Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Setelah Makan yang Membuat Proses Pencernaan Tidak Optimal

5 Kebiasaan Setelah Makan yang Membuat Proses Pencernaan Tidak Optimal
ilustrasi makan daging (pexels.com/Noel walsh)
  • Berbaring atau langsung tidur setelah makan dapat memicu refluks asam dan heartburn; beri jeda sekitar dua hingga tiga jam sambil melakukan aktivitas ringan.
  • Olahraga berintensitas tinggi segera setelah makan bisa menyebabkan mual, kram, atau begah karena aliran darah terbagi ke otot; pilih jalan santai.
  • Minuman manis berlebih dan merokok setelah makan dapat memperburuk kembung atau refluks, serta menambah risiko gangguan pada saluran pencernaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setelah makan, tubuh membutuhkan waktu untuk mencerna makanan dan menyerap berbagai zat gizi yang masuk. Pada fase ini, lambung dan usus bekerja lebih aktif sehingga kebiasaan yang dilakukan setelah makan dapat memengaruhi kelancaran proses tersebut. Sayangnya, masih banyak orang yang tanpa sadar melakukan aktivitas yang kurang mendukung pencernaan.

Sebagian kebiasaan memang tidak langsung menimbulkan masalah, tetapi jika dilakukan terus-menerus dapat memicu rasa tidak nyaman seperti perut kembung, heartburn, atau gangguan pencernaan lainnya. Karena itu, penting untuk mengetahui kebiasaan apa saja yang sebaiknya dihindari agar sistem pencernaan dapat bekerja secara optimal. Yuk, simak lebih lanjut di bawah ini!

  1. 1. Langsung berbaring setelah selesai makan

    ilustrasi berbaring
    ilustrasi berbaring (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Berbaring segera setelah makan dapat mempermudah isi lambung naik kembali ke kerongkongan, terutama pada orang yang memiliki gastroesophageal reflux disease atau GERD. Saat tubuh berada dalam posisi horizontal, bantuan gravitasi untuk menahan makanan tetap berada di lambung menjadi berkurang. Akibatnya, rasa panas di dada atau heartburn lebih mudah muncul setelah makan.

    Memberi jeda sekitar dua hingga tiga jam sebelum berbaring dapat membantu proses pengosongan lambung berlangsung lebih baik. Selama masa tersebut, kita dapat melakukan aktivitas ringan seperti duduk santai atau berjalan perlahan di dalam rumah. Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi risiko refluks asam sekaligus membuat proses pencernaan berjalan lebih nyaman.

  2. 2. Melakukan olahraga dengan intensitas tinggi

    ilustrasi berlari
    ilustrasi berlari (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Olahraga memang baik untuk kesehatan, tetapi waktu pelaksanaannya juga perlu diperhatikan. Aktivitas fisik yang terlalu berat segera setelah makan membuat aliran darah lebih banyak dialihkan ke otot, padahal sistem pencernaan juga membutuhkan pasokan darah untuk bekerja secara optimal. Kondisi ini dapat memicu rasa mual, kram perut, atau perut terasa penuh saat bergerak.

    Apabila ingin tetap aktif setelah makan, pilihlah aktivitas dengan intensitas ringan seperti berjalan santai selama beberapa menit. Jalan kaki ringan justru dapat membantu pergerakan saluran cerna dan mengurangi rasa begah pada sebagian orang. Sebaliknya, latihan seperti berlari atau mengangkat beban sebaiknya dilakukan setelah tubuh memiliki waktu yang cukup untuk mencerna makanan.

  3. 3. Terlalu banyak minum minuman manis

    ilustrasi minuman bersoda
    ilustrasi minuman bersoda (unsplash.com/Kenny Eliason)

    Sebagian orang terbiasa mengakhiri makan dengan minuman yang mengandung gula tinggi, seperti minuman bersoda atau teh dengan banyak gula. Kebiasaan ini memang tidak langsung menghentikan proses pencernaan, tetapi asupan gula berlebih dapat meningkatkan jumlah kalori harian tanpa memberikan rasa kenyang yang bertahan lama. Pada beberapa orang, minuman bersoda juga dapat memicu perut kembung akibat kandungan gasnya.

    Air putih tetap menjadi pilihan terbaik setelah makan karena membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh tanpa tambahan gula. Jika ingin mengonsumsi minuman lain, pilihlah dalam jumlah yang wajar dan sesuaikan dengan kondisi kesehatan masing masing. Dengan begitu, tubuh dapat mencerna makanan tanpa tambahan beban dari asupan gula yang berlebihan.

  4. 4. Merokok setelah makan

    ilustrasi merokok
    ilustrasi merokok (pexels.com/lil artsy)

    Sebagian perokok merasa merokok setelah makan memberikan rasa lebih nyaman. Padahal, nikotin dapat melemahkan otot yang berfungsi mencegah asam lambung naik ke kerongkongan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko refluks asam sekaligus memperburuk gejala pada orang yang sudah memiliki gangguan pencernaan tertentu.

    Selain itu, merokok juga dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit pada saluran cerna, termasuk tukak lambung. Mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok setelah makan dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pencernaan maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan. Langkah ini juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi saluran cerna tetap optimal.

  5. 5. Langsung tidur tanpa memberi jeda

    ilustrasi pria yang sedang tidur
    ilustrasi pria yang sedang tidur (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Tidur sesaat setelah makan berbeda dengan sekadar berbaring karena tubuh akan berada dalam posisi yang sama selama waktu yang lebih lama. Hal ini membuat makanan di dalam lambung lebih mudah memicu refluks pada sebagian orang, terutama setelah mengonsumsi makanan dalam porsi besar atau tinggi lemak. Akibatnya, kualitas tidur juga dapat terganggu karena rasa tidak nyaman pada dada atau tenggorokan.

    Membiasakan diri memberi jeda sebelum tidur membantu tubuh menyelesaikan sebagian proses pencernaan terlebih dahulu. Selama menunggu, kita dapat melakukan aktivitas ringan seperti membaca buku atau merapikan rumah. Kebiasaan ini tidak hanya mendukung kesehatan pencernaan, tetapi juga membantu meningkatkan kenyamanan saat tidur di malam hari.

    Proses pencernaan tidak hanya dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi, tetapi juga oleh kebiasaan setelah makan. Menghindari beberapa kebiasaan di atas dapat membantu sistem pencernaan kita bekerja lebih optimal. Selain itu, kita juga dapat mengurangi risiko gangguan pencernaan sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More