menghasilkan gambar irisan tubuh.

  • Fisikawan Allan Cormack merumuskan dasar matematisnya, sementara insinyur Godfrey Hounsfield membangun pemindai klinis pertama.

  • Pemindaian pasien pertama dilakukan pada 1971; gambar hasilnya perlu diproses komputer selama dua hari sebelum dapat dilihat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 1 Oktober 1971, seorang perempuan dengan dugaan tumor otak menjalani pemeriksaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Pemindai mengambil data dari kepalanya, tetapi gambar hasil pemeriksaan itu tidak langsung muncul. Data harus diproses di komputer utama di luar rumah sakit. Dua hari kemudian, dokter radiologi James Ambrose dan insinyur Godfrey Hounsfield akhirnya melihat gambarnya, berupa sebuah lesi di otak yang kemudian dikonfirmasi sebagai tumor.

Pemeriksaan itu menjadi CT scan klinis pertama pada pasien hidup dan membuka babak baru dalam pencitraan medis.

Sebelum CT scan, gambar tubuh saling bertumpuk

Foto rontgen biasa memperlihatkan bayangan jaringan yang berada di jalur sinar-X. Tulang, organ, dan jaringan lain bisa bertumpuk dalam satu gambar, sehingga bagian tertentu sulit dibedakan.

Dokter pada masa itu juga masih menggunakan beberapa prosedur pemeriksaan otak yang lebih rumit dan tidak nyaman bagi pasien.

CT, singkatan dari computed tomography atau tomografi terkomputasi, menawarkan cara berbeda. Mesin mengukur bagaimana sinar-X melewati tubuh dari berbagai arah. Komputer mengolah pengukuran itu menjadi gambar irisan, sehingga dokter dapat melihat struktur tubuh lapis demi lapis.

Cormack menemukan cara menghitung bagian dalam tubuh

Dasar CT scan dibangun oleh lebih dari satu orang. Fisikawan Allan Cormack mempelajari bagaimana bagian dalam suatu benda dapat dipetakan dari pengukuran sinar yang menembusnya. Ia menerbitkan hasil pentingnya pada 1963 dan 1964.

Gagasan matematis ini membantu menunjukkan bahwa komputer dapat menyusun gambaran bagian dalam tubuh dari banyak pengukuran.

Hounsfield mengubah gagasan menjadi mesin

Prototipe pemindai CT pertama dikembangkan oleh Godfrey Hounsfield pada tahun 1968. (commons.wikimedia.org/AlexGustschin)

Di Inggris, Hounsfield—seorang insinyur di perusahaan EMI—mengembangkan pendekatan praktisnya secara terpisah. Ia menguji apakah komputer dapat menghitung isi sebuah benda dari pembacaan yang diambil melalui benda itu dari berbagai arah. Pada eksperimen awal, pemindai uji yang dirakit dari komponen mesin bubut memerlukan waktu sembilan hari untuk menyelesaikan satu pemindaian.

Setelah menguji sampel jaringan otak, Hounsfield bekerja sama dengan Ambrose untuk mengembangkan pemindai yang bisa digunakan pada pasien. Mesin pertama itu dirancang untuk memeriksa kepala. Data dari pasien pertama kemudian dibawa ke komputer utama EMI untuk direkonstruksi. Itulah sebabnya Ambrose baru melihat gambar hasilnya dua hari kemudian.

Dari pemindaian kepala hingga seluruh tubuh

Pada tahun 1972, hasil awal CT dipresentasikan kepada komunitas radiologi. Kesuksesan pemindaian otak mendorong pengembangan pemindai untuk bagian tubuh lain. Pada 1974, Robert Ledley memperkenalkan salah satu pemindai CT seluruh tubuh pertama di Georgetown University Medical Center, Amerika Serikat.

Perkembangan berikutnya membuat pemeriksaan makin cepat. CT spiral yang diperkenalkan pada 1989 memungkinkan mesin mengumpulkan data secara berkelanjutan saat pasien bergerak melewati pemindai. Setelah itu, penggunaan banyak baris detektor memperluas cakupan gambar dalam satu putaran mesin.

Nobel untuk dua pelopor

Pada 1979, Cormack dan Hounsfield menerima Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas pengembangan tomografi berbantuan komputer. Penghargaan itu mengakui dua bagian penting dari inovasi tersebut, yaitu dasar matematis untuk merekonstruksi gambar dan mesin yang membuatnya dapat digunakan dalam pemeriksaan klinis.

Dari pemindai yang membutuhkan waktu berhari-hari untuk menampilkan satu gambar, CT berkembang menjadi teknologi yang dapat menghasilkan banyak irisan tubuh dalam hitungan detik. Prinsip dasarnya tetap sama, yaitu mengumpulkan pengukuran sinar-X dari berbagai arah, lalu meminta komputer menyusunnya menjadi gambaran bagian dalam tubuh.

Referensi

Raymond A. Schulz, Jay A. Stein, and Norbert J. Pelc, “How CT Happened: The Early Development of Medical Computed Tomography,” Journal of Medical Imaging 8, no. 5 (2021): 052110, https://doi.org/10.1117/1.JMI.8.5.052110.

Cynthia H. McCollough and Prabhakar Shantha Rajiah, “Milestones in CT: Past, Present, and Future,” Radiology 309, no. 1 (2023): e230803, https://doi.org/10.1148/radiol.230803.

Godfrey N. Hounsfield, “Computerized Transverse Axial Scanning (Tomography): Part 1. Description of System,” British Journal of Radiology 46, no. 552 (1973): 1016–22, https://doi.org/10.1259/0007-1285-46-552-1016.

Nobel Prize Outreach, “The Nobel Prize in Physiology or Medicine 1979,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Apakah Bisul Bisa Menular?23 Sep 2026, 14:03 WIB