Seorang kader posyandu satelit (Poslit) RT 06/RW III Lamper Tengah, Semarang saat mengukur lingkar lengan balita laki-laki untuk menentukan validasi data tumbuh kembang anak. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Langkah paling penting adalah ukur dan catat pertumbuhan anak secara berkala. Berat badan dan tinggi badan perlu diplot ke kurva pertumbuhan. Kalau cuma menimbang berat badan tanpa mengukur tinggi badan, stunting atau wasting bisa terlewat.
Orang tua sebaiknya membawa anak ke posyandu, puskesmas, atau dokter anak jika berat badan tidak naik sesuai grafik, tinggi badan tampak tertinggal, anak sangat kurus, sering sakit, sulit makan berkepanjangan, atau perkembangan anak tampak terlambat.
Jangan langsung menyimpulkan anak kurang makan lalu hanya menambah porsi nasi. Anak mungkin butuh evaluasi pola makan, kualitas MPASI, asupan protein dan mikronutrien, infeksi berulang, anemia, TBC, cacingan, atau masalah penyerapan makanan. Kuncinya bukan cuma anak kenyang, tetapi membantu tubuhnya tumbuh sesuai kebutuhan usia.
Referensi
World Health Organization (WHO). “Malnutrition.” Diakses Juli 2026.
WHO. “Malnutrition in Children.” Diakses Juli 2026.
UNICEF Data. “Malnutrition in Children.” Diakses Juli 2026.
WHO. “Joint Child Malnutrition Estimates (UNICEF-WHO-WB).” Diakses Juli 2026.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. "Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak." Diakses Juli 2026.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. “Kurva Pertumbuhan WHO.” Diakses Juli 2026.
UNICEF Indonesia. “Nutrition.” Diakses Juli 2026.