Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Kebiasaan Gen Z yang Bisa Membahayakan Jantung

4 Kebiasaan Gen Z yang Bisa Membahayakan Jantung
ilustrasi seorang Geb Z memegang vape (unsplash.com/Ambitious Studio Rick Barrett)
Intinya Sih
  • Usia muda tidak membuat seseorang kebal dari proses awal penyakit kardiovaskular. Kondisi pembuluh darah pada masa dewasa muda berkaitan dengan profil kesehatan jantung di kemudian hari.

  • Vape, kurang tidur, terlalu banyak duduk, serta pola makan tinggi minuman berpemanis dan makanan ultraproses merupakan beberapa kebiasaan yang dapat memengaruhi tekanan darah, metabolisme, dan kesehatan pembuluh darah.

  • Gen Z sendiri bukan faktor risiko medis. Yang meningkatkan risiko adalah perilakunya berapa pun usianya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Serangan jantung memang lebih umum pada lansia. Namun, proses yang akhirnya berujung pada penyakit kardiovaskular bisa terjadi pada orang yang usianya lebih muda.

Penelitian pada orang dewasa muda menunjukkan kesehatan kardiovaskular yang lebih baik (dinilai dari pola makan, aktivitas fisik, paparan nikotin, tidur, tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan berat badan) berhubungan dengan kondisi arteri yang lebih sehat bahkan ketika pesertanya baru berusia rata-rata sekitar 24 tahun.

Beberapa kebiasaan yang terasa biasa pada masa remaja dan dewasa muda patut diperhatikan karena bisa berisiko buat jantung.

1. Menganggap vape aman

Bentuknya kecil, bisa dibawa ke mana-mana, rasa dan aromanya bermacam-macam, serta tidak menghasilkan asap seperti rokok konvensional. Namun, vape yang mengandung nikotin berdampak pada sistem kardiovaskular.

WHO Indonesia melaporkan berdasarkan Global School-based Student Health Survey 2023, bahwa sekitar 20 persen pelajar usia 13–17 tahun menggunakan produk tembakau dan 12 persen menggunakan rokok elektronik.

Nikotin mengaktifkan sistem saraf simpatis, yang dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Selain nikotin, aerosol rokok elektronik mengandung berbagai zat yang dapat memengaruhi pembuluh darah.

Tinjauan sistematis dan metaanalisis tahun 2025 terhadap 21 studi dengan lebih dari 17 ribu peserta usia 18–30 tahun menemukan penggunaan rokok elektronik bernikotin secara akut meningkatkan tekanan darah sistolik rata-rata sekitar 3,1 mmHg, tekanan diastolik sekitar 2,1 mmHg, dan denyut jantung sekitar 4 denyut per menit.

Penggunaan kronis juga dikaitkan dengan gangguan vasodilatasi endotel dan perubahan awal yang berhubungan dengan aterosklerosis.

Memang, tidak berarti setiap orang yang pernah menggunakan vape akan mengalami penyakit jantung. Namun, vape tetap bisa berefek buruk pada sistem kardiovaskular, terutama jika penggunaannya menjadi kebiasaan bertahun-tahun.

2. Begadang terus-menerus dan menganggap utang tidur bisa dibayar

Seorang pria duduk di sofa pada malam hari sambil menonton televisi, menggambarkan kebiasaan begadang.
ilustrasi begadang nonton TV (pexels.com/Ron Lach)

Satu episode lagi, beberapa video pendek lagi, atau menyelesaikan pekerjaan hingga larut mudah membuat waktu tidur bergeser makin jauh.

Padahal, orang dewasa dianjurkan memperoleh sekitar 7–9 jam tidur per malam, sedangkan remaja usia 13–18 tahun butuh sekitar 8–10 jam.

Kurang tidur dapat memengaruhi tekanan darah, regulasi gula darah, berat badan, sistem saraf otonom, dan fungsi pembuluh darah. Bahkan efek jangka pendek dapat terukur.

Dalam penelitian terhadap 42 orang dewasa muda sehat, satu malam kurang tidur meningkatkan tekanan darah sistolik perifer, pulse pressure, cardiac output, serta pulse wave velocity, salah satu ukuran kekakuan arteri.

Satu malam kurang tidur biasanya bukan masalah besar. Namun, yang perlu dikhawatirkan adalah pola kurang tidur yang menjadi rutinitas dan disertai faktor risiko lain seperti kurang gerak, pola makan buruk, dan penggunaan nikotin.

Tidur juga bukan cuma durasi. Waktu tidur yang tidak teratur dan kualitas tidur yang buruk ikut menjadi perhatian dalam kesehatan jantung.

3. Duduk berjam-jam di depan layar meski sesekali olahraga

Kuliah, bekerja, bermain game, streaming, dan scrolling dapat membuat seseorang duduk atau rebahan dalam waktu lama.

Yang jadi persoalan, olahraga beberapa kali seminggu tidak sepenuhnya menghapus risiko dari duduk terlalu lama setiap hari. WHO memperkirakan sekitar 31 persen orang dewasa dan 80 persen remaja di dunia aktivitas fisiknya belum cukup.

Studi CARDIA mengikuti lebih dari 4.300 orang sejak dewasa muda. Temuannya, setiap tambahan satu jam menonton TV per hari pada usia sekitar 23 tahun dikaitkan dengan risiko 26 persen lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner dan 16 persen lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular prematur selama masa tindak lanjut.

Studi lain dari kelompok yang sama menemukan setiap satu jam tambahan menonton TV pada usia 23 tahun berkaitan dengan kemungkinan lebih tinggi mengalami hipertensi, diabetes, trigliserida tinggi, dislipidemia, dan obesitas ketika beranjak ke usia paruh baya.

Orang dewasa disarankan melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu dan mengurangi waktu sedenter untuk kesehatan kardiovaskular dan mencegah banyak penyakit tidak menular lainnya.

Untuk pekerjaan yang memang menuntut duduk lama, menyelinginya dengan berdiri dan bergerak secara berkala dapat membantu.

4. Terlalu sering mengonsumsi minuman manis dan makanan ultraproses

Ilustrasi segelas minuman manis berwarna cerah sebagai gambaran konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi.
ilustrasi minum minuman manis (magnific.com/magnific)

Es kopi dengan sirop, teh susu, soda, minuman energi, makanan kemasan, dan menu cepat saji begitu mudah masuk ke dalam pola makan harian. Ketika minuman berpemanis dan makanan ultraproses mendominasi pola makan, efeknya dapat terlihat pada berat badan, gula darah, trigliserida, tekanan darah, hingga risiko kardiovaskular jangka panjang.

Studi prospektif terhadap 288.747 orang usia 20–39 tahun menemukan konsumsi minuman berpemanis sebanyak dua porsi atau lebih per hari dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 59 persen lebih tinggi dibanding tingkat konsumsi yang lebih rendah.

Sebuah metaanalisis tahun 2024 yang menggabungkan 20 penelitian dengan lebih dari 1,1 juta peserta menemukan hubungan dosis-respons, yaitu setiap tambahan satu porsi makanan ultra proses per hari dikaitkan dengan kenaikan risiko kejadian kardiovaskular sekitar 2,2 persen. Kelompok dengan proporsi konsumsi tertinggi memiliki risiko sekitar 21 persen lebih tinggi dibanding kelompok terendah dalam analisis berdasarkan berat makanan.

Jadi, usia muda tidak kebal dari risiko kardiovaskular. Penggunaan vape, kurang tidur, terlalu banyak duduk, serta pola makan yang didominasi minuman berpemanis dan makanan ultraproses menjadi relevan dapat berisiko bagi kesehatan.

Kabar baiknya, tidak terlambat untuk segera mengubah kebiasaan buruk di atas. Orang dewasa muda yang memperbaiki kebiasaan sehat selama perjalanan menuju usia paruh baya kemungkinannya lebih rendah mengalami tanda aterosklerosis dibanding mereka yang kebiasaan sehatnya memburuk.

Referensi

Fangqi Guo et al., “Association Between Cardiovascular Health and Subclinical Atherosclerosis Among Young Adults Using the American Heart Association's ‘Life's Essential 8’ Metrics,” Journal of the American Heart Association 13, no. 15 (2024): e033990, doi:10.1161/JAHA.123.033990.

World Health Organization Indonesia, “WHO Calls for Bold Moves to Protect the Next Generation from Tobacco and Nicotine,” diakses Agustus 2026.

Carmen Ranchal-Lavela et al., “Time- and Dose-Dependent Cardiovascular Effects of Nicotine-Containing Electronic Cigarettes in Young Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Toxics 13, no. 10 (2025): 831, doi:10.3390/toxics13100831.

American Heart Association, “Life's Essential 8: How to Get Healthy Sleep,” diakses Agustus 2026.

Murat Sunbul et al., “Acute Sleep Deprivation Is Associated with Increased Arterial Stiffness in Healthy Young Adults,” Sleep and Breathing 18, no. 1 (2014): 215–20, doi:10.1007/s11325-013-0873-9.

Jason M. Nagata et al., “Television Viewing from Young Adulthood to Middle Age and Premature Cardiovascular Disease Events: A Prospective Cohort Study,” Journal of General Internal Medicine 39 (2024): 2780–87, doi:10.1007/s11606-024-08951-z.

Chien-Hua Chen et al., “Association of Sugar-Sweetened Beverages and Cardiovascular Diseases Mortality in a Large Young Cohort of Nearly 300,000 Adults (Age 20–39),” Nutrients 14, no. 13 (2022): 2720, doi:10.3390/nu14132720.

Yang Qu et al., “Ultra-Processed Food Consumption and Risk of Cardiovascular Events: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis,” EClinicalMedicine 69 (2024): 102484, doi:10.1016/j.eclinm.2024.102484.

Bonnie Spring et al., “Healthy Lifestyle Change and Subclinical Atherosclerosis in Young Adults: Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA) Study,” Circulation 130, no. 1 (2014): 10–17.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More