- Plak tidak terangkat sempurna. Bakteri dan sisa makanan dapat bertahan di sela gigi, tepi gusi, serta lekukan gigi geraham.
- Pasta gigi tidak mengandung fluorida. Fluorida membantu memperkuat email, mengganti mineral yang hilang, dan mengurangi kemampuan bakteri menghasilkan asam.
- Mulut kering. Air liur membantu membersihkan sisa makanan dan memasok mineral bagi gigi. Produksi air liur dapat menurun akibat obat-obatan tertentu, penyakit, atau terapi kanker. Mulut kering yang menetap meningkatkan risiko karies.
- Bentuk gigi sulit dibersihkan. Lekukan geraham yang dalam, gigi berjejal, atau area di sekitar tambalan dapat menjadi tempat plak dan makanan tertahan.
Tidak Suka Manis tapi Gigi Tetap Berlubang, Kenapa?

Tidak menyukai rasa manis bukan berarti gigi terbebas dari paparan gula dan karbohidrat yang dapat difermentasi bakteri.
Frekuensi makan, penumpukan plak, dan kurangnya perlindungan fluorida ikut menentukan risiko gigi berlubang.
Mulut kering dan bentuk permukaan gigi yang sulit dibersihkan dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami karies.
Kamu jarang makan permen, kue, dan minuman manis pun hampir tak pernah dipilih. Karena itu, temuan gigi berlubang saat pemeriksaan oleh dokter gigi bisa terasa membingungkan. Dari mana datangnya karies jika makanan manis bukan favoritmu?
Nyatanya, gigi berlubang tidak hanya ditentukan oleh seberapa gemar kamu menyantap permen atau kue. Karies dipengaruhi oleh interaksi antara bakteri dalam plak, pola makan, air liur, fluorida, dan kondisi permukaan gigi.
Table of Content
Tidak doyan makanan/minuman manis bukan berarti bebas risiko
Bakteri di dalam plak menggunakan gula dan karbohidrat tertentu untuk menghasilkan asam. Asam ini menarik mineral dari email, lapisan terluar gigi. Air liur dan fluorida sebenarnya membantu mengembalikan mineral tersebut. Namun, jika serangan asam terjadi berulang kali, proses perbaikan tidak mampu mengejar kerusakan dan terbentuklah lubang.
Makanan penyebabnya juga tidak selalu terasa sangat manis. Makanan berpati olahan, seperti roti, biskuit asin, keripik, atau sereal, mengandung karbohidrat yang dapat dipecah menjadi bentuk lebih sederhana dan dimanfaatkan oleh bakteri.
Sebagian produk bercita rasa gurih juga dapat mengandung gula tambahan sehingga kandungan pada label kemasan tetap perlu diperhatikan.
Sebuah tinjauan sistematis terhadap lima studi kohort pada anak dan praremaja menemukan bahwa konsumsi makanan olahan yang mengandung gula dan pati di antara waktu makan secara konsisten berkaitan dengan pengalaman karies yang lebih tinggi. Meski jumlah studinya masih terbatas, temuan ini menunjukkan bahwa makanan ringan berpati juga perlu diperhitungkan.
Seberapa sering kamu makan juga berpengaruh

ilustrasi nyemil (pexels.com/cottonbro studio) Setiap kali makanan atau minuman yang mengandung gula maupun pati dikonsumsi, bakteri kembali menghasilkan asam. Air liur memerlukan waktu untuk menetralkan kondisi mulut dan membantu proses pengembalian mineral.
Akibatnya, kebiasaan nyemil sedikit demi sedikit sepanjang hari dapat membuat gigi lebih sering mengalami serangan asam. Risiko juga bisa bertambah ketika kamu menyeruput minuman bergula dalam waktu lama atau kembali makan setelah menyikat gigi malam hari, saat produksi air liur menurun.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa karies berhubungan dengan konsumsi gula bebas, kurangnya paparan fluorida, dan plak yang tidak dibersihkan dengan baik.
Gula bebas mencakup gula yang ditambahkan saat pengolahan atau memasak, serta gula alami dalam madu, sirop, jus buah, dan konsentrat jus.
Faktor lain yang sering luput
Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko karies meskipun konsumsi makanan manis relatif jarang:
Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya dengan menghindari makanan atau minuman manis. Perhatikan pula frekuensi nyemil, kandungan gula pada produk kemasan, kebersihan sela gigi, serta keluhan mulut kering. Menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluorida dan cek kesehatan gigi berkala membantu menemukan kerusakan sejak dini.
Referensi
Nigel B. Pitts et al., “Dental Caries,” Nature Reviews Disease Primers 3 (2017): 17030, https://doi.org/10.1038/nrdp.2017.30.
National Institute of Dental and Craniofacial Research, “The Tooth Decay Process: How to Reverse It and Avoid a Cavity,” diakses September 2026.
Sarah Hancock, Caryn Zinn, and Grant Schofield, “The Consumption of Processed Sugar- and Starch-Containing Foods, and Dental Caries: A Systematic Review,” European Journal of Oral Sciences 128, no. 6 (2020): 467–75, https://doi.org/10.1111/eos.12743.
World Health Organization, “Sugars and Dental Caries,” diakses September 2026.
National Institute of Dental and Craniofacial Research, “Dry Mouth,” diakses September 2026.














![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Lari, Kami Bisa Ungkap Risiko Cederamu](https://image.idntimes.com/post/20260504/chander-r-z4wh11fmfiq-unsplash_d88e76be-ec98-4166-a17b-68a5597d98b0.jpg)






![[QUIZ] Cek Risiko Tech Neck dari Cara Kamu Pegang HP](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)
