- Exercise-induced bronchoconstriction (EIB) atau asma olahraga
Sesak Napas Saat Lari: Bahaya atau Tidak?

- Sesak napas saat lari bisa disebabkan asma olahraga, serangan panik, hingga masalah jantung.
- Gejala yang menyertai, seperti nyeri dada, pusing, atau mengi, membantu membedakan penyebabnya.
- Sesak yang berat, disertai nyeri dada atau pingsan, adalah tanda darurat medis.
Langkah kaki terasa ringan di kilometer awal. Napas mulai cepat, tapi masih terkendali. Lalu tiba-tiba dada terasa sempit, udara seperti tak cukup masuk, dan ritme lari buyar. Situasi ini bisa membuat panik, bahkan pada pelari berpengalaman.
Secara fisiologis, napas memang meningkat saat berlari. Tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen untuk memenuhi kerja otot. Namun, sesak napas yang rasanya tidak biasa, muncul mendadak, atau disertai gejala lain patut diwaspadai. Sangat penting untuk mampu mengenali perbedaan antara respons normal latihan dan gejala yang mengarah pada gangguan medis.
Penyebab sesak napas saat lari beragam, bukan cuma tingkat kebugaran. Mulai dari exercise-induced bronchoconstriction atau "asma olahraga", serangan panik, gangguan jantung, hingga kondisi paru lain atau anemia. Memahami perbedaannya membantu menentukan langkah pertama yang tepat, dan kapan harus mencari pertolongan medis.
Penyebab sesak napas saat lari
Ada beberapa penyebab sesak napas saat lari:
EIB adalah penyempitan saluran napas yang terjadi selama atau setelah aktivitas fisik. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dengan atau tanpa riwayat asma. Gejalanya meliputi sesak, batuk, dada terasa berat, dan bunyi mengi (wheezing).
Mekanismenya berkaitan dengan penguapan cairan di saluran napas saat bernapas cepat, terutama saat udara dingin dan kering. Hal ini memicu respons inflamasi dan penyempitan bronkus. Studi menunjukkan EIB cukup umum pada atlet, bahkan pada mereka yang tidak memiliki diagnosis asma sebelumnya.
Gejala biasanya muncul beberapa menit setelah mulai berlari atau segera setelah selesai. Penggunaan inhaler bronkodilator sebelum olahraga sering direkomendasikan pada individu dengan diagnosis EIB. Jika gejala berulang, evaluasi fungsi paru seperti spirometri diperlukan untuk konfirmasi diagnosis.
- Serangan panik atau kecemasan
Sesak napas juga bisa berasal dari respons psikologis. Serangan panik ditandai oleh rasa takut intens yang muncul tiba-tiba, disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, napas cepat (hiperventilasi), pusing, dan rasa tercekik. Hiperventilasi dapat menurunkan kadar karbon dioksida darah, memicu sensasi sesak dan kesemutan.
Dalam konteks lari, peningkatan denyut jantung dan napas cepat bisa ditafsirkan keliru sebagai ancaman, terutama pada individu dengan gangguan kecemasan. Respons “fight or flight” memperburuk sensasi tersebut.
Berbeda dengan EIB, serangan panik jarang disertai mengi atau batuk. Gejala sering membaik dengan teknik pernapasan lambat dan terkontrol. Namun, diagnosis tetap harus menyingkirkan penyebab organik terlebih dahulu.
- Kondisi jantung
Sesak napas saat aktivitas fisik juga dapat menjadi gejala penyakit jantung. Penyakit arteri koroner dapat menyebabkan sesak, nyeri dada (angina), atau rasa seperti ditekan saat berolahraga.
Pada sebagian orang, terutama usia di atas 40 tahun atau dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi, sesak bisa menjadi satu-satunya gejala iskemia jantung. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa aktivitas fisik berat dapat memicu kejadian jantung akut pada individu berisiko, meski secara umum olahraga justru melindungi jantung.
Tanda bahaya meliputi nyeri dada menjalar ke lengan atau rahang, pusing hebat, keringat dingin, atau pingsan. Situasi ini memerlukan evaluasi medis segera.
- Penyebab lain: infeksi, anemia, dan kondisi paru
Infeksi saluran napas atas maupun bawah dapat membuat kapasitas paru menurun sementara. Infeksi virus dapat meningkatkan respons inflamasi dan mempersempit saluran napas.
Anemia juga bisa menyebabkan sesak saat aktivitas. Kekurangan hemoglobin menurunkan kemampuan darah mengangkut oksigen. Anemia ditandai kelelahan, pucat, dan intoleransi terhadap aktivitas fisik.
Selain itu, kondisi seperti disfungsi pita suara (paradoxical vocal fold motion) dapat meniru asma, dengan sensasi sesak dan suara napas abnormal. Diagnosis memerlukan evaluasi spesialis karena penanganannya berbeda dari asma.
Apa yang harus dilakukan saat sesak terjadi?

Jika sesak muncul mendadak saat berlari:
- Segera hentikan aktivitas dan berdiri atau duduk tegak.
- Atur napas perlahan, tarik napas melalui hidung dan embuskan perlahan lewat mulut.
- Gunakan inhaler jika memiliki diagnosis asma/EIB dan telah diresepkan dokter.
- Amati gejala lain seperti nyeri dada, pusing, atau kebingungan.
Jika gejala memburuk atau tidak membaik dalam beberapa menit, cari pertolongan medis.
Kapan harus menemui dokter?
Segera cari bantuan medis darurat jika sesak disertai:
- Nyeri dada atau tekanan berat di dada.
- Pingsan atau hampir pingsan.
- Bibir atau kuku kebiruan.
- Kebingungan atau penurunan kesadaran.
Evaluasi dokter juga diperlukan jika sesak napas berulang saat olahraga, meski membaik dengan istirahat. Pemeriksaan bisa meliputi spirometri, tes latihan jantung, atau pemeriksaan darah untuk memeriksa adanya anemia.
Sesak napas saat berlari bukan selalu tanda bahaya, tetapi bukan berarti bisa kamu abaikan. Tubuh sering memberi sinyal sebelum masalah membesar. Mengenali pola gejalanya, apakah disertai mengi, rasa panik, atau nyeri dada, dapat membantu membedakan penyebabnya.
Olahraga tetap menjadi salah satu cara terbaik menjaga kesehatan jantung dan paru. Namun, keselamatan selalu lebih utama daripada target pace atau jarak tempuh. Mendengarkan tubuh, memahami risiko pribadi, dan berkonsultasi dengan dokter adalah bagian dari strategi latihan yang bijak.
Referensi
American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription. 11th ed." Philadelphia: Wolters Kluwer, 2021. Diakses Februari 2026.
American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. “Exercise-Induced Bronchoconstriction (EIB).” Diakses Februari 2026.
John M. Weiler et al., “Exercise-induced Bronchoconstriction Update—2016,” Journal of Allergy and Clinical Immunology 138, no. 5 (September 21, 2016): 1292-1295.e36, https://doi.org/10.1016/j.jaci.2016.05.029.
National Institute of Mental Health. “Panic Disorder.” Diakses Februari 2026.
American Heart Association. “Angina (Chest Pain).” Diakses Februari 2026.
Paul D. Thompson et al., “Exercise and Acute Cardiovascular Events,” Circulation 115, no. 17 (April 28, 2007): 2358–68, https://doi.org/10.1161/circulationaha.107.181485.
Centers for Disease Control and Prevention. “Respiratory Infections and Physical Activity.” Diakses Februari 2026.
World Health Organization. “Anaemia.” Diakses Februari 2026.


















