Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Seperti Apa Jantung Berdebar yang Mengarah ke Aritmia?

Seperti Apa Jantung Berdebar yang Mengarah ke Aritmia?
ilustrasi jantung berdebar (IDN Times/NRF)
  • Jantung berdebar atau palpitasi adalah gejala, bukan diagnosis. Tidak semua sensasi berdebar disebabkan oleh aritmia.

  • Palpitasi yang mulai dan berhenti mendadak, terasa sangat cepat atau tidak teratur, berulang, dan terjadi tanpa pemicu yang jelas lebih perlu dicurigai sebagai gangguan irama jantung.

  • Berdebar yang disertai nyeri dada, sesak napas, hampir pingsan, atau pingsan memerlukan pertolongan medis segera.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Suatu hari kamu merasa jantung berdebar kencang saat sedang duduk. Beberapa detik kemudian, detaknya kembali seperti biasa. Di hari lain, dada terasa seperti bergetar, berdentum keras, atau ada satu detak yang terasa seperti terlewat.

Semua sensasi itu termasuk palpitasi atau jantung berdebar. Namun, palpitasi berbeda dengan aritmia. Stres, kurang tidur, olahraga, kafein, alkohol, hingga beberapa obat juga dapat membuat detak jantung terasa lebih jelas. Aritmia berarti ada gangguan pada irama atau kecepatan denyut jantung, dan sensasinya saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis.

Penelitian tahun 2026 yang menganalisis lebih dari 1,1 juta rekaman pemantauan elektrokardiogram (EKG) jangka panjang menemukan bahwa korelasi antara gejala yang dilaporkan pasien dan kejadian aritmia hanya sekitar 18,3 persen secara keseluruhan. Ini bisa berarti jantung berdebar tidak selalu terjadi bersamaan dengan aritmia dan sebaliknya, sebagian aritmia bisa tanpa gejala.

  1. Jantung berdebar secara tiba-tiba

    Salah satu pola yang cukup khas adalah jantung yang tiba-tiba berdetak sangat cepat, kemudian kembali normal sama mendadaknya.

    Pedoman European Society of Cardiology (ESC) menjelaskan bahwa onset dan berhentinya palpitasi secara tiba-tiba, terutama jika denyut terasa cepat dan teratur, dapat mengarah pada jenis takikardia supraventrikular (SVT) tertentu seperti atrioventricular nodal re-entrant tachycardia (AVNRT) atau atrioventricular re-entrant tachycardia (AVRT).

    Sensasinya berbeda dari denyut yang perlahan meningkat ketika berlari atau sedang cemas, lalu perlahan kembali normal. Meski demikian, tanpa EKG, pola tersebut tetap tidak dapat menentukan jenis aritmia.

  2. Waspadai juga detak yang terasa benar-benar tidak teratur

    Ilustrasi jantung berdebar dengan visual detak jantung berwarna merah yang menyoroti area dada seseorang.
    ilustrasi jantung berdebar (pexels.com/Puwadon Sang-ngern)

    Aritmia tidak selalu terasa seperti jantung berdebar kencang. Pada fibrilasi atrium (AF), misalnya, denyut dapat terasa tidak teratur atau kacau.

    Palpitasi merupakan salah satu gejalanya, tetapi sebagian orang juga mengalami cepat lelah, sesak napas, pusing, hampir pingsan, atau bahkan tidak merasakan gejala apa pun.

    Karena itu, sensasi "lompat" pada jantung sesekali saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami AF atau aritmia berbahaya. Yang lebih penting diperhatikan adalah pola berulang, durasi, keteraturan denyut, pemicu, dan gejala yang muncul bersamaan.

    Diagnosis AF memerlukan dokumentasi aktivitas listrik jantung menggunakan EKG.

  3. Perhatikan gejala penyerta

    Jantung berdebar menjadi lebih mengkhawatirkan ketika tubuh mulai menunjukkan bahwa sirkulasi darah mungkin ikut terganggu.

    Cari pertolongan medis segera apabila jantung berdebar yang sedang berlangsung disertai nyeri dada, sesak napas, merasa akan pingsan, atau sampai kehilangan kesadaran. Gejala seperti pusing berat atau hampir pingsan juga dikenal dapat menyertai sejumlah SVT.

    Jantung berdebar yang terus berulang, makin sering, atau berlangsung lebih lama juga sebaiknya diperiksakan ke dokter, terlebih jika ada penyakit jantung atau riwayat gangguan jantung dalam keluarga.

    Jika jantung berdebar cuma muncul sesekali, hasil EKG bisa saja terlihat normal karena episode sudah berhenti. Dalam kondisi seperti ini, dokter dapat menggunakan monitor Holter, event monitor, atau alat pemantauan EKG jangka lebih panjang untuk mencari hubungan antara gejala dan irama jantung.

    Jadi, catat kapan gejala dimulai, berapa lama berlangsung, apakah mulai dan berhenti mendadak, terasa teratur atau tidak, apa yang sedang dilakukan saat itu, serta apakah disertai sesak, nyeri dada, atau pusing. Informasi ini bisa membantu dokter menentukan pemeriksaan yang tepat.

    Referensi

    Jonathan S. Steinberg et al., “2017 ISHNE-HRS Expert Consensus Statement on Ambulatory ECG and External Cardiac Monitoring/Telemetry,” Heart Rhythm 14, no. 7 (2017): e55–e96, https://doi.org/10.1016/j.hrthm.2017.03.038.

    Anthony J. Battisti, Relana Pinkerton, Vladimir Fokin, Brent Wright, Jay Alexander, Ronald G. Berger, and Mintu P. Turakhia, “Relationship of Symptom Frequency and Symptom-Rhythm Correlation to Arrhythmia Type and Time to Detection: Insights from Ambulatory Electrocardiogram Monitoring in Over 1 Million Patients,” Heart Rhythm 23, no. 2 (2026): e200–e208, https://doi.org/10.1016/j.hrthm.2025.11.007.

    Josep Brugada et al., “2019 ESC Guidelines for the Management of Patients with Supraventricular Tachycardia: The Task Force for the Management of Patients with Supraventricular Tachycardia of the European Society of Cardiology (ESC),” European Heart Journal 41, no. 5 (2020): 655–720, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehz467.

    Isabelle C. Van Gelder et al., “2024 ESC Guidelines for the Management of Atrial Fibrillation Developed in Collaboration with the European Association for Cardio-Thoracic Surgery (EACTS),” European Heart Journal 45, no. 36 (2024): 3314–3414, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae176.

    National Health Service, “Heart Palpitations,” diakses Agustus 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More