Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sebelum Ada Test Pack, Katak Dipakai untuk Tes Kehamilan
ilustrasi ibu hamil (pexels.com/Dre Newsome)
  • Sebelum ada test pack, laboratorium menggunakan tikus, kelinci, dan katak untuk mendeteksi hormon kehamilan.

  • Katak bercakar Afrika betina akan mengeluarkan sel telur setelah menerima urine yang mengandung hormon hCG.

  • Tes modern masih mencari hormon yang sama, tetapi menggunakan antibodi sehingga tidak lagi memerlukan hewan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada dekade 1930-an, sampel urine seorang perempuan disuntikkan ke katak bercakar Afrika betina. Jika katak itu mengeluarkan sel telur dalam hitungan jam, hasil tes dinyatakan positif.

Nyatanya, katak benar-benar pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan tes kehamilan modern, lho. Yuk baca sejarah singkatnya di bawah ini!

Sebelum katak, ada tikus dan kelinci

Pada awal abad ke-20, ilmuwan mulai memahami bahwa urine perempuan hamil mengandung zat yang dapat memengaruhi organ reproduksi hewan. Zat tersebut kemudian dikenal sebagai human chorionic gonadotropin (hCG), hormon yang diproduksi jaringan pembentuk plasenta setelah kehamilan mulai tertanam di rahim.

Pada tahun 1927, Selmar Aschheim dan Bernhard Zondek mengembangkan tes menggunakan tikus betina yang belum dewasa. Urine disuntikkan selama beberapa hari, kemudian tikus dibedah untuk melihat perubahan pada ovariumnya.

Tes Friedman yang diperkenalkan pada tahun 1931 menggunakan kelinci dan dapat memberikan hasil lebih cepat. Namun, kelinci tetap harus dibunuh untuk memeriksa ovarium.

Bagaimana katak mendeteksi kehamilan?

Katak cakar Afrika. (commons.wikimedia.org/Brian Gratwicke)

Dasar penggunaan katak muncul dari penelitian ahli biologi Lancelot Hogben mengenai pengaruh hormon terhadap Xenopus laevis (katak cakar Afrika). Hillel Shapiro dan Harry Zwarenstein kemudian menguji urine perempuan hamil pada spesies tersebut. Mereka melaporkan keberhasilan tes pada 1933 dan menerbitkan metode cepatnya dalam jurnal Nature pada 1934.

Dalam prosedurnya, urine disuntikkan ke kantong limfa di punggung katak betina. Jika mengandung cukup hCG, hormon tersebut merangsang katak untuk berovulasi. Sel telur yang tampak di dalam air menjadi tanda hasil positif.

Katak tidak sedang “merasakan” kehamilan. Tubuhnya hanya bereaksi terhadap sinyal hormon di dalam urine. Keunggulan lainnya, katak tidak perlu dibunuh atau dibedah untuk mengetahui hasil tes.

Metode yang kerap disebut tes Hogben ini lebih cepat dan praktis dibandingkan tes tikus. Penggunaannya kemudian menyebar ke berbagai laboratorium dan bertahan hingga sekitar dekade 1960-an.

Dari katak menuju garis test pack

Peran hewan mulai tergantikan setelah ilmuwan mengembangkan tes berbasis antibodi pada tahun 1960. Antibodi dapat mengenali hCG secara langsung dari sampel urine sehingga pemeriksaan menjadi lebih cepat dan murah.

Pada awal tahun 1970-an, peneliti mengembangkan antibodi yang lebih spesifik terhadap subunit beta-hCG. Perkembangan tersebut membantu membedakan hCG dari hormon lain yang strukturnya mirip. Tes kehamilan rumahan pertama kemudian mendapat persetujuan di Amerika Serikat pada 1976 dan mulai dipasarkan luas pada 1977.

Prinsip dasarnya masih bertahan sampai sekarang. Test pack modern tetap mencari hCG dalam urine. Perbedaannya, sel telur katak telah digantikan oleh garis berwarna yang terbentuk melalui reaksi antibodi.

Dengan demikian, sejarah tes kehamilan menunjukkan bagaimana hormon hCG dibaca dengan teknologi yang terus berubah.

Referensi

Gurdon, John B., and Nick Hopwood. “The Introduction of Xenopus laevis into Developmental Biology: Of Empire, Pregnancy Testing and Ribosomal Genes.” International Journal of Developmental Biology 44, no. 1 (2000): 43–50. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10761846/.

Lis, Kinga. “From Cereal Grains to Immunochemistry—What Role Have Antibodies Played in the History of the Home Pregnancy Test.” Antibodies 12, no. 3 (2023): 56. https://doi.org/10.3390/antib12030056.

Office of NIH History and Stetten Museum. “Thin Blue Line: A History of the Pregnancy Test.” National Institutes of Health. Diakses September 2026.

Olszynko-Gryn, Jesse. “The Demand for Pregnancy Testing: The Aschheim–Zondek Reaction, Diagnostic Versatility, and Laboratory Services in 1930s Britain.” Studies in History and Philosophy of Biological and Biomedical Sciences 47 (September 2014): 233–47. https://doi.org/10.1016/j.shpsc.2013.12.002.

Shapiro, H. A., and H. Zwarenstein. “A Rapid Test for Pregnancy on Xenopus lævis.” Nature 133, no. 3368 (May 19, 1934): 762. https://doi.org/10.1038/133762a0.

Curated For You

Editorial Team

Related Article