Vogel, Julia Moore, Trevor Jenkins, Marta Cerda, Hillary Chen, Jason Goldman, Stuart D. Katz, Thomas F. Patterson, et al. “Sustained Reduction in Cardiopulmonary Fitness in Long COVID: A Report from the RECOVER-Adult Cohort Study.” JACC: Advances 5, no. 7 (2026): 102923. https://doi.org/10.1016/j.jacadv.2026.102923.
Holohan, Meghan. “Having Long COVID Worsens Heart-Related Fitness, Study Finds.” CIDRAP. Diakses Juli 2026.
World Health Organization. “Post COVID-19 Condition (Long COVID).” Diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “Long COVID Signs and Symptoms.” Diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “Long COVID Clinical Guidance.” Diakses Juli 2026.
American College of Cardiology. “ACC Issues Clinical Guidance on CV Consequences of COVID-19.” Diakses Juli 2026.
Studi: Long COVID Bisa Turunkan Kebugaran Jantung-Paru

Studi baru menemukan bahwa beban gejala long COVID yang lebih tinggi berkaitan dengan kebugaran kardiopulmoner yang lebih buruk.
Peserta dengan gejala long COVID lebih banyak cenderung memiliki langkah harian lebih sedikit, waktu aktif lebih rendah, heart rate variability lebih rendah, dan denyut jantung istirahat lebih tinggi.
Orang dengan long COVID tidak disarankan memaksa olahraga berat. Jika ada sesak, nyeri dada, jantung berdebar, atau gejala memburuk setelah aktivitas, sebaiknya berkonsultasi ke tenaga kesehatan.
Lelah setelah beraktivitas itu wajar, apalagi setelah sakit. Namun, pada sebagian orang yang mengalami long COVID, aktivitas ringan bisa terasa jauh lebih berat, jantung lebih mudah berdebar, napas terasa pendek, dan pemulihan tubuh menjadi lebih lama.
Sebuah studi baru dalam jurnal JACC: Advances menambah bukti bahwa long COVID berkaitan dengan penurunan kebugaran kardiopulmoner atau kebugaran jantung-paru.
Penelitian ini berasal dari RECOVER Adult Cohort Study dan menganalisis data perangkat wearable selama 6 bulan pada 1.475 peserta, setidaknya 6 bulan setelah infeksi SARS-CoV-2. Rata-rata peserta berada sekitar 21 bulan setelah infeksi saat dianalisis.
Table of Content
1. Temuan studi
Para peneliti membandingkan peserta dengan beban gejala long COVID yang tinggi dan rendah berdasarkan Long COVID Research Index. Dari 1.475 peserta, 498 orang atau 34 persen masuk kelompok dengan beban gejala tinggi. Dibandingkan dengan kelompok dengan gejala lebih rendah, kelompok ini memiliki beberapa tanda kebugaran kardiopulmoner yang lebih buruk.
Mereka memiliki heart rate variability (HRV) yang lebih rendah, denyut jantung istirahat lebih tinggi, jumlah langkah harian lebih sedikit, waktu aktif lebih rendah, dan lebih sedikit aktivitas yang setara dengan pengeluaran energi. Secara angka, kelompok dengan beban gejala tinggi memiliki HRV lebih rendah sekitar 4,4 milidetik, denyut jantung istirahat lebih tinggi 1,5 kali per menit, dan langkah harian lebih rendah sekitar 1.624 langkah per hari.
Temuan ini menunjukkan hubungan antara beban gejala long COVID yang tinggi dan indikator objektif gangguan kebugaran kardiopulmoner. Namun, para peneliti juga menekankan perlunya studi lanjutan untuk mengetahui apakah long COVID benar-benar menjadi faktor risiko baru untuk penyakit jantung-paru di masa depan.
2. Kenapa ini penting?

Kebugaran jantung-paru menggambarkan seberapa baik jantung, paru-paru, pembuluh darah, dan otot bekerja sama saat tubuh bergerak. Jika sistem ini terganggu, aktivitas yang dulu terasa biasa—naik tangga, berjalan agak cepat, beres-beres rumah, atau olahraga ringan—bisa terasa lebih melelahkan.
Para peneliti menulis bahwa pada populasi long COVID, penurunan aktivitas bisa mencerminkan gabungan antara kapasitas olahraga yang terbatas dan upaya sengaja untuk mengatur energi agar tidak memicu post-exertional malaise (gejala memburuk setelah aktivitas fisik atau mental, biasanya 12–48 jam setelah aktivitas, dan dapat bertahan selama beberapa hari atau minggu).
Data wearable dalam studi ini belum bisa membedakan secara pasti apakah kebugaran yang lebih rendah disebabkan gangguan fisiologis, pembatasan aktivitas secara sadar, atau kombinasi keduanya.
Ini penting karena long COVID memang bisa memunculkan gejala yang naik turun dan sulit dijelaskan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut long COVID biasanya muncul dalam 3 bulan setelah infeksi awal, berlangsung setidaknya 2 bulan, dan dapat mengganggu aktivitas harian, pekerjaan, serta partisipasi sosial. Gejala umumnya termasuk kelelahan, sesak, nyeri otot atau sendi, gangguan tidur, post-exertional malaise, nyeri dada, jantung berdebar, pusing saat berdiri, dan brain fog di antara gejala lainnya.
3. Apa yang sebaiknya dilakukan jika merasa cepat lelah setelah COVID?
Langkah pertama adalah tidak memaksa tubuh kembali ke pola latihan sebelumnya terlalu cepat. Jika setelah COVID tubuh terasa mudah drop, jantung sering berdebar, sesak, pusing saat berdiri, atau gejala memburuk 1–2 hari setelah aktivitas, olahraga berat bisa memperparah keluhan pada sebagian orang.
Pendekatan yang lebih aman adalah mengatur aktivitas sesuai kapasitas energi saat ini. Mulai dari aktivitas ringan, beri jeda istirahat, catat pemicu gejala, dan naikkan durasi secara perlahan hanya jika tubuh merespons baik. Untuk orang yang mengalami post-exertional malaise, targetnya adalah mencegah energi drop setelah beraktivitas.
Pasien long COVID dengan gejala kardiovaskular disarankan menjalani evaluasi sesuai keluhan. Ini dapat mencakup pemeriksaan laboratorium, EKG, ekokardiogram, pemantauan irama jantung, atau pemeriksaan paru.
Untuk takikardia dan intoleransi olahraga, sarannya latihan dimulai dengan intensitas rendah dan dapat mempertimbangkan latihan posisi rebahan atau semi rebahan, seperti sepeda statis, rowing, atau berenang, sebelum kembali ke latihan berdiri seperti jalan cepat atau joging.
Segera periksa jika setelah COVID-19 muncul nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, jantung berdebar hebat, pingsan, pusing saat berdiri, atau kelelahan berat yang tidak membaik.
Referensi




![[QUIZ] Apakah Kamu Memenuhi Syarat untuk Mendonorkan Darah?](https://image.idntimes.com/post/20260308/upload_5a12a51237ef2cb871107644060f6914_d303c76d-f657-49f2-9ff5-36a8518454a0.png)

![[QUIZ] Cari Tahu Penyebab Haid Kamu Terlambat](https://image.idntimes.com/post/20250418/30253-6b5bec1097fe3f200f4a21114e852700-e6e777673b28f7a4c5db7ceccc415baf.jpg)







![[QUIZ] Mitos atau Fakta: Uji Pengetahuanmu tentang Lari Interval!](https://image.idntimes.com/post/20260710/upload_458ef4f6ebcaec66d64bac800be78a4f_2c7f274f-590a-4ae7-bca9-c80737341e3e.jpg)
![[QUIZ] Kami Bisa Tebak Risiko Penyakit dari Cara Kamu Makan Mi Instan](https://image.idntimes.com/post/20250905/menu-kekinian-yang-sering-dijumpai-di-acara-pernikahan-gen-z-mie-instan_9fbc0e88-bc32-4c7d-aa54-6d2d485c6fb5.jpg)


