American College of Obstetricians and Gynecologists, “Pelvic Exams,” diakses Agustus 2026.
Carol K. Bates, Nina Carroll, and Jennifer Potter, “The Challenging Pelvic Examination,” Journal of General Internal Medicine 26, no. 6 (2011): 651–657, https://doi.org/10.1007/s11606-010-1610-8.
American College of Obstetricians and Gynecologists, “The Initial Reproductive Health Visit,” Committee Opinion, 2020, diakses Agustus 2026.
K. M. Pergialiotis et al., “Speculum Lubrication and Patient Comfort: A Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials,” Journal of Lower Genital Tract Disease 21, no. 1 (2017): 60–65.
“The Role of Gel Application in Decreasing Pain during Speculum Examination and Its Effects on Papanicolaou Smear Results,” Archives of Gynecology and Obstetrics 289 (2014). https://doi.org/10.1007/s00404-013-3047-x.
B. Harer et al., “Lubrication of the Vaginal Introitus and Speculum Does Not Affect Papanicolaou Smears,” Obstetrics & Gynecology 100, no. 5 (2002): 887–888, https://doi.org/10.1016/S0029-7844(02)02168-3.
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Pelvic Exams," diakses Agustus 2026.
“Gynecologic Pelvic Examination,” StatPearls, diakses Agustus 2026.
Deborah Wright, Jennifer Fenwick, Pam Stephenson, and Leanne Monterosso, “Speculum ‘Self-Insertion’: A Pilot Study,” Journal of Clinical Nursing 14, no. 9 (2005): 1098–1111, https://doi.org/10.1111/j.1365-2702.2005.01205.x.
Marie-Morgane Veto et al., “Speculum Self-insertion: An Alternative Method for Gynaecological Examination?,” Family Practice 41, no. 2 (March 22, 2024): 147–54, https://doi.org/10.1093/fampra/cmae016.
World Health Organization, "Self-Care Interventions: Human Papillomavirus (HPV) Self-Sampling as Part of Cervical Cancer Screening and Treatment," diakses Agustus 2026.
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Screening for Cervical Cancer,” Committee Statement, July 2026, diakses Agustus 2026.
Durrenda Ojanuga, “The Medical Ethics of the ‘Father of Gynaecology’, Dr J Marion Sims,” Journal of Medical Ethics 19, no. 1 (1993): 28–31, https://doi.org/10.1136/jme.19.1.28.
L. Lewis Wall, “The Sims Position and the Sims Vaginal Speculum, Re-examined,” International Urogynecology Journal 32, no. 10 (2021): 2595–2601, https://doi.org/10.1007/s00192-021-04966-w.
Dean A. Seehusen et al., “Improving Women’s Experience during Speculum Examinations at Routine Gynaecological Visits: Randomised Clinical Trial,” BMJ 333, no. 7560 (2006): 171, https://doi.org/10.1136/bmj.38888.588519.55.
7 Fakta Spekulum, Alat yang Sering Dipakai saat Pap Smear

Spekulum tidak dimasukkan ke rahim. Alat ini membuka dinding vagina secukupnya agar vagina dan serviks dapat dilihat.
Spekulum tersedia dalam berbagai ukuran dan bentuk. Pemilihan ukuran yang tepat serta penggunaan pelumas berbasis air dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan.
Pemeriksaan harus dilakukan dengan persetujuan pasien. Bahkan dalam beberapa situasi, pasien dapat memasukkan spekulum sendiri atau menjalani skrining HPV tertentu tanpa spekulum.
Spekulum mungkin menjadi salah satu alat medis yang bentuknya paling mudah membuat orang tegang sebelum pemeriksaan ginekologi. Dua bilahnya dimasukkan ke vagina kemudian dibuka perlahan.
Alat ini terutama membantu dokter melihat struktur yang biasanya tersembunyi oleh dinding vagina, khususnya serviks atau leher rahim. Dari pemilihan ukuran sampai penggunaan pelumas, ternyata ada banyak hal mengenai spekulum yang jarang dibicarakan.
Penasaran? Baca terus sampai tuntas, ya!
Table of Content
1. Spekulum tidak masuk ke dalam rahim
Spekulum dimasukkan ke vagina, bukan menembus serviks atau masuk ke rahim. Jadi, menyebut spekulum sebagai “alat untuk membuka rahim” tidak tepat. Yang dibuka secukupnya adalah dinding vagina agar serviks terlihat.
Setelah berada di posisi yang tepat, kedua bilahnya dibuka perlahan untuk memisahkan dinding vagina. Dengan cara itu, dokter dapat melihat vagina dan serviks yang berada di bagian ujung vagina.
Pada pemeriksaan ini dokter antara lain dapat mengambil sampel untuk Pap smear atau tes HPV, memeriksa perdarahan atau cairan vagina yang tidak normal, serta melakukan prosedur tertentu pada serviks.
2. Ukuran spekulum tidak cuma satu

Berbagai ukuran dan jenis spekulum vagina yang umum digunakan dalam ginekologi. (en.wikipedia.org/Gyno.Janine) Spekulum bukan alat yang ukurannya sama untuk semua orang.
Terdapat berbagai bentuk, panjang, dan lebar. Pederson dan Graves merupakan dua jenis spekulum yang banyak digunakan, tetapi keduanya pun tersedia dalam beberapa ukuran.
Tinjauan mengenai pemeriksaan panggul menjelaskan panjang dan lebar vagina berbeda antarpasien. Usia, persalinan sebelumnya, menopause, operasi, terapi radiasi, hingga kondisi seperti vaginismus dapat memengaruhi kenyamanan pemeriksaan.
Karena itu, prinsipnya adalah memilih spekulum terkecil yang tetap memungkinkan serviks terlihat dengan baik.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga menyebut pemilihan spekulum pada pasien remaja perlu mempertimbangkan perkembangan pubertas, ukuran lubang hymen, dan pengalaman penetrasi sebelumnya.
Singkatnya, ukuran dan teknik pemasangan bisa disesuaikan untuk meminimalkan ketidaknyamanan.
3. Spekulum boleh menggunakan pelumas
Dulu, pemeriksaan Pap smear sering dilakukan dengan spekulum tanpa pelumas karena dikhawatirkan gel akan mengganggu hasil pemeriksaan sel serviks.
Namun, metaanalisis terhadap enam uji klinis acak dengan total 2.453 peserta menemukan penggunaan gel berbasis air menurunkan ketidaknyamanan saat spekulum dimasukkan, dibuka, maupun dikeluarkan.
Uji klinis terhadap 1.580 perempuan juga menemukan sedikit gel berbasis air menurunkan nyeri saat pemeriksaan tanpa meningkatkan proporsi sampel Pap smear yang tidak memadai.
Penelitian lain juga tidak menemukan perbedaan bermakna pada kualitas interpretasi Pap smear ketika sejumlah kecil pelumas berbasis air digunakan.
Namun, jenis dan jumlah pelumas tetap penting karena beberapa formulasi dapat mengganggu tes laboratorium tertentu, sehingga tenaga kesehatan perlu menggunakan produk yang sesuai dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.
4. Pemeriksaan dengan spekulum harus dilakukan dengan persetujuan

ilustrasi pemeriksaan ginekologi menggunakan spekulum yang dilakukan oleh OBGYN atau dokter kandungan (magnific.com/stefamerpik) Pemeriksaan panggul merupakan prosedur intim.
ACOG menganjurkan dokter menjelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan dan memberi tahu pasien mengenai tahap-tahapnya selama prosedur berlangsung. Pasien juga perlu memberitahukan jika terasa sakit sehingga teknik pemeriksaan dapat disesuaikan.
Tidak adanya persetujuan pasien disebut sebagai kontraindikasi absolut pemeriksaan.
Hal ini penting terutama bagi orang yang pernah mengalami trauma seksual atau pengalaman pemeriksaan medis yang buruk. Spekulum dapat memicu kecemasan atau pengalaman traumatis pada sebagian pasien.
Jika pemeriksaan terasa terlalu menyakitkan atau membuat pasien tidak sanggup melanjutkan, prosedur dapat dihentikan dan direncanakan kembali dengan pendekatan yang lebih sesuai.
5. Dalam kondisi tertentu, pasien bahkan bisa memasukkan spekulum sendiri
Spekulum biasanya dimasukkan oleh dokter atau tenaga kesehatan, tetapi ternyata pemasangan sendiri (self-insertion) pernah dipelajari sebagai alternatif.
Dalam sebuah studi percontohan terhadap perempuan yang menjalani Pap smear, 133 peserta mencoba memasukkan spekulum sendiri. Hampir 91 persen menyatakan puas atau sangat puas dan mengatakan akan memilih melakukannya lagi. Kualitas sampel yang diambil juga tidak tampak lebih buruk.
Studi kualitatif yang terbit pada 2024 juga menemukan pasien dan tenaga kesehatan menggambarkan self-insertion sebagai cara yang berpotensi mengurangi ketidaknyamanan sekaligus memberi pasien rasa kontrol yang lebih besar saat pemeriksaan. Namun, cara ini belum menjadi praktik rutin di semua fasilitas kesehatan dan tidak selalu cocok bagi setiap orang.
Poinnya adalah pemeriksaan spekulum tidak harus selalu menjadi proses pasif. Dalam situasi tertentu, pasien dapat dilibatkan lebih besar dalam menentukan bagaimana pemeriksaan dilakukan.
6. Skrining kanker serviks tertentu sekarang bisa dilakukan tanpa spekulum

HPV self-sampling kit. (Preeti Arora, Shruti Jawale, Sanjay Gupte, dan Sarjan Shah/Frontiers in Medical Technology (CC BY 4.0)) Selama bertahun-tahun, skrining kanker serviks identik dengan spekulum. Kini, pada beberapa program skrining, tes HPV dapat dilakukan menggunakan sampel vagina yang dikumpulkan sendiri oleh pasien.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan HPV self-sampling sebagai pilihan tambahan dalam program skrining yang memiliki tes HPV.
Di Amerika Serikat (AS), pedoman skrining yang diperbarui pada 2026 juga memasukkan tes HPV risiko tinggi dengan sampel yang diambil sendiri oleh pasien sebagai pilihan bagi sebagian orang dengan risiko rata-rata. ACOG menekankan bahwa hanya perangkat dan tes yang mendapat persetujuan regulator serta digunakan sesuai indikasinya yang boleh dipakai.
Namun, self-sampling tidak menggantikan pemeriksaan ginekologi. Hasil HPV tertentu, gejala seperti perdarahan abnormal, riwayat kelainan serviks, atau kebutuhan pemeriksaan lain tetap dapat membuat pemeriksaan serviks dengan spekulum diperlukan.
7. Spekulum modern memiliki sejarah medis yang kompleks

Sims speculum. (commons.wikimedia.org/Sarindam7) Salah satu desain terkenal adalah spekulum Sims, yang dikembangkan pada abad ke-19 oleh dokter Amerika, J. Marion Sims.
Sims mengembangkan teknik operasi fistula vesikovaginal dan instrumen yang kemudian menggunakan namanya ketika melakukan operasi eksperimental pada perempuan kulit hitam yang diperbudak di AS pada pertengahan abad ke-19.
Literatur sejarah mencatat desain awal instrumen tersebut berkembang dari sendok pewter yang dibengkokkan, sebelum berubah menjadi bentuk spekulum Sims yang dikenal kemudian.
Karya Sims berkontribusi pada perkembangan operasi ginekologi, tetapi metode penelitiannya telah menjadi bagian penting diskusi mengenai rasisme, ketimpangan kekuasaan, persetujuan pasien, penggunaan anestesi, dan etika penelitian medis. Interpretasi sejumlah detail sejarahnya masih diperdebatkan dalam literatur.
Konteks sejarah ini juga membuat prinsip pemeriksaan modern—memberikan informasi, meminta persetujuan, menjaga kenyamanan, dan memberi pasien kontrol terhadap tubuhnya—menjadi sangat penting.
Pemeriksaan spekulum tidak harus identik dengan rasa sakit
Penggunaan spekulum dapat terasa seperti tekanan, peregangan, atau tidak nyaman, tetapi nyeri yang berat bukan sesuatu yang harus dipaksakan.
Hal sederhana dapat membuat perbedaan. Uji klinis terhadap 197 perempuan menemukan pemeriksaan spekulum tanpa menggunakan penyangga kaki atau stirrups menurunkan rasa tidak nyaman dan perasaan rentan dibanding posisi konvensional menggunakan stirrups.
Pemilihan spekulum yang lebih kecil, penggunaan pelumas yang sesuai, pemasangan secara perlahan, komunikasi selama prosedur, serta perubahan posisi dapat membantu.
Jika sebelumnya pemeriksaan spekulum sangat menyakitkan, beri tahu dokter sebelum pemeriksaan dimulai. Kondisi seperti kekeringan vagina setelah menopause, vulvodinia, vaginismus, jaringan parut, riwayat radioterapi, atau pengalaman trauma dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Referensi

![[QUIZ] Tes Pengetahuan Kanker Serviks, Kamu Sudah Cukup Aware?](https://image.idntimes.com/post/20250925/ilustrasi-pasien-kanker-serviks_91209c2b-4417-423e-a1b9-b73da2e5f0e5.png)






![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Lari, Kami Bisa Ungkap Risiko Cederamu](https://image.idntimes.com/post/20260504/chander-r-z4wh11fmfiq-unsplash_d88e76be-ec98-4166-a17b-68a5597d98b0.jpg)






![[QUIZ] Cek Risiko Tech Neck dari Cara Kamu Pegang HP](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)


![[QUIZ] Dari Masalah Kesehatanmu saat Ini, Ini Jus yang Bisa Kamu Minum](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)


