Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Daftar Skandal Medis yang Membahayakan Pasien

Daftar Skandal Medis yang Membahayakan Pasien
ilustrasi malapraktik (IDN Times/NRF)

  • Penyelidikan mengungkap berbagai penyimpangan medis, dari terapi kanker dan operasi tak perlu hingga kesalahan bedah serta pemberian opioid tanpa dasar klinis.

  • Farid Fata dipenjara 45 tahun setelah memberi tindakan tak perlu kepada 553 pasien, sementara Ian Paterson dan Christopher Duntsch menerima hukuman 20 tahun serta seumur hidup.

  • Beberapa kasus menyoroti kegagalan pengawasan, respons atas keluhan, dan persetujuan tindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di sebuah klinik kanker di Michigan, Amerika Serikat (AS), ratusan pasien menerima infus dan suntikan yang mereka anggap diperlukan untuk menghadapi penyakitnya. Penyelidikan federal kemudian menemukan bahwa 553 pasien telah diberi tindakan yang sebenarnya tidak diperlukan secara medis.

Kasus tersebut merupakan salah satu contoh ekstrem mengenai bagaimana kepercayaan pasien dapat disalahgunakan dan bagaimana praktik medis yang menyimpang dapat membahayakan keselamatan pasien.

Tidak ada lembaga internasional yang membuat pemeringkatan skandal medis berdasarkan jumlah korban atau besarnya kerugian. Artikel ini memuat deretan kasus yang terdokumentasi melalui putusan pengadilan atau penyelidikan resmi, dengan mempertimbangkan skala penyimpangan, jumlah pasien yang terdampak, serta risiko dan dampaknya terhadap keselamatan pasien.

  1. Kasus skandal medis yang berujung pada putusan atau penyelidikan resmi

    Secara umum, malapraktik terjadi ketika tenaga kesehatan gagal memberikan pelayanan sesuai standar profesinya, kegagalan tersebut menimbulkan cedera, dan dapat dibuktikan adanya hubungan antara tindakan dengan kerugian pasien. Komplikasi atau pengobatan yang tidak berhasil saja belum cukup untuk membuktikan malapraktik.

    Sebuah penelitian dalam The New England Journal of Medicine menelaah 1.452 tuntutan malapraktik yang telah selesai di AS. Sekitar 37 persen tuntutan tersebut tidak disertai bukti kesalahan medis. Temuan ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan rekam medis dan penilaian ahli sebelum suatu kejadian disebut malapraktik.

    Kasus-kasus di bawah ini dipilih karena telah melalui proses hukum atau penyelidikan resmi. Namun, status hukumnya sebagian berakhir dengan pemidanaan, sedangkan sebagian lainnya merupakan temuan penyelidikan tanpa putusan bersalah terhadap individu tertentu.

  2. 1. Pemberian terapi yang tidak diperlukan

    Farid Fata merupakan dokter spesialis hematologi dan onkologi yang berpraktik di Michigan, AS. Ia memberikan infus atau suntikan yang tidak diperlukan kepada 553 pasien.

    Menurut Departemen Kehakiman AS, tindakannya mencakup diagnosis kanker palsu, pemberian kemoterapi yang tidak diperlukan, serta pemeriksaan PET yang tidak didasari alasan medis.

    Fata mengajukan klaim palsu senilai sekitar 34 juta dolar AS kepada Medicare dan perusahaan asuransi swasta. Ia mengaku bersalah atas 13 dakwaan penipuan layanan kesehatan, satu dakwaan konspirasi terkait suap, dan dua dakwaan pencucian uang. Pada tahun 2015, ia dijatuhi hukuman penjara selama 45 tahun.

    Kasus ini lebih tepat disebut sebagai kejahatan medis yang disengaja, bukan sekadar kesalahan dalam mengambil keputusan klinis.

  3. 2. Melakukan operasi payudara yang tidak perlu

    Ilustrasi dokter bedah mengenakan pakaian operasi saat menjalankan prosedur di ruang bedah dengan peralatan medis.
    ilustrasi operasi, dokter bedah (magnific.com/stefamerpik)

    Ian Paterson merupakan dokter bedah payudara di sejumlah rumah sakit milik National Health Service (NHS) dan rumah sakit swasta di Inggris. Laporan pemerintah mencatat bahwa kekhawatiran serius mengenai praktiknya telah muncul sejak 2003. Namun, ia baru dihentikan dari praktik pada tahun 2011.

    Sebagian pasien menerima informasi yang tidak benar mengenai kondisinya, ditekan untuk segera mengambil keputusan, atau menjalani operasi yang tidak diperlukan. Pemerintah Inggris menyatakan bahwa ribuan orang yang pernah ditangani Paterson telah berada dalam risiko bahaya.

    Pada tahun 2017, ia dinyatakan bersalah atas 17 dakwaan melukai pasien dengan sengaja dan tiga dakwaan melukai tanpa dasar hukum. Hukumannya kemudian diperberat menjadi 20 tahun penjara.

    Penyelidikan independen menemukan bahwa rumah sakit dan badan pengawas gagal berbagi informasi serta terlambat menindaklanjuti peringatan dari tenaga kesehatan lain.

  4. 3. Skandal Christopher Duntsch yang berujung hukuman seumur hidup

    Mary Efurd menjalani operasi tulang belakang pada tahun 2012 dengan harapan sakit punggungnya mereda. Dokumen pengadilan mencatat bahwa dokter bedah saraf Christopher Duntsch menempatkan implan dan sekrup secara keliru serta memotong akar saraf L5 di tulang belakang Efurd.

    Juri menyatakan Duntsch dengan sengaja atau sadar menyebabkan cedera berat terhadap seorang pasien lanjut usia menggunakan tangan, peralatan bedah, dan sekrup sebagai senjata. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Putusan tersebut dipertahankan oleh Pengadilan Banding Texas pada tahun 2018.

    Perkara ini menjadi tidak biasa karena tindakan yang awalnya terjadi dalam konteks pelayanan medis berakhir sebagai kasus pidana, bukan hanya gugatan malapraktik perdata.

  5. 4. Lebih dari 450 nyawa diperpendek di Gosport

    Penyelidikan independen terhadap Gosport War Memorial Hospital di Inggris memeriksa lebih dari satu juta halaman dokumen dan rekam medis pasien. Panel menemukan bukti penggunaan obat opioid tanpa alasan klinis yang tepat pada 456 pasien.

    Menurut laporan tersebut, kehidupan lebih dari 450 orang dipersingkat akibat pola peresepan dan pemberian opioid yang telah menjadi kebiasaan di rumah sakit antara 1989 dan 2000.

    Panel juga memperkirakan sedikitnya 200 pasien lain mungkin mengalami hal serupa, tetapi rekam medisnya tidak ditemukan.

    Keluarga pasien dan sejumlah perawat sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran. Namun, laporan panel menyimpulkan bahwa rumah sakit, organisasi layanan kesehatan, regulator, dan beberapa institusi publik gagal memberikan respons yang dapat melindungi pasien.

    Panel tersebut tidak bertugas menetapkan pertanggungjawaban pidana maupun perdata. Karena itu, temuannya merupakan kesimpulan penyelidikan resmi, bukan putusan bersalah terhadap individu tertentu.

  6. 5. Kasus di Indonesia

    Seorang perempuan menerima suntikan filler di area pipi menggunakan jarum suntik oleh tenaga medis.
    ilustrasi injeksi filler (unsplash.com/Sam Moghadam Khamseh)

    Kasus serupa pernah tercatat di Indonesia. Seorang pasien mengalami kebutaan permanen pada mata kiri setelah menerima suntikan filler berbahan asam hialuronat dari dr. Elisabeth Susana di Makassar.

    Pengadilan Negeri Makassar sempat membebaskan dokter tersebut. Namun, Mahkamah Agung melalui Putusan Nomor 233 K/Pid.Sus/2021 membatalkan putusan itu dan menjatuhkan pidana penjara selama dua bulan.

    Perkara ini turut menyoroti tidak adanya persetujuan tindakan medis tertulis serta persoalan kompetensi dalam tindakan estetika.

    Kasus ini lebih tepat disebut sebagai perkara kelalaian dalam praktik kedokteran yang telah diputus Mahkamah Agung.

    Kasus-kasus di atas menunjukkan pola yang serupa. Bahaya berlangsung lebih lama ketika keluhan pasien tidak ditanggapi, peringatan tenaga kesehatan tidak diteruskan, hasil praktik dokter tidak diawasi, atau tanggung jawab tersebar di antara banyak institusi.

    Pasien mencari pertolongan medis dengan harapan mendapat kesembuhan atau kesempatan hidup lebih lama. Kasus-kasus ini juga menunjukkan mengapa hasil buruk tidak boleh langsung disebut malapraktik, tetapi cedera yang berulang dan tidak dapat dijelaskan memerlukan penyelidikan cepat, transparan, dan independen.

    Referensi

    Michael J. Bono, Harrison R. Wermuth, and John E. Hipskind, “Medical Malpractice,” StatPearls, diakses September 2026.

    David M. Studdert et al., “Claims, Errors, and Compensation Payments in Medical Malpractice Litigation,” New England Journal of Medicine 354, no. 19 (2006): 2024–33, https://doi.org/10.1056/NEJMsa054479.

    U.S. Department of Justice, Office of Public Affairs, “Detroit Area Doctor Sentenced to 45 Years in Prison for Providing Medically Unnecessary Chemotherapy to Patients,” diakses September 2026.

    Department of Health and Social Care, “Government Response to the Independent Inquiry Report into the Issues Raised by Former Surgeon Ian Paterson: 12-Month Implementation Progress Update,” diakses September 2026.

    Texas Fifth Court of Appeals, “Christopher Daniel Duntsch v. The State of Texas,” no. 05-17-00235-CR, December 10, 2018, diakses September 2026.

    Gosport Independent Panel, “Chapter 12: Summary and Conclusions,” Gosport War Memorial Hospital: The Report of the Gosport Independent Panel, June 20, 2018.

    Hendra Puputan dan Irmanjaya Thaher, “Implikasi Konstitusional terhadap Tanggung Jawab Hukum Dokter Praktik Mandiri dalam Kasus Malpraktik: Studi atas Putusan Mahkamah Agung No. 233 K/Pid.Sus/2021,” Jurnal Ilmiah Hukum 4, no. 3 (2025).

    Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan Nomor 233 K/Pid.Sus/2021, 18 Februari 2021.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More