Katak cakar Afrika. (commons.wikimedia.org/Brian Gratwicke)
Dasar penggunaan katak muncul dari penelitian ahli biologi Lancelot Hogben mengenai pengaruh hormon terhadap Xenopus laevis (katak cakar Afrika). Hillel Shapiro dan Harry Zwarenstein kemudian menguji urine perempuan hamil pada spesies tersebut. Mereka melaporkan keberhasilan tes pada 1933 dan menerbitkan metode cepatnya dalam jurnal Nature pada 1934.
Dalam prosedurnya, urine disuntikkan ke kantong limfa di punggung katak betina. Jika mengandung cukup hCG, hormon tersebut merangsang katak untuk berovulasi. Sel telur yang tampak di dalam air menjadi tanda hasil positif.
Katak tidak sedang “merasakan” kehamilan. Tubuhnya hanya bereaksi terhadap sinyal hormon di dalam urine. Keunggulan lainnya, katak tidak perlu dibunuh atau dibedah untuk mengetahui hasil tes.
Metode yang kerap disebut tes Hogben ini lebih cepat dan praktis dibandingkan tes tikus. Penggunaannya kemudian menyebar ke berbagai laboratorium dan bertahan hingga sekitar dekade 1960-an.